[Book Review]: Misteri Anak Jagung

17675545

Judul buku: Misteri Anak Jagung

Penulis: Wylvera W.

Penerbit: PT Penerbit Pelangi Indonesia

Cetakan: Pertama, Januari 2013

Tebal: 197 halaman

Kebanyakan anak-anak pada usia sekolah terutama saat duduk di bangku Sekolah Dasar dan Sekolah Menengah Pertama, memiliki kecenderungan menyukai hal-hal berbau misteri. Mereka selalu ingin mengasah jiwa detektifnya untuk memecahkan berbagai persoalan dan kasus yang berada di sekitarnya.

Kehadiran buku remaja bertema misteri tentu akan diminati banyak remaja seperti serial Lima Sekawan atau Pasukan Mau Tahu yang terkenal itu. Ternyata di Indonesia pun banyak juga penulis lokal yang senang menulis cerita misteri seperti buku ini.

Gantari seorang siswi sekolah dasar di Star Elementary School Urbana, Amerika Serikat. Gantari berasal dari kota Medan Sumatera Utara, namun telah enam bulan menetap di Urbana bersama ayah, ibu dan seorang adik perempuan bernama Eka. Mereka harus mengikuti sang ayah yang tengah mengambil beasiswa pendidikan di sana.

Selama bersekolah di Star Elementary School, Gantari hanya memiliki teman dekat Delia seorang anak perempuan berkerudung yang juga berasal dari Indonesia. Gantari ingin sekali memiliki teman dekat lainnya terutama yang berasal dari Urbana. Sampai suatu hari mereka berdua berkenalan dengan Aldwin, seorang anak anak blasteran Jawa-Inggris. Aldwin tinggal di apartemen yang berdekatan dengan apartemen keluarga Gantari.

Gantari adalah seorang anak istimewa, selain pintar dalam pelajaran di sekolah ia pun memiliki kelebihan khusus yaitu mampu membaca dan melihat apa yang akan terjadi. Karena seringnya kata-kata Gantari benar terjadi, keluarga menjulukinya ‘anak dukun’. Gantari tidak merasa keberatan dengan julukan itu.

Saat di Medan, Gantari sering mendengar kisah tentang Anak Jagung yang diceritakan oleh neneknya. Di rumah mereka di Medan banyak terdapat ladang jagung milik penduduk yang menjadi sumber mata pencaharian keluarga. Gantari sangat penasaran dengan misteri anak jagung tersebut. Ia selalu berpikir bahwa cerita yang dikisahkan neneknya sungguh benar adanya.

Selama kedekatannya dengan Aldwin ia menemukan bahwa temannya itu menyimpan rahasia, terutama tentang Robin yang sering diceritakan Aldwin namun tak pernah dikenalkan wujudnya.

Dalam pencahariannya memecahkan misteri keberadaan anak jagung, Gantari menemukan kenyataan yang mengejutkan tentang kisah persahabatan Aldwin dan Robin bahkan usahanya itu hampir saja merenggut nyawa Gantari dan Aldwin.

Buku yang menarik ini mengangkat cerita setengah tradisional setengah modern dalam perpaduan dua lokasi yang berbeda. Penulis sempat memaparkan bahwa tokohnya heran dengan suasana kota kecil Urbana yang jauh dari bayangannya tentang Amerika Serikat dengan gedung-gedung tinggi. Kenyataannya kota ini sama dengan suasana di kota asalnya di Medan. Meski sempat bingung di daerah mana ya di Medan yang banyak ladang jagungnya?

Beberapa dialog dalam bahasa Inggris adalah kalimat-kalimat sederhana yang tidak sulit dipahami untuk anak usia remaja. Pemecahan misterinya pun cukup sederhana meski cukup mencekam di tengah cerita. Namun penulis dengan cerdik mengakhiri ceritanya pada ending menggantung yang merupakan favorit banyak orang, akankah ada lanjutan dari kisah anak jagung selanjutnya?

 

 

Advertisements

[Book Review]: Katarsis

17786536

Judul: Katarsis

Penulis: Anastasia Aemilia

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

Cetakan: pertama, April 2013

Tebal: 261 halaman

Harga: Rp. 45,000

Tara, seorang gadis dari keluarga Johandi yang menjadi salah satu korban selamat pada perampokan dan pembunuhan sadis di rumah pamannya, Arif Johandi. Ia ditemukan dalam keadaan syok berat tersekap di dalam sebuah kotak perkakas kayu.

