Sebulan di Medan

Pas nulis postingan Kangen Nulis kemaren, aku sempat berencana untuk bikin tulisan lanjutan setelah satu bulan di Medan tapi ya nggak janji karena belakangan memang agak malas nulis di blog. Nggak pake excuse kalo memang malas ya malas aja ya kan hehe.

Setelah tepat satu bulan di Medan ini ternyata ada banyak banget yang aku rasakan dan pikirkan dan juga yang terjadi:

  1. Aku belum sepenuhnya merasa pindah domisili. Kadang-kadang masih seperti rumah temporer tapi nggak ada perasaan kepingin balik ke Jakarta. Mungkin karena aku orangnya cepat beradaptasi dan jarang mengeluhkan hal remeh-temeh walaupun perubahannya terasa cepat.
  2. Berat badanku naik 1 kg padahal ya makanan di sini asli enak semua. Mulai dari lontong sayur yang memang wajib coba (udah pernah coba lontong sayur di Dr Mansur? kalau belum cobalah itu tempat rame banget walopun gak amazing juga rasanya), tahu goreng di depan gang Perwira, rujak takana juo, nasi padang pinggir jalan yang murah meriah itu, nasi goreng Salim, martabak mesir, dan ada 2 makanan yang belum aku coba sampai sekarang, sate padang dan sate memeng mungkin nantilah dicoba ya kalo pas lewat.
  3. Sejak di Medan dan ada di perusahaan baru, aku lebih disiplin mulai dari pagi kerja bikin catatan sampai pulang ke rumah bikin laporan semua teratur mungkin karena kultur perusahaan baru ini memang terbiasa dengan kedisiplinan. Nggak heran perusahaan ini makin maju. Disiplin kunci kesuksesan.
  4. Udah mulai lari lagi walaupun sendirian karena semua yang bilang mau ikut lari itu cuma PHP aja percayalah padaku. Hari ini aku lari juga lho kalo mau gabung japri aja karena sekarang bahaya ngeshare lokasi lari.
  5. Semakin sering kumpul dengan keluarga terutama kakak dan abangku, dan mulai terbiasa dengan tamu-tamu abangku yang dominan minta tolong itu. Budaya minta tolong yang kaya gini aku kurang suka sih karena kami terbiasa mandiri.
  6. Alhamdulillah udah ziarah ke makam alm ibu dan ayahku dan sampai sekarang setelah 7 tahun tetep mewek pas ziarah. Miss you mom and dad.
  7. Udah dapat banyak customer baru, dan mulai bisa ngikutin karakter mereka ternyata nggak sengeri yang suka diceritain bosku koq. Semoga lancar ke depannya.
  8. Bulan depan udah harus berkunjung ke Pekanbaru mungkin pertengahan atau awal belum tau nih.
  9. Prestasi tergres adalah selama sebulan ini aku belum pernah beli baju lhoo hebat kan? tapi aku udah beli 2 sepatu dan 1 jam tangan #ehh

Ada satu hal yang belum berubah dari aku dan cuma kamu yang tau :p.

Satu hal yang aku pelajari selama hidup sampai hampir usia 40 tahun ini, di mana pun kita berada akan ada masalah dan cobaan yang harus dihadapi, tergantung bagaimana kita menyikapinya. Dimana ada kenyamanan di sanalah rumah kita berada.

Have a nice weekdays dan selamat menyambut tahun baru Masehi.

 

Tentang Sepatu Lari

Iya sih aku memang diciptakan cuma sebagai pelari hore soalnya sampai hari ini baru bisa lari paling jauh 10K tapi bagaimana pun tetap gak pernah bosan ngomongin soal olahraga yang satu ini terutama sepatunya. Namanya juga udah kegilaan lari.

Pertama kali berniat serius untuk lari itu tahun 2012, gara-gara merasa badan makin berat dan memang kepingin aja soalnya aku kan lasak jadi susah juga kalo diem gak olahraga maka dipilihlah olahraga lari yang murah meriah.

Untuk menjadi pelari awal gak bisa dibilang murah karena saat itu aku benar-benar beli seperangkat alat lari yang dibayar tunai! Aku beli celana dan baju lari 2 pasang, kaos kaki baru dan karena mamas yang baik hati akhirnya aku punya sepatu lari yang pertama yang dibeliin tahun 2012 itu.

sepatu lari pertamaku

sepatu lari pertamaku

 

Di tahun 2012 itu aku sempat ikut race pertamaku yang menurutku sih masih ecek=ecek karena cuma 5K dan aku masih lari campur jalan. Lari 100 meter jalan 100 meter lari lagi trus pace juga masih ngik ngok antara 10 sampe 9 paling paten.

