#14 The Best Teacher In My Life

Padahal tantangan dari Ina partnerinvain cuma nanya siapa guru yang paling diingat dan nasehat apa yang nampol di kepala?

Tapi beneran kok ibuku adalah guru yang paling kuingat. Guru dalam arti sebenarnya karena beliau mengajar di sekolah sebagai pendidik, dan juga guru dalam kehidupanku makanya beliau pantas menyandang status the best  itu buatku. Sebab banyak hal yang sudah aku ambil dari ibu.

Saat melahirkan aku, usia ibuku 36 tahun. Jadi usia kami berbeda 36 tahun makanya aku bisa 1 shio dengan ibuku. Shio ular dengan elemen api (karena pengulangan shio terjadi setiap 12 tahun sekali). Ibuku menjadi anak bungsu dari 6 bersaudara setelah adik laki-lakinya yang kembar keduanya meninggal. Entah kenapa dibandingkan ketiga saudara kandungnya yang lain ibuku ini berbeda penampilan fisiknya. Ramping. Kalau melihat foto-foto ibuku jaman dulu, rasanya gayaku sekarang belum ada apa-apanya. Ibuku itu jaman dulu bajunya dress pendek warna pink gitu plus wedges yang tumitnya entah berapa senti. Belum lagi kacamata hitam. Pokoknya macam mau pergi kemana gitu lihatnya.

Tapi saat mengajar di sekolah beliau akan menjelma menjadi ibu guru yang anggun. Roknya panjang mengembang, dengan blus yang jatuh di badan. Setelah mengorek keterangan dari ayahku kenapa beliau dulu menikahi ibuku, ternyata jawabannya adalah karena ibuku sangat menarik dan ramping juga aktif (gak bisa diem gitu banyak kegiatannya) sehingga ayahku kagum dengan ibuku.

Ibu meski berpenampilan sangat feminin, tapi orangnya sangat tegas. Di rumah kami semua lebih takut kalau dimarahi ibu daripada ayahku. Beliau selalu disiplin dalam hal pendidikan formil dan kawan-kawan. Selalu melakukan cek untuk setiap pencapaian pendidikan yang kami raih. Ibu dikenal sebagai guru yang galak di sekolah tempat beliau mengajar dan memang aku sendiri mengalami.

Jadi ceritanya ibuku ini adalah guru wali kelas 5 (SD). Nah otomatis ketika aku naik kelas 5, gurunya ibuku donk ya. Karena beliau guru bahasa Indonesia otomatis aku disuruh belajar dulu di rumah sebelum beliau memberikan materi. Ini pengalaman aku ketika jadi muridnya, hari pertama ngajar. Ibuku itu senang bertanya ke muridnya. Dan kita harus aktif di kelas. Nah, pas banget ibuku nanya gini, “Siapa yang tau apa yang dimaksud dengan kalimat?”. Aku kan memang dari rumah udah harus tau pelajaran, maka aku angkat tangan trus jawab “Kalimat adalah susunan dari beberapa kata yang mengandung arti.” Trus ibuku bilang, “Benar.” Eh dia nanya lagi, “Juli, apa yang dimaksud dengan kalimat aktif?” Trus aku kayanya jawabannya nggak lengkap gitu deh. Lupa. Eh beliau bilang gini, “Makanya kalau di rumah jangan main aja, belajar lagi ya,” sambil menatapku galak gitu. Ampuuun deh.

Begitu pulang dari sekolah maka sikap galaknya hilang dan aku akan merengek-rengek lagi sama beliau. Jadi karena takut diomelin di kelas aku langsung minta ibuku untuk pindah ke kelas 6. Gak ngerti juga kenapa bisa, akhirnya ibuku jadi wali kelas 6 dan guruku yang menggantikan adalah ibu Zahriah. Herannya ketika aku naik kelas 6, ibuku balik lagi deh ke kelas 5. Hahahhahhaa. Semua bisa diatur kan, Jul?

