#18 Rumah Idaman

Woow tinggal 3 hari lagi lhoo #20DaysBloggingChallenge dan aku udah mikirin aja abis ini mau gimana ya? Apa mau bikin challenge 21Days atau berapa days gitu?

Tapi tapi tapi aku kan pemalas. Okelah mending selesaikan aja dulu yang ini. Hari kedelapanbelas judulnya rumah idaman sesuai tantangan dari Ina partnerinvain.

Sejauh ini sih aku jarang menetapkan sebuah idaman untuk hal apapun juga. Misalnya kalau ditanya Jul, cowo idaman lo kriterianya seperti apa sih? Susah gitu kan jawabannya yang jelas aku suka sama cowo yang kurus dan asik. Asik dalam arti bisa nyambung aja. Kalau masalah tampangnya musti kaya siapa gitu nggak harus juga. Kadang-kadang ada yang ganteng tapi nggak nyambung kan?

Demikian juga dengan rumah.

Susah deh mengatakan rumah idamanku itu seperti apa? Yang disebut rumah itu kan tempat untuk kita pulang dan merasa nyaman saat tinggal di dalamnya.

Cuma kalau boleh memilih sih, pastinya aku suka tinggal di rumah yang teduh, ada pohon-pohonnya seperti rumahku yang dulu di Medan (rumah orang tua maksudnya). Dimana rumah itu banyak jendelanya, pintunya lebar-lebar, kalau di dalam rumah kita nggak perlu nyalain AC atau kipas angin udah berasa adem, trus di pekarangan ada pohon mangga, nangka, jeruk, pepaya, bunga-bunga kaktus, bunga rumput-rumputan di depan teras rumah, kamarnya besar-besar dan banyak, kamar mandi juga besar dan ada ruang terbuka di dalam rumah. Persis seperti rumahku dulu.

Ya memang sih aku udah punya rumah sendiri (maksudnya warisan orang tua), tapi rumah yang aku punya itu bukan tipe rumah yang kepingin aku tinggali karena memang rumahnya terletak di pemukiman yang tetangganya kurang nyaman (ibu-ibu gosip) trus memang karena rumahnya juga di Medan dan aku mencari nafkah di jakarta otomatis nggak bisa ditinggali. Rumah yang aku tempati sekarang justru jauh lebih kecil daripada rumahku itu.

Biasanya orang kalau udah tua kan kepingin menetap di suatu tempat. Aku juga begitu. Pingin punya rumah yang adanya di sebuah kota yang nggak terlalu ramai kaya Jakarta ini tapi juga nggak terlalu terpencil kaya Dhamasraya (mudah-mudahan si cupid dan gani gak baca ini daripada aku diledekin). Yang sedang-sedang aja (macam lagu dangdut), kota kecil atau daerah yang masih bernuansa pedesaan tapi punya akses untuk ke kehidupan modern. Ada toko bukunya, ada restoran, tempat ngopi, mal tempat jual-jual brand semacam vesperine atau atmosphere atau the executive, sinyal internet gak ngik ngok. Yang semacam itu. karena sesungguhnya aku memang kurang betah juga hidup di tempat yang terlalu terpencil atau terlalu sibuk macam Jakarta ini. Tapi ya namanya juga rejekinya di sini dan harus tanggung jawab sama titipan Tuhan jadi kudu sabar tinggal di Jakarta.

Cita-citanya sih kepingin punya rumah di Jogjakarta dan bisa tinggal di sana bersama anakku. Atau kembali ke Medan dan bertemu lagi dengan keluarga.

Yang jelas sebuah rumah idaman adalah tempat dimana kita bisa bersama orang-orang yang kita cintai. Bagaimanapun bentuknya. Dimana pun itu berada.

Advertisements

#12 Kenangan Masa Kecilku

Meminjam judul buku kumpulan cerita pendek dari komunitas dblogger dimana aku juga ada di dalamnya, maka judul postingan ini sama dengan buku itu. Tantangan postingan hari keduabelas dari #20DaysBloggingChallenge ini masih dari Ina partnerinvain, cerita masa kecil apa yang nggak bisa dilupakan?

Hmm, ini tantangan yang gampang-gampang susah. Gampang karena banyak cerita masa kecil yang gak bisa dilupakan tapi ya gitu susah milah-milahnya kan.