Supaya lariku semangat aku ngajak-ngajak beberapa teman blogger tapi cuma 2-3 kali lari di CFD trus bubar gak ada kabar. Gak putus asa aku juga ngajak teman-teman kantor tapi tetep aja gak ada yang mau ikut malah aku diketawain gitu kata mereka “ngapain capek-capek lari keringetan”. Ya Tuhan berilah aku kesabaran.

Tahun 2013 aku masih konsisten lari tiap 2 minggu sekali di CFD gak peduli mau sendirian juga aku tetap lari. Bahkan aku ikut race sendirian. Terhitung ada 3 race yang aku ikuti dan semuanya memang hanya untuk challange diri sendiri supaya dapat personal best.

Tapi berhubung bisnis sedang gonjang-ganjing dan aku diminta untuk membantu bisnis keluarga, otomatis lariku pun mulai nggak konsisten tahun 2014 aku tercatat hampir gak pernah lari kecuali di luar Jakarta dan di event Jakarta Marathon itu pun karena jadi sponsor. Tapi di event Jakmar ini justru larinya 10K. Bosku yang memang tau aku hobi dan gila lari pengen ikutan dan ngajak semua team ikut didaftarkan tapi dari segambreng orang-orang yang didaftarkan cuma 5 orang yang lari beneran sisanya cuma foto-foto di finisher booth dan tetep megang medali. Pada saat itu sih mereka ngetawain aku gitu kenapa capek-capek lari padahal mereka juga dapat medali. Tapi aku tetep cuek aja dan bilang bahwa medali yang aku dapat dengan berlari 10K itu beda rasanya dengan medali mereka yang ga lari sama sekali if you know what i mean.

Tapi kenapa kita jadi lari dari judul ya? Ini kan judulnya sepatu lari. Oke balik ke judul, untuk membuat lariku makin semangat aku akhirnya menambah 1 koleksi sepatu lari lagi yang berjudul adidas dan belinya pun sama si ilham anak blogger bekasi yang uhuy dan kebetulan kerja di adidas otomatislah aku dapat harga miring banget ampe mau jatoh. Mana sepatunya boost pula kan keren harganya yaaa kepala 1.

 

IMG_20151121_004214

sepatu lari pinkish

 

Setelah event lari Jakmar 2014 bisa dipastikan aku jadi jarang banget lari mungkin bisa dibilang tiap 3 bulan cuma 1 kali lari. Tapi aku selalu berusaha untuk lari di kota atau negara lain. Pas ke Bali bulan April 2014 aku sempatin lari di sekitaran hotel Mercure dan saking paginya bangun sampe aku ketakutan sendiri karena gelap banget. Maksud hati mau lari 5K ehh akhirnya cuma 2K karena ketakutan sepi banget ga ada tanda-tanda kehidupan.

Trus trip berikutnya ke Thailand aku juga lari 2 kali pertama cuma di sekitaran resort dan yang kedua di pinggir pantai. Berat banget lho ternyata lari di atas pasir itu. pace yang biasa 8 bisa drastis turun jadi 10 sampe 11. Belum lagi tantangan dikejar anjingnya itu sungguh pengalaman yang menakjubkan *elap keringet*.

Akhirnya nih ya pada bulan yang hampir sama dengan tahun lalu, perusahaan tempatku kerja kembali menjadi salah satu sponsor Jakarta Marathon dan kebetulan akulah yang dipaksa menjadi pic untuk proyek lari kali ini. Berhubung pengalaman tahun lalu mubazir banget racepack lari buat seluruh umat kantor ga dimanfaatin, akhirnya aku menitahkan ke semua yang daftar lari bahwa mereka wajib lari kalau mau mendaftar dan dapat race pack jadi ga cuma gaya-gayaan pake kaos jakmar trus datang siang-siang buat ambil medali. karena aku memang diciptakan Tuhan jadi makhluk yang judes otomatis dari 20 peserta yang kudaftarkan cuma 2 orang yang ga ikutan lari. Alhamdulillah. Dan sejak saat itu tren lari di kantorku semakin happening.