Korban lainnya adalah Bara Johandi ayah Tara, Sasi Johandi istri dari Arif Johandi. Sementara itu Moses Johandi yang merupakan anak laki-laki dari Arif dan Sasi ditemukan potongan tubuhnya sebagai korban mutilasi. Saat kejadian ditemukan dua orang yang dicurigai melakukan perampokan dan pembunuhan tersebut Martin dan Andita yang akhirnya ditangkap dan dipenjara.

Tara sejak kecil mengidap sebuah kelainan. Ia membenci nama Tara Johandi yang diberikan oleh kedua orang tuanya Bara dan Tari. Ia pun tak mau memanggil kedua orang tuanya dengan sebutan ayah dan ibu. Tari meninggal saat Tara masih kecil. Ia jatuh dari tangga pada sebuah kecelakaan yang disebabkan leh Tara dan Bara yang tak tahan dengan tingkah Tara yang dianggapnya keterlaluan nakal bahkan agak aneh, akhirnya menitipkan Tara di rumah adiknya Arif Johandi.

Keanehan yang dimiliki Tara tak hanya itu, ia pun mengidap ketergantungan terhadap sebuah koin lima rupiah yang selalu digenggamnya bahkan meninggalkan bekas lingkaran di telapak tangan. Ia mendapatkan koin itu dari seorang anak laki-laki yang ditemuinya di taman bermain. Menurut anak laki-laki itu, kalau sedang merasakan sakit maka ia harus memegang koin itu agar hilang sakitnya.

Keanehan-keanehan Tara menyebabkan Arif dan Sasi membawanya ke seorang psikiater yang membuat Tara mengenal Alfons. Psikiater muda ini dengan telaten melakukan terapi pada Tara dan menganggap bahwa keanehan yang dimiliki Tara hanyalah karena ketergantungannya pada koin lima rupiah itu.

Alfons membawa Tara ke rumah sakit jiwa setelah ia ditemukan dalam kotak perkakas kayu. Ia merawat Tara dan akhirnya membawanya pulang. Saat dalam masa terapi itu muncullah Ello yang ternyata adalah anak laki-laki kecil yang pernah memberikan koin lima rupiah pada Tara di masa lalu.

Sementara polisi menduga bahwa pembunuh sadis yang sebelumnya menyerang keluarga Johandi telah mereka penjarakan, bersama dengan kemunculan Ello ditemukan pula kasus pembunuhan berantai dengan korban yang disekap dalam kotak perkakas kayu dan koin lima rupiah.

Lalu siapakah pembunuh keluarga Johandi yang sebenarnya? Apakah Tara ada hubungannya dengan pembunuhan berantai yang melibatkan kotak perkakas kayu?

***

Gembira rasanya ketika menemukan penulis lokal yang mengangkat tema misteri-thriller karena tak banyak yang bisa menulis dengan tema ini. Tokoh Tara yang unik dan memiliki kelainan jiwa menjadi karakter kuat dalam alur cerita.

Pemaparan cerita dengan alur sangat menarik sehingga kita tak sabar untuk mengetahui siapa dalang di balik pembunuhan yang terjadi.

Namun yang agak kurang dipahami adalah mengapa sang pembunuh memilih kotak perkakas kayu sebagai tempat akhir untuk menyimpan korban-korbannya? Tidak ada latar belakang untuk masalah ini yang dijelaskan di akhir cerita.

[Book Review]: The Hunter

17154732

Title: THE HUNTER (Pemburu)

Author: Asa Nonami

Publisher: Gramedia Pustaka Utama

Pages: 536 pages

Started: April 7th, 2013

Finished: April 7th, 2013

Detektif Takako Otomichi adalah seorang opsir polisi perempuan yang sebelumnya berada di divisi polisi lalu lintas sebagai polisi patroli sepeda motor (dengan julukan kadal). Ketika ia meminta pindah ke departemen kriminal, bukan hanya tatapan aneh dari beberapa rekan polisi laki-laki saja yang ia hadapi namun juga dari keluarga dan suaminya yang akhirnya berselingkuh dan ia tinggalkan.

Detektif Otomichi menghadapi sebuah kasus pembunuhan berantai yang sangat rumit di daerah Tachikawa. Mulanya dari satu kasus kebakaran di sebuah restoran keluarga yang menewaskan Teruo Hara, lalu ditemukannya mayat seorang laki-laki dan seorang perempuan yang diduga telah diserang seekor anjing besar di dua lokasi berbeda.

