Semua Harus Prima

Dari judulnya aja awak dah ngeri-ngeri sedap bacanya ya kan. Tapi itulah tagline dari judul bukunya Pakdheku tersayang Abdul Cholik.

 

Buku-Dari-63-Menuju-1Jadi ceritanya pas tanggal 16 September kemarin itu aku mendapatkan tugas negara untuk berkunjung ke kantor cabang di Surabaya. Udah pesimis aja gak bisa kopdar sama geng Yuni, pakdhe, kang Yayat dkk karena jadwalku sama pak bos macam antrian mobil di tol pas jam-jam pulang kantor. Padat merayap. Tapi ntah kenapa alhamdulillah ada juga waktuku kopdaran mendadak jam 8 malam di kediaman Pakdhe dan Budhe (makasih ya pakdhe dan budhe) trus disuguhin sate ayam sedap plus lontong pulak itu (angek kan?).

Nah di kopdar itu aku dapat hadiah 2 buku Pakdhe, Dari 63 Menuju 1 ini dan satu lagi 63 Cermin. Buku Dari 63 Menuju 1 ini dengan isengnya kubuka saat perjalanan menuju Jakarta di pesawat. Mula-mula agak serius membaca tagline “Semua Harus Prima”. Tapi ternyata isinya nyelekit banget terutama buat diriku. Mulai dari halaman 1 buku ini gak terasa akhirnya habis kubaca sampai landed di Soekarno Hatta.

Isinya koq nyelekit Jul? Iya. Karena kebanyakan memperingatkan betapa semua kelakuanku selama ini memang harus banyak diperbaiki. Cerita-cerita singkat pakdhe meski cenderung terkesan humornya tapi banyak sekali maknanya. Sampai rasanya tiap judul pengen aku komenin panjang-panjang. Tapi ada 1 judul yang sangat berkesan buatku dari buku ini. Judulnya “Membuat Kebiasaan Baik dalam 30 Hari”. Untuk memberikan komen terhadap satu judul ini sepertinya aku akan buat satu postingan khusus nanti.

 

Terima kasih ya Pakdhe, satu buku ini saja sudah begitu berarti buatku. Buku selanjutnya pasti penuh kejutan juga kan?

 

 

 

Advertisements

sang mantan

gara-gara sebuah puisi yang akan tayang di buku gerhana coklatku, aku terlibat sedikit diskusi seru dengan seorang teman sma.

begini puisinya:

pada mata yang menyatakan cinta

aku memungut diam-diammu

Tatkala kita duduk menghadap taburan langit berwarna abu-abu pucat

Berdua di atas roda yang melaju

Kerumunan kunang-kunang mengutarakan cahayanyaTepat pada kedua bola matamu

Tak berdesir sedikitpunAngin yang mengutarakan inginnya

Mendekap hati kita

Karena semua bermuara

Pada satu kata

Cinta

#november 2004

Kepada aldian irfan

Bila kita perhatikan, puisi itu bertanggal november 2004, tepat saat Aldian memintaku untuk menikah dengannya. Dan setahun kemudian aku menikah dengan orang lain :D.

Temanku tadi, sebut saja namanya Rida (eh ini kan nama istri si Aldian??), mengkonfrontasi mengapa aku mencantumkan nama beliau itu di dalam buku kumpulan puisiku sementara puisi-puisi lainnya tak mencantumkan nama lelaki-lelaki lain yang menjadi inspirasiku.

Memang, beberapa puisi ditujukan untuk beberapa orang yang berbeda, namun rasanya aku lebih nyaman hanya mencantumkan nama Aldian saja. Yang tidak dipahami Rida adalah kenapa aku begitu terang-terangan menulis nama itu, apakah kekasihku saat ini tidak marah? (aku udah nanya koq katanya dia gak marah :D) Lalu untuk apa aku menulis namanya, kalau sang ALdian membaca atau istrinya membaca bagaimana perasaan mereka berdua? Bagiku tak masalah, itu kan tulisan lama.

perdebatan kami tak berakhir dengan baik dan sempurna. masing-masing mempertahankan pendapatnya. rida merasa lebih baik tak mencantumkan nama aldian atau sekalian mencantumkan semua nama biar adil, dan aku berkeras untuk tetap mencantumkan nama aldian karena yaaah bagiku dia adalah lelaki paling berkesan dalam hidupku.

kita masing-masing pasti kan punya gambaran tipe ideal untuk menjadi pasangan, dan aldian memiliki semua keidealan itu. namun kami tak berjodoh saja.

kalau seandainya aku mengikuti saran rida untuk mencantumkan semua nama di buku itu, wahhh akan lebih rumit lagi jadinya, nantinya akan ada nama muhammad rifan atau karel abdul gani. hahaha.

😉

ps: kamu gak marah kan sayang?

Note lagi:
terima kasih untuk semua teman yang sudah memesan buku gerhana coklat. alhamdulillah cetakan pertama sudah fully booked. bagi teman-teman yang tidak kebagian cetakan pertama plus mugnya akan langsung saya pesankan untuk cetakan kedua dengan hadiah yang mungkin berbeda. 😀

bunga yang cantik. seseorang memberiku setelah makan siang tadi 😀

 

note lagi:

sejak besok sampai dengan minggu saya ada di jogjakarta, dan besok itu ada kopdar lho jam 7 malam di plaza ambarukmo, ayoo sapa yang mau ikutan?

 

guru kehidupan mataharitimoer

tumpukan kertas bernama buku yang sedang kugenggam dan kulumat huruf-hurufnya itu diberi judul Guru Kehidupan . sepanjang usiaku belum pernah sekalipun tertarik untuk sekedar melongok ke dalam lembaran buku bertemakan profil manusia sejenis biografi. memanglah aku tau buku ini bukan semacam biografi, namun (gak pake “bang”) sebuah oretan tentang daya hidup orang-orang dalam keterbatasannya. daya hidup.
itulah inti dari semuanya.

ketika mendapati “bocoran” kover bukunya sebelum terbit, terang-terangan aku sudah tak suka dengan warnanya. KUNING (sejak kapan kow suka warna kuning praz?) dan sepanjang hari berdebat kenapa harus kek gitu hurufnya dll dan hanya dijawab dengan jawaban “quantum satis” oleh sang penulis.

lalu ketika menerima offline di kedua belah tanganku, langsung kubuka lembarannya,mencari katakata dan tandatangan penulisnya dan kalimat kalimat pendahulunya.
meski pernah membaca naskah aslinya yang lebih lengkap dari kang MT, namun aku tak keberatan untuk membacanya lagi. kalimat kalimat yang memenuh kertas kecoklatan itu memang seperti menyihir. hidup.begitulah.

mataharitimoer membawaku menengok ke diri, betapa beruntungnya hidupku dan segala yang kupunya patut disyukuri.
tengoklah ke dalam dirimu, ke dalam jiwamu, karena setiap orang juga mampu menjadi GURU kehidupan bagi dirinya sendiri dan orang lain.

memenuhi janji untuk mereview buku Guru Kehidupan kang MT.
jangan ketawa gitu kow, kang! buku ini belum lengkap tanpa profile julie, :P.

bagi yang berminat dapat gratisannya silakan ikuti event menulis di blog mataharitimoer.
bagi yang pengen beli bolehpesan ke sayah!! *ujung-ujungnya jualan juga ya kan?*