Berhubung event terakhir ini aku mendapatkan time result yang jelek dan jauh dari target aku memutuskan harus punya sepatu lari yang lebih serius. Minimal ya merk Brooks yang menempati tempat ketiga dari review pelari-pelari profesional dan karena brand Newton juga ga ada di sini sih susah nyarinya. Dengan bantuan sponsor tersayang dan tercinta akhirnya aku punya sepatu lari baru horeeee makasih ya kamu. Biasanya beli sepatu karena warnanya bagus selain mikirin buat lari  kali ini lebih ke pertimbangan fungsinya yang bisa lari jarak jauh. Jadi warna abu-abu pun kubeli karena kan udah punya warna pink ya.

 

my new running shoes

my new running shoes

Jadi kayanya cukuplah ya sepatu lariku 3 aja sementara waktu karena sekarang lagi musim ngumpulin topi buat lari. Doain ya tahun depan targetnya Half Marathon 21K. Aaamiiin.

Run For Anything

Beberapa bulan belakangan itu aku memang sedang tergila-gila dengan yang namanya olahraga lari. Memang sih pas jaman SMP aku pernah ikut kejuaraan lari sprinter mewakili sekolahku trus nggak menang pulak itu tapi ya lumayanlah udah bisa mewakili sekolah. Tapi sejak itu aku jaraaang banget lari yang sebenar-benarnya lari. Paling juga lari-larian atau lari karena ngejer-ngejer sesuatu yang cuma beberapa meter.

Aku punya teman SMA, Oni namanya. Dia sedang terbiasa dengan lari sejak dua tahun belakangan. Mulai dari lari ecek-ecek 2km sampai terakhir dia ikut lari marathon 21km di Kuala Lumpur bareng suaminya (niat banget kan?). Yah aku mungkin nggak akan sepanjang itu sih sementara (who knows kalo nanti-nanti ya), yang jelas Oni rajin banget ngajakin aku lari. Dan akhirnya terwujudlah pas bulan Desember 2013 aku ditemani lari (campur jalan) di CFD dan Oni terpaksa melambatkan speednya demi aku. Pertama sih mikirnya pesimis paling kuat juga 2 kilo 3 kilo, ehhh namanya wanita ya, kalo lari campur gosip itu memang fantastic, berhasil 10 kilo aku untuk yang pertama setelah bertahun-tahun nggak olahraga dan nggak lari.

 

The first 10K Done! with Onni

The first 10K Done! with Onni

 

Sebenarnya Onni sendiri lari setiap hari katanya minimal dia lari 10K tiap hari. Sementara aku? duuh aku mau lari aja kudu jalan kaki dulu agak jauh cari track buat lari. Dan aku merencanakan bisa lari setiap hari minggu nggak muluk-muluk bisa lari tiap hari kaya Onni deh yang mau ngikutin aku kalo aku ke shanghai katanya. Tapi tetep yaa aku cuma bisa lari sebulan 2 kali karena keterbatasan waktu dan rasanya gak enak sama mbaknya rico yang harus bangun subuh-subuh jagain anakku kalo pas aku mau lari gitu.

Tapi, aku selalu mengusahakan untuk ikutan event lari mau yang ecek-ecekan atau yang besar. Dan kemarin aku berhasil ikut event lari pertamaku setelah 2 kali gagal ikutan event lari sebelumnya Colour Run (karena anakku ultah) dan Run to Remember something itu karena ada launching Lego Movie.

Aku sih ikutan event lari gak peduli mau dari mana sponsornya, kenapa bikin event itu bla bla yang penting bisa lari aja. Kecuali yang ekstrem banget mungkin nggak mau.

Nah kemarin itu ceritanya aku ikutan Run For Cervix untuk membantu para perempuan yang mengidap kanker serviks (kanker mulut rahim) karena kanker ini merupakan pembunuh nomor 2 setelah kanker payudara (untuk kategori kanker). Jadilah seru-seruan di sana ketemu pulak sama si Eyiq yang nggak janjian ikutan gitu. Untung juga ada eyiq jadi aku nggak cengok sendirian hahaa. Padahaaal nih pas udah selesai lari aku baru tau kalau di sana ada sepupuku Tria yang udah bertahun-tahun tak jumpa dan yang anehnya lagi dia lari pas depan aku (pas lihat fotonya baru ngeh).

Sign to #Save100Woman

Sign to #Save100Woman

Dan ceritanya nih aku dan komunitas bloggerku mau bikin kegiatan rutin lari lho, yok siapa yang mau ikutan?