Bila dilihat penyebab-penyebabnya kasus pertama dan kedua sepertinya tidak berkaitan namun ternyata tidak. Kenyataan bahwa tersangka pembunuhan ini kemungkinan adalah seekor anjing serigala membuat kasus yang dihadapi detektif Otomichi begitu menguras pikiran dan tenaganya. Belum lagi partner kerjanya seorang polisi laki-laki senior yang sangat anti dengan perempuan. Otomichi harus menghadapi sikap dingin dan tatapan melecehkan dari detektif Takizawa yang menganggap bahwa profesi itu tak pantas untuk perempuan.

Otomichi yang ditentang sejak awal oleh ibunya menjadi polisi juga harus menghadapi masalah keluarga. Adik perempuannya yang selama ini terlihat kekanakan ternyata mulai berpacaran dengan lelaki beristri. Masalah keluarga dan pribadi yang pelik itu pun harus ditambah dengan pengejarannya bersama team untuk mendapatkan Topan, sang anjing serigala.

***

Buku ini menceritakan dengan sangat detail pemecahan sebuah kasus yang dihadapi oleh seorang detektif. Paparan yang menarik dilataribelakangi emosi dan penggambaran karakter tokoh dengan sangat jelas. Meski pemecahannya sudah diketahui di tengah-tengah buku namun tetap menarik untuk dibaca sampai akhir.

Buku ini juga menggambarkan dengan jelas bahwa perempuan memiliki kekuatan di dalam dirinya untuk berjuang melawan pelecehan sikap dari kaum lelaki meski dalam bentuk terkecil sekalipun. Tokoh Otomichi digambarkan sebagai sosok perempuan yang meski terlihat feminin di luar namun tangguh dalam kenyataannya.

[Book Review]: KUBAH – Dosa Sejarah Tak Mampu Menghilangkan Kemanusiaan Seseorang

15990306

Judul Buku: KUBAH
Penulis: Ahmad Tohari

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

Tebal: 211 Halaman

Cetakan: Keempat, September 2012

ISBN: 978-979-22-8774-5

Harga: Rp. 38,000

Start: 27 Maret 2013, 20.00 wib

Finish: 28 Maret 2013, 02.00 wib

“Sebelum datang kematian, setiap orang akan mengalami satu di antara tiga cobaan: sulit mendapat rejeki, kesehatan yang buruk, dan hilangnya orang-orang terdekat. Namun apabila kamu percaya dan berserah diri kepada Tuhan maka jalan keluar selalu tersedia. Jadi, hanya kepercayaan terhadap kebesaran dan kasih sayangNya yang bisa membuat kamu tenang, tak merasa sia-sia.” (hal: 27)

Tentu tak mudah menjadi seorang mantan tahanan politik yang pernah terlibat sebuah partai komunis pemberontak di negara Republik ini. Selama dua belas tahun Karman terasing dalam tahanan di Pulau Buru meninggalkan istri dan ketiga orang anak di sebuah desa kecil bernama Pegaten. Karman merasa tak siap saat tiba hari kebebasannya.

Bukan hanya karena ia tak sanggup menerima sikap yang akan dihadapinya dari penduduk desa yang dulu ia khianati dengan pemberontakannya bersama partai komunis tersebut. Ia lebih takut menghadapi kenyataan tentang istrinya yang telah menikah lagi dan bagaimana sambutan dari anak-anaknya.

Keterlibatan Karman menjadi penggiat dalam partai komunis bukanlah sebuah proses sederhana dan singkat. Di masa kecilnya, Karman yang seorang anak mantri pasar dengan penghasilan lebih harus menerima kenyataan akibat perang yang terjadi pada masa pendudukan Jepang. Keadaan pangan yang sulit dan kemarau berkepanjangan menyebabkan Pak Mantri rela menukar satu setengah hektar sawahnya dengan padi milik Haji Bakir.

Saat berdirinya Republik, Pak Mantri yang pro pemerintah Belanda tak pernah terlihat lagi setelah dibawa ke hutan oleh penduduk setempat. Sejak itu Karman dan adiknya hanya memiliki ibu mereka yang tak punya apa-apa.

Kemiskinan Karman dan adiknya menggugah iba Haji Bakir seorang pedagang kaya di Pegaten. Ia memberi pekerjaan pada Karman kecil dengan imbalan sekolah dan makanan. Karman yang pintar cepat berkembang menjadi pribadi yang selalu taat kepada Tuhan, rajin dan tekun. Selain membantu kegiatan sehari-hari di rumah Haji Bakir, Karman pun dipercaya menjaga anak perempuan Haji Bakir yang bernama Rifah. Saat ia menamatkan sekolah rakyat, Pamannya memutuskan untuk membiayai karman melanjutkan sekolahnya ke SMP.

