Berhenti Mencintai

Entah sudah berapa lembar puisi yang kutulis untukmu. Sobekan kertas, beberapa liter tinta bolpoin terbuang pada curahan hati dan isi kepala kepadamu.

Mula-mula degup jantung begitu keras menatap dua mata bercahaya yang menanti penuh harap, bahkan notifikasi apapun yang masuk di telepon selular menjadi sumber debar halus yang mengguncang hariku.

Belum lagi sentuhan ujung-ujung jemarimu di kulitku. Tak butuh banyak kata rindu,  semua larut dalam satu bahasa, cinta.

Setahun, dua tahun, tiga kemudian kita tak bertatap muka, aku letih menempa diri untuk belajar melupakan rasa.

Ketika suatu hari debar itu tak terasa lagi. Kau akan sadar bahwa aku tak lagi membenci, namun berhenti mencintai.

 

Batam City Square, June 2017

 

WAG

Janji bikin postingan bulan kedua ketiga keempat kelima dan keenam di Medan itu hanya janji-janji palsu berbunga hampa aja dariku.

Dan janji pingin selalu update tulisan blog adalah janji palsu mirip dengan janji abang jaket coklat untuk nelpon aku beberapa bulan yang lalu.

Jadi daripada sibuk mikirin janji palsu, lebih bagus kita fokus lagi ke judul postingan ini. Aku sok-sok kekinian bikin judul postigan WAG karena sebenarnya aku pun baru tau istilah WAG ini pas ngintip status salah satu kawanku di line fb nya. Ini Fb ya bukan line, maksudku itu timeline (sengaja kali aku jelaskan ini).

WAG yang aku maksud adalah Whatsapp Group. Dimana dalam hal ini aku cuma punya 18 groups tidak termasuk grup Koh Samui pas jaman aku ke Thailand dulu atau grup mamak-mamak hot bikinan si Onni yang cuma bertahan 2 minggu.

Di antara 18 grup ini ada 5 grup dari kantor karena aku salesman, trus punya spg di 2 jenis counter plus aku juga tergabung di grup distribusi dan karena aku pegang area pulau Sumatera. Maka 5 grup ini wajib dibaca dengan teliti kalo gak mau kenak tokok pak bos.

Sisanya udah pastilah grup-grup pencitraan dan grup keluarga. Grup keluarga aja ada 3 dimana yang grup pertama itu keluarga inti, trus ada pula grup bisnis keluarga dan grup jalan-jalan keluarga. Gak ngerti juga kenapa harus dipisahkan untuk grup jalan-jalan ini karena semua grup ini bukan aku yang buat. Mungkin biar lebih fokus jalan-jalannya.

Selain grup kantor dan keluarga tadi otomatis aku punya grup alumni mulai dari SD, SMP, SMA dan apoteker. Belum lagi grup komunitas lari, grup arisan, grup dari kantor lama yang terbagi 2, grup spg (karena aku ga boleh left sama spg-spg ku yang dulu) dan grup lari yang aku bikin (sok anak lari banget kan?).

Tapi kebanyakan dari WAG ku ini semua melarang topik pornografi, kalau cuma nyerempet-nyerempet aja ya okelah awak kan udah dewasa (baca: tua) juga, beberapa juga melarang ngomongin politik karena basi udah baca dimana-mana trus SARA termasuk di grup keluarga padahal kami satu suku dan satu agama tetep gak boleh ngomong SARA karena kami pembeci racism.

Ada satu grup dimana aku lumayan bawel melarang posting pornografi dan kekerasan, nggak ngerti kenapa kayanya orangnya bandel banget kalau kita minta tolong untuk nggak posting foto-foto kekerasan padahal udah pada dewasa. Belum lagi yang suka ngirim video serem nakutin dan ngagetin gitu, gak percaya aja kalau aku pernah pingsan karena dikagetin.

Banyak yang kembali mempertanyakan buat apa sih join ke dalam WAG?