 

 

 

 

Gen Pengumpul Sepatu edisi 3

Ini tulisan tentang gen pengumpul sepatu bagian ketiga setelah pernah menulis tentang ini dua kali sebelumnya di blog julie.

Kebanyakan perempuan (laki-laki juga sih) pasti punya sepatu lebih dari satu. Misalnya sepatu buat ke sekolah (bagi yang masih mahasiswa) pasti beda dengan sepatu buat ke kantor, ke  pesta dan jalan-jalan bareng teman, pacar atau keluarga.

Aku pernah melakukan survey mini seputaran beberapa teman tentang berapa banyak sih jumlah sepatu yang mereka miliki? Survey ini tujuannya ingin tau berapa jumlah wajar sepatu yang dimiliki oleh seorang perempuan. Ternyata rata-rata perempuan memiliki minimal 3 sepatu (dan ini tidak termasuk sandal ya). Biasanya sepatu yang mereka miliki adalah sepatu kerja (dan biasanya berwarna hitam), sepatu ke kondangan (pesta) dan sepatu flat buat jalan-jalan.

Tapi sebagai salah seorang pemilik gen pengumpul sepatu memang jumlah sepatu yang aku miliki agak lumayan banyak. Dan pastinya aku nggak sendirian. Bahkan masih banyak perempuan yang jumlah sepatunya bisa buka toko misalnya.

Sepatu apa sih yang paling aku sukai modelnya. Sepatu Mary Jane dan boots.

Kalau dihitung saat ini aku memiliki 4 boots, 3 sepatu mary jane dan beberapa sepatu lainnya.

Karena mendadak jadi kecanduan ikut lari (ceritanya mau bikin komunitas Blogger Runners ini), yang sebelumnya di rumah cuma punya 2 sepatu olahraga dengan jenis daystyle, dua minggu yang lalu aku mendapat hadiah sepatu khusus lari (running shoes) dari yang tersayang. Lalu bertekad mulai rajin lari lagi. Sejak saat itu tiba-tiba saja gen pengumpul sepatuku mulai bergeser dari cari-cari sepatu boots dan pump shoes sekarang jadi lebih suka cari-cari sepatu running.

Padahal tau sendiri kan kalau sepatu lari itu muahaaal banget harganya. Okelah di toko-toko sport kadang ada acara diskon tapi saking banyaknya sepatu jadi pusing sendiri mau milih dan beli yang mana. Trus kalau cuma lihat-lihat aja jadi tengsin sendiri sama pramuniaga tokonya. “Ini orang lihat-lihat sepatu iya beli kagak,” gitu kira-kira dalam hati abang pramuniaganya kali ya.

Ternyata niiih aku nemu sepatu cakep yang warnanya juga pas buat perempuan (yang cantik seperti aku) di toko online Zalora. Coba lihat dulu penampakannya.

reebok-0806-53619-1-catalog

sumber foto : zalora

Biasalah namanya juga perempuan mau ke pesta kek, ke kantor kek, olahraga kek pasti deh maennya matching-matchingin warna. Soalnya nih celana dan baju lariku warnanya ngepink trus kalau sepatunya biru jadi kaya ada yang kurang gitu :p.

Beberapa teman mungkin ada yang kurang nyaman belanja tanpa sentuh-menyentuh macam di toko online gini apalagi beli sepatu ya? Tapi kalau menurutku sih nggak perlu susah-susah mikir, beli sepatu olahraga itu biasanya beda dengan sepatu kerja atau sepatu jalan. Kalau pakai sepatu olahraga kita kudu menyisakan ruang untuk pemakaian kaus kaki jadi pilihlah satu nomor lebih besar dari nomor biasa. Atau coba aja ke toko sepatu sebelumnya dan paskan nomornya trus beli deh di toko online ini malah gratis ongkir. Jadi malah makin hemat kan soalnya nggak perlu jauh-jauh ke mall, nyari parkiran atau habisin ongkos tinggal terima aja ke alamat kita. Pas aku cek cara pembayarannya malah bisa COD (Cash On Delivery) lho jadi bisa bayar di tempat saat kirim gitu.

Trus buka-buka lagi ternyata atribut-atribut lari buat perempuan banyak juga ini. Waah *Megangin dompet*.

Jadi siapa nih kira-kira yang mau beliin aku sepatu di atas? 😀