Saat ia menamatkan pendidikan SMP, Karman sangat ingin melanjutkan sekolahnya namun Pamannya tak punya cukup biaya. Sementara Karman pun tak berhasil mendapatkan pekerjaan dengan ijazah SMP-nya. Di tengah kemelut itu, muncul Margo, seorang terpelajar yang sangat terpengaruh oleh pikiran-pikiran Muso yang merupakan penggerak makar pada pemberontakan besar di Madiun tahun 1948. Margo seorang berpembawaan menarik dan merupakan kader pilihan dari partai komunis yang tengah berkembang ingin menjatuhkan negara Republik yang masih berusia tiga tahun itu.

Partai ini membutuhkan kader pilihan selanjutnya untuk membesarkan propagandanya. Saat Margo mendengar pemuda pintar bernama Karman yang terhambat cita-citanya untuk melanjutkan sekolah dan tak berhasil mendapatkan pekerjaan, ia melakukan pendekatan secara halus pada titik lemah keinginan dan cita-cita pemuda itu. Kedekatan Karman dengan Haji Bakir dan perasaan cintanya pada Rifah bahkan tak menjadi sebuah soalan besar untuk menarik Karman bergabung dalam partai itu.

Setelah bebas dan bertemu keluarga adiknya, Karman memberanikan diri untuk kembali ke lingkungan masyarakat di desa kecilnya, ia memang harus menerima kenyataan bahwa istri yang dicintainya telah menjadi milik lelaki lain bahkan anaknya yang paling kecil, Tono telah tiada. Namun ia tak melihat kebencian dari orang-orang yang dulu ia tinggalkan. Rudio anak pertamanya yang telah menjadi remaja, Marni istrinya yang cantik yang kini memiliki dua anak lagi hasil pernikahannya dengan Parta, Pak Haji Bakir dan keluarganya, Ibu yang ia cintai, Paman Hasyim yang dulu pernah menyebutnya anak durhaka, Rifah yang saat itu telah memiliki putra yang akan mempersunting anaknya. Masyarakat desa Pegaten menerimanya dengan tangan terbuka meski ia seorang mantan tahanan politik bahkan pernah melupakan keberadaan Tuhan di dalam dirinya dengan menjadi penganut atheis.

Penghargaan atas rasa kemanusiaan yang diterima Karman membuat ia ingin mempersembahkan sebuah kubah masjid pengganti dari kubah yang telah menua dari masjid milik Haji Bakir. Karman dipercaya oleh Haji Bakir untuk membangun kubah masjid itu. Ia pun membuatnya dengan penuh perasaan dan kesungguhan. Ia ingin memberikan sesuatu sebagai rasa terima kasihnya pada penghargaan dan penerimaan masyarakat desa terhadap dirinya.

 

[Book Review]: Kue-Kue Cinta

17315884

 

Title:  Kue-Kue Cinta

Started on: February 20th, 2013

Finished on: March 10th, 2013

Author: Fita Chakra & Wylvera W

Publisher: PT Penerbitan Pelangi Indonesia

Pages: 224 pages

Awang dan Nining adalah dua bersaudara yang terlahir dari keluarga yang sederhana dan cenderung pas-pasan. Ayah Awang bekerja sebagai karyawan honorer di kantor kelurahan tempat tinggal mereka sedangkan ibunya hanyalah seorang ibu rumah tangga biasa yang setiap hari selalu memenuhi kewajibannya. Di rumah mereka yang kecil, ada Mpok Suminah yang telah ikut tinggal bersama mereka sejak Awang lahir, Mpok Suminah membantu keuangan keluarga itu dengan berjualan kue kecil-kecilan di sekitar rumah mereka.

Pada suatu hari ayah Awang terjangkit penyakit demam berdarah akibat lingkungan tempat tinggal mereka yang kotor, karena tak punya cukup uang untuk berobat dan kurangnya kesadaran tentang kesehatan akhirnya ayah mereka terlambat dibawa ke dokter dan akhirnya meninggal dunia. Saat itu Awang duduk di kelas 5 Sekolah Dasar dan Nining adiknya duduk di kelas 2. Saat ayah mereka masih ada dan berusaha mencari nafkah untuk mereka saja uang SPP sekolah Awang dan Nining sering menunggak, apalagi akhirnya ayah mereka telah tiada.