Aku sih simple aja:

  1. Tetap terkoneksi dengan orang-orang yang ada di dalamnya dan organisasinya misal aku gabung di grup lari EJR, aku tetap terkoneksi dengan komunitas lari ini apapun kegiatan mereka.
  2. Tau info-info penting yang dishare di grup apakah itu info tentang event, info yang ultah, meninggal, lahiran, bahkan lowongan kerja buatku semua info semacam itu bermanfaat.
  3. Siapa tau ada informasi jodoh (teteep kaaan).

Untuk saat ini WAG favoritku masih tetap EJR Extra Ordinary Jakarta Runners.

Kalau kalian punya grup whatsapp berapa banyak?

 

 

Back to Jakarta?

It’s absolutely a big NO.

Tapi “sesuatu” ini begitu menghantuiku beberapa minggu belakangan. Sejak memutuskan pindah kerja, aku berbahagia karena bisa pulang ke Medan, dekat dengan keluarga, bisa ketemu teman-teman SMP, bisa makan lupis dan cenil medan. Pokoknya hepi banget walopun baru habis sakit.

Tapi sebenarnya tawaran pertama di perusahaan ini buat lokasi nasional yaitu Jakarta, dengan segala bujuk rayu aku berhasil menciptakan kebutuhan untuk penempatan di Medan. Dan sekarang beberapa orang sedang berusaha mengembalikanku untuk posisi Nasional ini. *Nangis bombay*

Dimana aku udah settle rumahku, mobilku, supirku (walopun baru ganti), dan segala perencanaan masa depan yang ceria bersama Enrico (dan abang itu, eh abang yang mana Jul?).

When it feel so down i just need some papers and a pen with music to grab all beautiful words around my head.

Let me sleep and hope tomorrow will be better.

 

Sebulan di Medan

Pas nulis postingan Kangen Nulis kemaren, aku sempat berencana untuk bikin tulisan lanjutan setelah satu bulan di Medan tapi ya nggak janji karena belakangan memang agak malas nulis di blog. Nggak pake excuse kalo memang malas ya malas aja ya kan hehe.

Setelah tepat satu bulan di Medan ini ternyata ada banyak banget yang aku rasakan dan pikirkan dan juga yang terjadi:

  1. Aku belum sepenuhnya merasa pindah domisili. Kadang-kadang masih seperti rumah temporer tapi nggak ada perasaan kepingin balik ke Jakarta. Mungkin karena aku orangnya cepat beradaptasi dan jarang mengeluhkan hal remeh-temeh walaupun perubahannya terasa cepat.
  2. Berat badanku naik 1 kg padahal ya makanan di sini asli enak semua. Mulai dari lontong sayur yang memang wajib coba (udah pernah coba lontong sayur di Dr Mansur? kalau belum cobalah itu tempat rame banget walopun gak amazing juga rasanya), tahu goreng di depan gang Perwira, rujak takana juo, nasi padang pinggir jalan yang murah meriah itu, nasi goreng Salim, martabak mesir, dan ada 2 makanan yang belum aku coba sampai sekarang, sate padang dan sate memeng mungkin nantilah dicoba ya kalo pas lewat.
  3. Sejak di Medan dan ada di perusahaan baru, aku lebih disiplin mulai dari pagi kerja bikin catatan sampai pulang ke rumah bikin laporan semua teratur mungkin karena kultur perusahaan baru ini memang terbiasa dengan kedisiplinan. Nggak heran perusahaan ini makin maju. Disiplin kunci kesuksesan.
  4. Udah mulai lari lagi walaupun sendirian karena semua yang bilang mau ikut lari itu cuma PHP aja percayalah padaku. Hari ini aku lari juga lho kalo mau gabung japri aja karena sekarang bahaya ngeshare lokasi lari.
  5. Semakin sering kumpul dengan keluarga terutama kakak dan abangku, dan mulai terbiasa dengan tamu-tamu abangku yang dominan minta tolong itu. Budaya minta tolong yang kaya gini aku kurang suka sih karena kami terbiasa mandiri.
  6. Alhamdulillah udah ziarah ke makam alm ibu dan ayahku dan sampai sekarang setelah 7 tahun tetep mewek pas ziarah. Miss you mom and dad.
  7. Udah dapat banyak customer baru, dan mulai bisa ngikutin karakter mereka ternyata nggak sengeri yang suka diceritain bosku koq. Semoga lancar ke depannya.
  8. Bulan depan udah harus berkunjung ke Pekanbaru mungkin pertengahan atau awal belum tau nih.
  9. Prestasi tergres adalah selama sebulan ini aku belum pernah beli baju lhoo hebat kan? tapi aku udah beli 2 sepatu dan 1 jam tangan #ehh

Ada satu hal yang belum berubah dari aku dan cuma kamu yang tau :p.