Meski punya 7 orang anak dan bekerja jadi pengajar di sekolah dasar dari pagi sampai jam 1 siang, bukan berarti ibuku langsung seharian di rumah pada sisa waktunya. Jangan ditanya deh kegiatan beliau. Kalau dulu, aku ini semacam asisten pribadinya. Yang nulisin buku satuan pengajaran itu aku (berdasarkan hasil orek-orekan beliau dan penjelasannya), yang masukin nilai ke daftar nilai juga aku, trus ngisi nilai ke buku rapor juga aku. Malah ketika aku mulai duduk di SMP boleh ngasi sumbangan soal ulangan untuk murid-muridnya. Nah, jadwal kegiatan ibuku juga aku yang hapal. Misalnya hari Senin pengajian dengan ibu-ibu di lingkungan 7 (rumah kami), Selasa ikut arisan PKK, Rabu kosong, Kamis pengajian dengan ibu-ibu di lingkungan mesjid jami’, Jum’at kosong. Sabtu pasti deh beliau ada aja kegiatannya. Kadang-kadang arisan keluarga, kadang juga ada ngisi pelatihan pramuka atau apa gitu (jaman dulu ga paham). Aku sering jemput ibuku pulang dari pengajian-pengajian itu kalo lagi iseng padahal sebenarnya beliau bisa pulang sendiri tapi ga tau kenapa aku suka aja jemput ibuku.

Ketika beliau pensiun dari jabatannya yang terakhir sebagai kepsek, ternyata memang dasar orangnya nggak bisa diem, ibuku mendirikan PAUD (pendidikan anak usia dini) di kantor kelurahan tempat tinggal kami. Yang buat aku terharu adalah saat ibuku meninggal. Meski dikenal sebagai guru yang tegas dan galak, ibuku ini lembut hatinya sering merasa iba kepada beberapa tetangga yang kurang mampu. Jadi pada hari beliau meninggal sampai seminggu itu rumah kami penuh dengan orang-orang yang turut kehilangan. Sampe keluar-keluar ke jalanan deh yang ikut mendoakan ibuku. ALhamdulillah ternyata banyak yang sayang ya sama ibu :).

Kalau dibilang orang tua itu lebih tau mana yang benar mungkin kadang ada benarnya juga. Karena mereka lebih punya pengalaman ya? Ibu biasanya tau laki-laki mana yang baik dan tepat buat aku. Kenapa aku bisa bilang itu sekarang? Karena terbukti cowo-cowo yang dulu sering ke rumah, mana yang ibuku ga suka ketauan sekarang gak bagus nasibnya dan yang mana yang ibuku suka sekarang jadi orang-orang sukses. Ibuku bisa tau cuma dari sikap tubuh mereka aja. Ajaib ya?

Nasehat apa ya yang paling nampol di kepalaku dari ibu?

“Perempuan itu harus punya karakter. Meskipun tubuh kita lemah, jangan pernah tunjukkan kepada orang lain. Ilmu pengetahuan adalah kekuatan. Pelajari dan kuasai, lalu jadilah orang yang baik.”

Mungkin ini karena dari kecil aku selalu sakit-sakitan ya. Trus aku memang sering berprestasi selama sekolah dulu terutama SD dan SMP, kalo SMA sih ya masih masuk-masuk 10 besarlah. Tapi ibuku memang sering membanggakan aku karena aku jarang belajar, aktif di organisasi dan punya banyak teman. Suatu hari saat terakhir kami bertemu waktu itu ibu mengantarku ke airport untuk kembali ke jakarta, ibu berpesan: “Jangan pernah berhenti bekerja, karena selain kamu memang punya kemampuan, kamu juga akan menjadi sandaran hidup enrico satu-satunya.” Ya terus terang pada saat itu memang aku tengah ada masalah dengan suami tapi gak pernah mendoakan supaya berakhir. Ternyata ibuku memang benar.

Makasih ya Bu sudah melahirkan aku, membesarkan aku dan mencintaiku. Semoga ibu selalu bahagia di sana bersama ayah. Dan semoga aku juga tak pernah lupa mengirimkan doa untuk kalian berdua.

Pa and Ma, 1 tahun pernikahan

Pa and Ma, 1 tahun pernikahan

Pa and Ma, Amsterdam 2005

Pa and Ma, Amsterdam 2005

Advertisements

#12 Kenangan Masa Kecilku

Meminjam judul buku kumpulan cerita pendek dari komunitas dblogger dimana aku juga ada di dalamnya, maka judul postingan ini sama dengan buku itu. Tantangan postingan hari keduabelas dari #20DaysBloggingChallenge ini masih dari Ina partnerinvain, cerita masa kecil apa yang nggak bisa dilupakan?