Sebagai peserta KB (Keluarga Besar), ayah dan ibuku pastilah sangat repot dengan ketujuh anak-anaknya. Kami tinggal di sebuah rumah di kota Medan. Menurut almarhum ayahku, mereka berdua (ibu dan ayahku) sudah tinggal di rumah itu sejak menikah. Nggak paham juga gimana-gimananya yang jelas itu rumah sudah dibeli ayahku. Luas tanah dan bangunan gak pahamlah ga ngukur juga hihi. Aku sebagai anak nomor 6 tentu udah telat banget kan dengan cerita seperti apa rumah itu sebelumnya, cuma bisa melihat dari foto hitam-putih di album yang kemudian aku lihat.

Rumah kami dulunya terdiri dari 4 kamar tidur, 2 kamar mandi yang terletak bersebelahan dan di depannya ada semacam ruang cuci dan sumur (yang sampai sekarang masih ada karena katanya nggak boleh ditutup). Dengan jumlah anak 7 orang dan 6-nya perempuan maka akhirnya formasi lengkap pada tahun 1980 ketika adikku lahir. Saat itu abangku yang merupakan anak paling gede dan laki-laki satu-satunya sudah berusia 15 tahun (SMA). Bayangin aja anak SMA yang cowo gitu harus tidur satu kamar dengan dua adik perempuannya? Kan pasti lama-lama berasa aneh dia. Akhirnya saat masuk ke bangku kuliah abangku memutuskan untuk ngekos padahal sebenarnya bisa aja sih kalau dipaksakan bikin kamar satu lagi tapi kayanya dia modus aja itu mau ngekos.

Rumahku

Rumahku

Cerita yang masih kuingat semasa kecil itu saat aku usia 3 tahun. Di rumah ada beberapa orang asisten rumah tangga, ada yang bagian masak dan nyuci-nyuci ada pula yang bagian mengasuh anak. Sebelum aku lahir, asisten rumah tangga di rumah kami ada 4 orang, 2 orang menjaga anak sisanya membereskan rumah dan masak. Tapi ketika adikku lahir, otomatis pengasuh anak ditiadakan dan salah satu kakakku diajari cara menjaga adik. Ibuku itu guru sekolah jadi bisa dibilang beliau adalah ibu bekerja. Bayangin aja deh punya anak 7 orang, bantu suami ikut kerja kan wajarlah kalau di rumah harus dibantu sama asisten. Nah, ibu dan ayahku memang orang yang sangat cocok. Satunya keras dalam pendidikan formil dan disiplin (ibu) sementara yang satu lagi keras dalam pendidikan moral dan sikap (ayah). Di rumah, kakak-kakakku yang lebih besar sudah diajarkan bagaimana memasak, mencuci, membersihkan rumah. Sementara ibuku memang jiwa leadershipnya tinggi, tugasnya cuma ngatur-ngatur aja. Misalnya kakak nomor 2 tugasnya masak, nomor 3 cuci baju, sisanya dilakukan oleh asisten rumah tangga. Aku, kakak nomor 4 dan 5 serta adikku belum dapat tugas apa-apa. Kakak nomor 3 tugasnya menjaga aku dan adikku, entah kenapa memang dia yang paling cocok untuk masalah momong ini.

Gambar 7 Pahlawan (kata kakakku, Dewi)

Gambar 7 Pahlawan (kata kakakku, Dewi)

Karena memang hobi membaca, di rumah kami ibu dan ayahku selalu menyediakan buku dan majalah. Buku-buku dongeng HC Andersen, Grimm bersaudara dan kisah dongeng nusantara selalu dibacakan buat kami. Ketika itu aku pun sering diajari cara membaca, buku belajar membaca yang 1a sampai 1c itu sudah kulalap habis pada usia 3 tahun. Tapi karena masuk sekolah baru bisa usia 5 tahun jadi aku harus nunggu deh.

Waktu kecil aku termasuk anak yang susah disuruh pake baju (hahaha). Kalau di rumah maunya cuma pake celana dalam aja (duh!) bahkan ada beberapa foto aku yang topless gitu deh. Nggak ingat kapan mulai rajin pake bajunya tapi itu sekitar usia 2-3 tahun.

Setelah masuk sekolah aku ingat satu kejadian yang lucu. Ceritanya kan anak-anak SD suka didatangi dokter untuk kasi suntikan immunisasi gitu. Nah, waktu itu ada immunisasi untuk penyakit cacar yang datang ke rumah-rumah. Aku masih kelas 1 SD umurku 5 tahun, kakakku Dewi kelas 3 dan kak Opi kelas 4. Nah kami bertiga ini yang jadi sasaran sang dokter suntik. Pas dokternya datang mereka langsung disuntik di lengan dan nangis dengan sukses di ruang tamu. Sementara itu aku berusaha bertahan untuk nggak mau disuntik. Bahkan niat banget kejar-kejaran sama dokter itu keliling-keliling ibuku, trus lari ke kamar belakang, tutup pintu tapi karena memang pintunya gak punya kunci akhirnya si dokter berhasil masuk dan akupun menyerah.