Satu hal yang aku pelajari selama hidup sampai hampir usia 40 tahun ini, di mana pun kita berada akan ada masalah dan cobaan yang harus dihadapi, tergantung bagaimana kita menyikapinya. Dimana ada kenyamanan di sanalah rumah kita berada.

Have a nice weekdays dan selamat menyambut tahun baru Masehi.

 

Kangen Nulis

Selesai bantuin keponakanku belajar matematika buat UAS besok, aku buka laptop buat ganti password login ke account perusahaan dan karena hari ini nggak ada Purchase Order yang masuk jadilah iseng buka facebook. Tiba-tiba si mba Susi (bukan menteri) ngirim inbox undangan maen-maen ke blog beliau.

Dan ternyata ya dari undangan mba Susi tiba-tiba aku jadi kangen nulis. Tadi sih nggak kepikiran mau nulis apa trus mba Susi bilang nulis aja gih kan nanti ngalir sendiri. Iya sih kalau nggak dicoba ya nggak akan nulis-nulis mana pula ini udah akhir 2016 dan aku nggak punya resolusi yang mau direview.

Setelah sekian lama nggak nulis ala blogger (gak berbayar), ternyata banyak hal dan cerita yang memang nggak pernah aku bagi lagi di blog ini termasuk kepindahanku untuk menetap di Medan.

Iya aku udah balik ke Medan lho tepatnya 12 hari dan dalam waktu singkat aku udah mengelilingi kota Medan walaupun belum semuanya plus udah dapat 5 customer baru (ini yang penting). Tapi sayang sekali sodara-sodara sampai hari ini aku belum pernah lari baik itu lari pagi atau lari sore karena:

  1. Nggak ada yang nemenin aku kan penakut!
  2. Masih survey mau lari di Merdeka Walk atau di depan komplek?

Semoga hari Sabtu ini aku jadi beneran lari badan udah beratnya kaya apa. Di rumah kakakku ini (oh iya lupa bilang kalo aku masih nebeng di rumah kakak karena rumahku masih ada yang ngontrak hihi) ada timbangan badan otomatis bisa ngecek dan ternyata berat badanku ketika sampai di Medan itu 51 kg oh mai gaaaad dan sekarang udah berkurang sekilo walaupun makan mulu tapi capek gitu ya karena gak ada mpok Ida (ini apa sih?).

Oh iya selama di Medan ini aku baru ketemuan sama teman-teman sejawat apoteker aja nih yang lain belum ada. Mungkin pengaruh usia ya? Ehhhh.

Medan itu identik dengan kulinernya yang enak banget bahkan mantan bosku mengakui bahwa kulinar paling enak di Indonesia itu ya di Medan. Tapi ini sungguh cobaan buat aku yang sedang diet herannya aku tahan udah 12 hari di Medan tapi belum pernah makan lontong sayur. Ini agak di luar kebiasaan.

Oh iya ngomong-ngomong mantan bos, aku udah resign dari kerjaan lama lho makanya aku pindah ke Medan karena aku join ke perusahaan baru. Nggak usah dibahaslah ya ke perusahaan mana nanti dikepoin pulak ya kan yang penting gaji gede komisi jalan terus aamiin.

Setelah sampai di akhir paragraf trus bacain tulisanku di atas berasa kaya curhatan abege gitu nggak sih?

 

*ditulis dengan leptop kantor di atas kasur yang pake seprei ben 10 sambil dasteran doraemon tapi sayang kopinya mana????