Hmm, ini tantangan yang gampang-gampang susah. Gampang karena banyak cerita masa kecil yang gak bisa dilupakan tapi ya gitu susah milah-milahnya kan.

Sebagai peserta KB (Keluarga Besar), ayah dan ibuku pastilah sangat repot dengan ketujuh anak-anaknya. Kami tinggal di sebuah rumah di kota Medan. Menurut almarhum ayahku, mereka berdua (ibu dan ayahku) sudah tinggal di rumah itu sejak menikah. Nggak paham juga gimana-gimananya yang jelas itu rumah sudah dibeli ayahku. Luas tanah dan bangunan gak pahamlah ga ngukur juga hihi. Aku sebagai anak nomor 6 tentu udah telat banget kan dengan cerita seperti apa rumah itu sebelumnya, cuma bisa melihat dari foto hitam-putih di album yang kemudian aku lihat.

Rumah kami dulunya terdiri dari 4 kamar tidur, 2 kamar mandi yang terletak bersebelahan dan di depannya ada semacam ruang cuci dan sumur (yang sampai sekarang masih ada karena katanya nggak boleh ditutup). Dengan jumlah anak 7 orang dan 6-nya perempuan maka akhirnya formasi lengkap pada tahun 1980 ketika adikku lahir. Saat itu abangku yang merupakan anak paling gede dan laki-laki satu-satunya sudah berusia 15 tahun (SMA). Bayangin aja anak SMA yang cowo gitu harus tidur satu kamar dengan dua adik perempuannya? Kan pasti lama-lama berasa aneh dia. Akhirnya saat masuk ke bangku kuliah abangku memutuskan untuk ngekos padahal sebenarnya bisa aja sih kalau dipaksakan bikin kamar satu lagi tapi kayanya dia modus aja itu mau ngekos.

Rumahku

Rumahku

Cerita yang masih kuingat semasa kecil itu saat aku usia 3 tahun. Di rumah ada beberapa orang asisten rumah tangga, ada yang bagian masak dan nyuci-nyuci ada pula yang bagian mengasuh anak. Sebelum aku lahir, asisten rumah tangga di rumah kami ada 4 orang, 2 orang menjaga anak sisanya membereskan rumah dan masak. Tapi ketika adikku lahir, otomatis pengasuh anak ditiadakan dan salah satu kakakku diajari cara menjaga adik. Ibuku itu guru sekolah jadi bisa dibilang beliau adalah ibu bekerja. Bayangin aja deh punya anak 7 orang, bantu suami ikut kerja kan wajarlah kalau di rumah harus dibantu sama asisten. Nah, ibu dan ayahku memang orang yang sangat cocok. Satunya keras dalam pendidikan formil dan disiplin (ibu) sementara yang satu lagi keras dalam pendidikan moral dan sikap (ayah). Di rumah, kakak-kakakku yang lebih besar sudah diajarkan bagaimana memasak, mencuci, membersihkan rumah. Sementara ibuku memang jiwa leadershipnya tinggi, tugasnya cuma ngatur-ngatur aja. Misalnya kakak nomor 2 tugasnya masak, nomor 3 cuci baju, sisanya dilakukan oleh asisten rumah tangga. Aku, kakak nomor 4 dan 5 serta adikku belum dapat tugas apa-apa. Kakak nomor 3 tugasnya menjaga aku dan adikku, entah kenapa memang dia yang paling cocok untuk masalah momong ini.

Gambar 7 Pahlawan (kata kakakku, Dewi)

Gambar 7 Pahlawan (kata kakakku, Dewi)

Karena memang hobi membaca, di rumah kami ibu dan ayahku selalu menyediakan buku dan majalah. Buku-buku dongeng HC Andersen, Grimm bersaudara dan kisah dongeng nusantara selalu dibacakan buat kami. Ketika itu aku pun sering diajari cara membaca, buku belajar membaca yang 1a sampai 1c itu sudah kulalap habis pada usia 3 tahun. Tapi karena masuk sekolah baru bisa usia 5 tahun jadi aku harus nunggu deh.