Dari kecil aku memang udah suka minum kopi. Mula-mulanya karena almarhum kakekku yang sering minum kopi tubruk sambil baca koran sore-sore di teras depan. Kakek biasanya nyuruh aku beli rokok comfil (ini istilah rokok Commodore filter), trus aku duduk di sebelahnya. Kalau kakek masuk ke dalam rumah aku diam-diam minum dari gelas kopinya. Pertama minum, aku merasa itu minuman yang enak banget, lama-lama ketagihan trus dengan curangnya selalu minta dibikinin kopi nescafe bubuk sama asisten rumah tangga. Dianggap keterlaluan karena ngopi mulu, suatu hari ibuku sengaja meletakkan ulat kecil di gelas kopiku. Aku nangis dan gak mau minum, akhirnya dibuanglah kopi itu. Tapi jangan salah, seminggu kemudian aku masih aja minum kopi lagi. Dan ibuku akhirnya menyerah. Selain kebiasaan minum kopi, kami sekeluarga juga suka banget sama milo panas atau milo dingin atau milo tanpa air. Jadi milo disendok langsung masukin mulut. Enak banget. Kebiasaan minum milo ini berlangsung terus sampai kami dewasa bahkan saat aku ketemu omku (adik alm ayahku) ternyata dia masih suka minum milo. Jadi paham dari siapa itu kebiasaannya.

Tempat Duduk-duduk santai di pekarangan samping rumah Bendera indonesia, jepang, swiss dan jerman itu melambangkan keluarga kami

Tempat Duduk-duduk santai di pekarangan samping rumah
Bendera indonesia, jepang, swiss dan jerman itu melambangkan keluarga kami

Karena punya ibu yang guru bahasa Indonesia (super galak) maka nilai-nilai bahasa Indonesia anak-anaknya disarankan untuk bagus. Terutama dalam pelajaran membuat karangan. Setiap kali ada karangan, ibuku selalu meminta dulu kerangka karangan, dan beliau selalu bisa membedakan kerangka karangan bentuk deskripsi, persuasi, narasi ataupun eksposisi sementara aku kayanya susah buat menghapal itu.

Beberapa dari kami sering menang dalam lomba esai dan resensi buku antar sekolah. Abangku, kakak-kakakku bahkan puisi dan cerpennya sering muncul di harian lokal. Sementara aku pun tak mau kalah, ikut mengirim cerpen anak-anak ke harian lokal. Aku ingat saat kecil itu karena belum punya KTP maka aku kirim cerpen menggunakan nama abangku. Dan alhamdulillah cerpennya masuk harian waspada padahal aku masih SD :p.

Banyak banget kenangan masa kecil yang menyenangkan. Main congklak dan ludo sampe dimarahi ibuku karena ga mau berhenti. Main catur sama sepupuku yang udah SMA, bikin kartu lebaran sehabis sahur, nonton film little house and the prairie rame-rame sekeluarga di depan tv, makan kepiting bumbu kuning buatan ibuku, dimarahi ayahku gara-gara ketahuan mandi hujan trus demam, dan bolak-balik ke rumah sakit karena asthma, makan jambu air dari belakang rumah pake bumbu rujak ecek-ecekan, main masak-masakan, jalan-jalan sore naik becak dayung berdua dengan ibuku, dan masih banyak lagi.

Oh iyaa deh aku baru ingat ada satu cerita nih pas aku masih kecil banget kalo ga salah aku masih kelas 1 SD, ceritanya nih suatu hari ibuku membawa aku ke sekolahan pada hari libur ga ngerti ada perlu apa dengan si bulek penjaga sekolah kayanya sih nganterin makanan gitu deh. Nah, sekolahanku itu SD negeri yang kadang-kadang dilintasi orang untuk jalan pintas dari jalan ismailiyah ke jalan medan area. Hari itu aku main-main di koridor sekolah sendirian. Dari gerbang aku lihat ada dua orang laki dan perempuan yang jalan menuju gerbang satu lagi (ceritanya mau nyebrang melalui sekolahku itu), karena aku iseng aku pun lari ke arah lorong sekolah yang menuju gerbang satu lagi, ternyata kedua orang itu sedang berhenti, mereka berdekatan dan mulut si laki itu sedang ada di mulut si perempuan. Pada saat itu aku ga paham mereka sedang ngapain. Kebetulan di lorong itu memang gelap dan dinding batas sekolah ke luar cukup tinggi. Mereka berdua gak sadar kalau aku sedang memperatikan.