Ibu Awang sangat kebingungan karena ia tak punya pekerjaan, dengan ketiadaan suaminya otomatis ia harus menanggung kedua orang anaknya serta dirinya sendiri. Akhirnya ibu Awang memutuskan untuk berangkat ke negeri jiran Malaysia mengadukan nasibnya untuk bekerja sebagai TKI (Tenaga Kerja Indonesia) di sana. Ibu menitipkan Awang dan Nining pada Mpok Suminah yang telah dianggapnya sebagai keluarganya sendiri dan berpesan bahwa ia akan mengirimkan uang hasil kerjanya setiap bulan pada anak-anaknya.

Setelah beberapa bulan kepergian ibunya ke Malaysia, Awang dan Nining serta Mpok Suminah tak pernah menerima kabar apapun dari ibunya apalagi kiriman uang. Sementara itu Mpok Suminah berusaha keras membiayai kehidupan mereka dengan terus berjualan kue bahkan menambah kegiatannya dengan menjadi buruh cuci. Karena ketidakmampuan mereka akhirnya Awang dan Nining dikeluarkan dari sekolah padahal mereka adalah anak-anak yang cerdas dan berprestasi namun mereka tak mampu membayar uang SPP yang merupakan syarat yang wajib mereka bayar.

Awang sempat merasa sedih dan putus asa, ia merasa ibunya telah melupakannya karena tak satu kabar pun pernah sampai ke tangan mereka dan ibu tak pernah mengirim uang untuk keperluan mereka. Namun Awang akhirnya bangkit dan bertekad menerima cobaan yang datang pada dirinya dan keluarganya, ia mulai ikut membantu Mpok Suminah mencari nafkah dengan menjadi pengamen bersama Nining untuk bisa mengumpulkan uang membayar tunggakan SPP sekolah. Mereka mendapatkan banyak rintangan meski mereka pun mampu mengumpulkan uang sedikit demi sedikit dari hasil pekerjaan tersebut. Menjadi pengamen tak semudah bernyanyi dan menadahkan tangan untuk mengumpulkan uang, Awang harus menghadapi preman-preman jalanan yang merasa daerah kekuasaannya telah diambil.

Bagaimana nasib Awang dan Nining selanjutnya? Apakah mereka akan terus menerus mengamen atau akhirnya akan kembali ke sekolah? Benarkah ibu Awang telah melupakan mereka dan tak akan kembali lagi?

***

Ketika memutuskan untuk membeli atau membaca sebuah buku, yang pertama kali aku perhatikan adalah penulisnya. Ada beberapa penulis yang setiap bukunya pasti akan kubaca apapun judulnya, itu karena sang penulis telah kukenal sebagai penulis yang memiliki kualitas tulisan yang mengagumkan.

Hal kedua yang menjadi sebab aku akan membaca sebuah buku adalah judul dan cover bukunya. Hal ini berlaku pada buku Kue-Kue Cinta yang ditulis mba Wylvera (yang ternyata orang Medan ini) dan Fita CHakra.

Buku ini sangat menarik, judulnya eyecatching, gambar di covernya menarik dan cantik warnanya. Itu merupakan nilai yang penting ketika sebuah buku terdisplay di toko buku maupun di online shop. Lalu selanjutnya tentu resume cerita yang terdapat di bagian belakang buku.

Ketika membaca ceritanya aku sangat senang karena sulit menemukan seorang anak yang gigih seperti Awang. Betapa beban penderitaan yang harus ia lalui begitu besar di usianya yang baru 9 tahun. Mungkin tak sedikit yang mengalami penderitaan semacam Awang tapi apakah mereka mampu berpikiran positif seperti Awang? Belum tentu.

Buku ini sangat baik diperkenalkan kepada generasi muda saat ini yang cenderung kurang gigih, ingin meraih kesuksesan dengan cara instan semudah menuliskan status di media sosial. Mereka butuh diajarkan bahwa keputusasaan dan penderitaan mereka tak lebih besar dari penderitaan orang lain. Bahwa setiap kegagalan atau musibah tak harus diikuti dengan kemarahan atau duka yang berlarut-larut.

Namun yang menjadi pertanyaan saya adalah, untuk genre apakah novel ini ditujukan? Apakah anak-anak (karena ceritanya cenderung berkisah di masa SD), remaja atau dewasa? Jika memang lebih ke genre anak sepertinya kisah cinta sang ibu di negeri jiran tak perlu terlalu diekspos namun dengan posisi Awang dan Nining yang masih SD buku ini seperti berada pada genre yang serba tanggung, untuk anak-anak tapi ada kisah cintanya, untuk remaja tapi kisahnya anak-anak, untuk dewasa terkesan agak membosankan.

Tapi tetap secara keseluruhan buku ini bercerita dengan sangat asik dan memberi harapan.