Waktu kecil aku termasuk anak yang susah disuruh pake baju (hahaha). Kalau di rumah maunya cuma pake celana dalam aja (duh!) bahkan ada beberapa foto aku yang topless gitu deh. Nggak ingat kapan mulai rajin pake bajunya tapi itu sekitar usia 2-3 tahun.

Setelah masuk sekolah aku ingat satu kejadian yang lucu. Ceritanya kan anak-anak SD suka didatangi dokter untuk kasi suntikan immunisasi gitu. Nah, waktu itu ada immunisasi untuk penyakit cacar yang datang ke rumah-rumah. Aku masih kelas 1 SD umurku 5 tahun, kakakku Dewi kelas 3 dan kak Opi kelas 4. Nah kami bertiga ini yang jadi sasaran sang dokter suntik. Pas dokternya datang mereka langsung disuntik di lengan dan nangis dengan sukses di ruang tamu. Sementara itu aku berusaha bertahan untuk nggak mau disuntik. Bahkan niat banget kejar-kejaran sama dokter itu keliling-keliling ibuku, trus lari ke kamar belakang, tutup pintu tapi karena memang pintunya gak punya kunci akhirnya si dokter berhasil masuk dan akupun menyerah.

Dari kecil aku memang udah suka minum kopi. Mula-mulanya karena almarhum kakekku yang sering minum kopi tubruk sambil baca koran sore-sore di teras depan. Kakek biasanya nyuruh aku beli rokok comfil (ini istilah rokok Commodore filter), trus aku duduk di sebelahnya. Kalau kakek masuk ke dalam rumah aku diam-diam minum dari gelas kopinya. Pertama minum, aku merasa itu minuman yang enak banget, lama-lama ketagihan trus dengan curangnya selalu minta dibikinin kopi nescafe bubuk sama asisten rumah tangga. Dianggap keterlaluan karena ngopi mulu, suatu hari ibuku sengaja meletakkan ulat kecil di gelas kopiku. Aku nangis dan gak mau minum, akhirnya dibuanglah kopi itu. Tapi jangan salah, seminggu kemudian aku masih aja minum kopi lagi. Dan ibuku akhirnya menyerah. Selain kebiasaan minum kopi, kami sekeluarga juga suka banget sama milo panas atau milo dingin atau milo tanpa air. Jadi milo disendok langsung masukin mulut. Enak banget. Kebiasaan minum milo ini berlangsung terus sampai kami dewasa bahkan saat aku ketemu omku (adik alm ayahku) ternyata dia masih suka minum milo. Jadi paham dari siapa itu kebiasaannya.

Tempat Duduk-duduk santai di pekarangan samping rumah Bendera indonesia, jepang, swiss dan jerman itu melambangkan keluarga kami

Tempat Duduk-duduk santai di pekarangan samping rumah
Bendera indonesia, jepang, swiss dan jerman itu melambangkan keluarga kami

Karena punya ibu yang guru bahasa Indonesia (super galak) maka nilai-nilai bahasa Indonesia anak-anaknya disarankan untuk bagus. Terutama dalam pelajaran membuat karangan. Setiap kali ada karangan, ibuku selalu meminta dulu kerangka karangan, dan beliau selalu bisa membedakan kerangka karangan bentuk deskripsi, persuasi, narasi ataupun eksposisi sementara aku kayanya susah buat menghapal itu.

Beberapa dari kami sering menang dalam lomba esai dan resensi buku antar sekolah. Abangku, kakak-kakakku bahkan puisi dan cerpennya sering muncul di harian lokal. Sementara aku pun tak mau kalah, ikut mengirim cerpen anak-anak ke harian lokal. Aku ingat saat kecil itu karena belum punya KTP maka aku kirim cerpen menggunakan nama abangku. Dan alhamdulillah cerpennya masuk harian waspada padahal aku masih SD :p.

Banyak banget kenangan masa kecil yang menyenangkan. Main congklak dan ludo sampe dimarahi ibuku karena ga mau berhenti. Main catur sama sepupuku yang udah SMA, bikin kartu lebaran sehabis sahur, nonton film little house and the prairie rame-rame sekeluarga di depan tv, makan kepiting bumbu kuning buatan ibuku, dimarahi ayahku gara-gara ketahuan mandi hujan trus demam, dan bolak-balik ke rumah sakit karena asthma, makan jambu air dari belakang rumah pake bumbu rujak ecek-ecekan, main masak-masakan, jalan-jalan sore naik becak dayung berdua dengan ibuku, dan masih banyak lagi.