Dan pada suatu hari ketika aku SMA barulah aku ingat bahwa aku sudah menonton orang yang sedang berciuman. Hadeeeeeh *tepokjidat*.

Foto-foto masa kecilku semua masih tersimpan di album foto di Medan, karena jaman dulu kan kameranya masih pake film gitu yang dicuci cetak jadi deh belum sempat scan-scan foto. Yang jelas masa kecil bersama ayah ibuku dan kakak adikku itu susah diungkapkan dengan kata-kata karena begitu membahagiakan.

Setelah Ibu Pergi Everything Has Changed :'(setelah Ibu pergi 😥

Membersihkan Rumah

oh iya sebentar lagi lebaran nih, rumahku udah lama banget gak dibersihin, rumput udah tinggi di depan, teras banyak bekas-bekas telapak kaki becek abis hujan yang belum dibersihkan, ruang tamu meja kursinya penuh debu dan keliatan gak pernah disapu, kamar apalagi, spreinya acak-acakan, siapa nih yang terakhir tidur di sini gak mberesin?

waduuuh dapur lebih parah, piring bekas makan dan kuali masih numpuk di tempat cucian, kamar mandi? #jleb! ternyata kamar mandinya aja yang bersih, yah maklumlah yang punya blog selama ini ternyata sibuk luluran di kamar mandi sehingga ga ngurusin bagian rumah lainnya, ga posting-posting, gak blogwalking, gak cemana-cemana.

yok, kita bersihkan yoook. bantuin ya woiiii.

 

 

kemana ingin pulang

aku hampir terlelap ketika pengeras suara di ruang tunggu soekarno hatta terminal tiga itu menggema. akhirnya setelah menanti waktuwaktu berdetik aku akan melangkahkan kaki terbang kembali ke rumahku di medan.

teringat belum setahun ketika terakhir aku kembali, saat ibu berpulang kepada Sang Pencipta, bukan hanya tak berjumpa senyumnya namun tubuh dinginnya pun tak bisa kupeluk karena aku baru bisa kembali pulang pada hari ketiga saat ibu berpulang, yang kujumpa hanya onggokan tanah merah basah dengan sebuah batu abuabu berukir namanya.

kali ini aku ingin bertemu ayahku, kerinduanku telah begitu menyesak dada. beliau memintaku pulang segera saja tak usah menunggu idul fitri tiba. melewati lautan luas dengan waktu dua jam itu begitu menyiksa, meski tubuh lelah mataku tak mampu memejam karena ingin segera menjejakkan kaki di rumah tempat orangorang tercinta berada.

ketika tiba di pelataran depan rumah dinihari pukul tiga, kursikursi plastik dan tenda terpasang, kulihat beberapa tetangga memandangku dengan tatapan cemas, lebih banyak kaum bapak yang duduk di sana, dengan kopiah dan wajah letih mungkin semalaman mereka menunggu di sini.

aku melangkah ke pintu depan, biasanya pintu ini yang dibuka ayah saat hari siang, tapi kali ini kedua sisi pintu depan dan samping terbuka lebar.

dan di sanalah ayahku berada, ia menungguku. tubuhnya terbaring di atas dipan. tertutup kain panjang batik sampai ke leher. wajahnya begitu pucat, matanya tertutup. di sebelahnya dua orang kakakku menatapku dengan linangan air mata. mereka memakai kerudung dan memegang kitab suci.

aku melangkah pelanpelan saja. ayah tak akan pergi sekarang. meski matanya tertutup aku tau ia pasti bahagia dengan kehadiranku. kuraih tangannya dan kukecup pipinya. tanpa kusadari mataku telah basah sejak tadi seperti saat aku menuliskan cerita ini.

diikutsertakan pada mudik blogor.

rumah

rumah tak harus tempat kita lahir dan besar di sana
rumah itu ada di hati meski kita berada di manapun

setelah beberapa jenak aku memutuskan untuk berumah di blog keduaku ini karena di rumah pertamaku ada sedikit ketidaknyamanan yang tak dapat diungkap dengan kata-kata.

belum bisa posting seperti yang diusulin adekku tentang kegiatanku sejak kembali ke kota kelahiranku, karena kesibukan masak,ngejar2 rico, mbaca koleksi lama agatha christie dan komik jepangku, belajar bahasa perancis, bikin proposal ke kakak-kakakku untuk kuliah S2 farmakologi dan jualan :D.

baru segitu yang sempat dibaca sejak tgl 19 des 2009