[Book Review]: Kue-Kue Cinta

17315884

 

Title:  Kue-Kue Cinta

Started on: February 20th, 2013

Finished on: March 10th, 2013

Author: Fita Chakra & Wylvera W

Publisher: PT Penerbitan Pelangi Indonesia

Pages: 224 pages

Awang dan Nining adalah dua bersaudara yang terlahir dari keluarga yang sederhana dan cenderung pas-pasan. Ayah Awang bekerja sebagai karyawan honorer di kantor kelurahan tempat tinggal mereka sedangkan ibunya hanyalah seorang ibu rumah tangga biasa yang setiap hari selalu memenuhi kewajibannya. Di rumah mereka yang kecil, ada Mpok Suminah yang telah ikut tinggal bersama mereka sejak Awang lahir, Mpok Suminah membantu keuangan keluarga itu dengan berjualan kue kecil-kecilan di sekitar rumah mereka.

Pada suatu hari ayah Awang terjangkit penyakit demam berdarah akibat lingkungan tempat tinggal mereka yang kotor, karena tak punya cukup uang untuk berobat dan kurangnya kesadaran tentang kesehatan akhirnya ayah mereka terlambat dibawa ke dokter dan akhirnya meninggal dunia. Saat itu Awang duduk di kelas 5 Sekolah Dasar dan Nining adiknya duduk di kelas 2. Saat ayah mereka masih ada dan berusaha mencari nafkah untuk mereka saja uang SPP sekolah Awang dan Nining sering menunggak, apalagi akhirnya ayah mereka telah tiada.

Ibu Awang sangat kebingungan karena ia tak punya pekerjaan, dengan ketiadaan suaminya otomatis ia harus menanggung kedua orang anaknya serta dirinya sendiri. Akhirnya ibu Awang memutuskan untuk berangkat ke negeri jiran Malaysia mengadukan nasibnya untuk bekerja sebagai TKI (Tenaga Kerja Indonesia) di sana. Ibu menitipkan Awang dan Nining pada Mpok Suminah yang telah dianggapnya sebagai keluarganya sendiri dan berpesan bahwa ia akan mengirimkan uang hasil kerjanya setiap bulan pada anak-anaknya.

Setelah beberapa bulan kepergian ibunya ke Malaysia, Awang dan Nining serta Mpok Suminah tak pernah menerima kabar apapun dari ibunya apalagi kiriman uang. Sementara itu Mpok Suminah berusaha keras membiayai kehidupan mereka dengan terus berjualan kue bahkan menambah kegiatannya dengan menjadi buruh cuci. Karena ketidakmampuan mereka akhirnya Awang dan Nining dikeluarkan dari sekolah padahal mereka adalah anak-anak yang cerdas dan berprestasi namun mereka tak mampu membayar uang SPP yang merupakan syarat yang wajib mereka bayar.

Awang sempat merasa sedih dan putus asa, ia merasa ibunya telah melupakannya karena tak satu kabar pun pernah sampai ke tangan mereka dan ibu tak pernah mengirim uang untuk keperluan mereka. Namun Awang akhirnya bangkit dan bertekad menerima cobaan yang datang pada dirinya dan keluarganya, ia mulai ikut membantu Mpok Suminah mencari nafkah dengan menjadi pengamen bersama Nining untuk bisa mengumpulkan uang membayar tunggakan SPP sekolah. Mereka mendapatkan banyak rintangan meski mereka pun mampu mengumpulkan uang sedikit demi sedikit dari hasil pekerjaan tersebut. Menjadi pengamen tak semudah bernyanyi dan menadahkan tangan untuk mengumpulkan uang, Awang harus menghadapi preman-preman jalanan yang merasa daerah kekuasaannya telah diambil.

Bagaimana nasib Awang dan Nining selanjutnya? Apakah mereka akan terus menerus mengamen atau akhirnya akan kembali ke sekolah? Benarkah ibu Awang telah melupakan mereka dan tak akan kembali lagi?

***

Ketika memutuskan untuk membeli atau membaca sebuah buku, yang pertama kali aku perhatikan adalah penulisnya. Ada beberapa penulis yang setiap bukunya pasti akan kubaca apapun judulnya, itu karena sang penulis telah kukenal sebagai penulis yang memiliki kualitas tulisan yang mengagumkan.

Hal kedua yang menjadi sebab aku akan membaca sebuah buku adalah judul dan cover bukunya. Hal ini berlaku pada buku Kue-Kue Cinta yang ditulis mba Wylvera (yang ternyata orang Medan ini) dan Fita CHakra.

Buku ini sangat menarik, judulnya eyecatching, gambar di covernya menarik dan cantik warnanya. Itu merupakan nilai yang penting ketika sebuah buku terdisplay di toko buku maupun di online shop. Lalu selanjutnya tentu resume cerita yang terdapat di bagian belakang buku.

Ketika membaca ceritanya aku sangat senang karena sulit menemukan seorang anak yang gigih seperti Awang. Betapa beban penderitaan yang harus ia lalui begitu besar di usianya yang baru 9 tahun. Mungkin tak sedikit yang mengalami penderitaan semacam Awang tapi apakah mereka mampu berpikiran positif seperti Awang? Belum tentu.

Buku ini sangat baik diperkenalkan kepada generasi muda saat ini yang cenderung kurang gigih, ingin meraih kesuksesan dengan cara instan semudah menuliskan status di media sosial. Mereka butuh diajarkan bahwa keputusasaan dan penderitaan mereka tak lebih besar dari penderitaan orang lain. Bahwa setiap kegagalan atau musibah tak harus diikuti dengan kemarahan atau duka yang berlarut-larut.

Namun yang menjadi pertanyaan saya adalah, untuk genre apakah novel ini ditujukan? Apakah anak-anak (karena ceritanya cenderung berkisah di masa SD), remaja atau dewasa? Jika memang lebih ke genre anak sepertinya kisah cinta sang ibu di negeri jiran tak perlu terlalu diekspos namun dengan posisi Awang dan Nining yang masih SD buku ini seperti berada pada genre yang serba tanggung, untuk anak-anak tapi ada kisah cintanya, untuk remaja tapi kisahnya anak-anak, untuk dewasa terkesan agak membosankan.

Tapi tetap secara keseluruhan buku ini bercerita dengan sangat asik dan memberi harapan.

3 thoughts on “[Book Review]: Kue-Kue Cinta

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s