Oh iyaa deh aku baru ingat ada satu cerita nih pas aku masih kecil banget kalo ga salah aku masih kelas 1 SD, ceritanya nih suatu hari ibuku membawa aku ke sekolahan pada hari libur ga ngerti ada perlu apa dengan si bulek penjaga sekolah kayanya sih nganterin makanan gitu deh. Nah, sekolahanku itu SD negeri yang kadang-kadang dilintasi orang untuk jalan pintas dari jalan ismailiyah ke jalan medan area. Hari itu aku main-main di koridor sekolah sendirian. Dari gerbang aku lihat ada dua orang laki dan perempuan yang jalan menuju gerbang satu lagi (ceritanya mau nyebrang melalui sekolahku itu), karena aku iseng aku pun lari ke arah lorong sekolah yang menuju gerbang satu lagi, ternyata kedua orang itu sedang berhenti, mereka berdekatan dan mulut si laki itu sedang ada di mulut si perempuan. Pada saat itu aku ga paham mereka sedang ngapain. Kebetulan di lorong itu memang gelap dan dinding batas sekolah ke luar cukup tinggi. Mereka berdua gak sadar kalau aku sedang memperatikan.

Dan pada suatu hari ketika aku SMA barulah aku ingat bahwa aku sudah menonton orang yang sedang berciuman. Hadeeeeeh *tepokjidat*.

Foto-foto masa kecilku semua masih tersimpan di album foto di Medan, karena jaman dulu kan kameranya masih pake film gitu yang dicuci cetak jadi deh belum sempat scan-scan foto. Yang jelas masa kecil bersama ayah ibuku dan kakak adikku itu susah diungkapkan dengan kata-kata karena begitu membahagiakan.

Setelah Ibu Pergi Everything Has Changed :'(setelah Ibu pergi 😥

aku ingin kau selalu ingat diriku

Pot-pot bunga berisi kaktus berbentuk daun kecil-kecil tebal dan batangan berduri

Selasaran depan teras rumah kita yang lama dengan kembang siti maryam yang setiap sore harus kusirami

Tumpukan buku di lemari kaca yang kau siapkan untuk kami baca sesuai selera

“Jangan berantakan”, begitu selalu kau ingatkan.

“Caramu berjalan menunjukkan siapa dirimu”, katamu suatu hari ketika aku menyeret langkah malas-malas di ruang televisi

Bohlam di tengah-tengah lelangit kamarku Mengumbar cahaya berwarna putih susu terang
Wajahmu penuh senyum berpendar di segala penjuru
Di hatiku
Di pelupuk mataku

Ayah, ibu
Ingatkan aku untuk selalu mengingatmu
Mengirimimu lembar-lembar rindu dalam doa khusyukku
Sebab tak ada cinta
semaharasa cintamu

 

puisi ini akan hadir sebagai salah satu puisi dalam buku gerhana coklat yang akan cetak dalam waktu dekat. nantikan kehadirannya ^^

cover buku gerhana coklat

kemana ingin pulang

aku hampir terlelap ketika pengeras suara di ruang tunggu soekarno hatta terminal tiga itu menggema. akhirnya setelah menanti waktuwaktu berdetik aku akan melangkahkan kaki terbang kembali ke rumahku di medan.

teringat belum setahun ketika terakhir aku kembali, saat ibu berpulang kepada Sang Pencipta, bukan hanya tak berjumpa senyumnya namun tubuh dinginnya pun tak bisa kupeluk karena aku baru bisa kembali pulang pada hari ketiga saat ibu berpulang, yang kujumpa hanya onggokan tanah merah basah dengan sebuah batu abuabu berukir namanya.

kali ini aku ingin bertemu ayahku, kerinduanku telah begitu menyesak dada. beliau memintaku pulang segera saja tak usah menunggu idul fitri tiba. melewati lautan luas dengan waktu dua jam itu begitu menyiksa, meski tubuh lelah mataku tak mampu memejam karena ingin segera menjejakkan kaki di rumah tempat orangorang tercinta berada.

ketika tiba di pelataran depan rumah dinihari pukul tiga, kursikursi plastik dan tenda terpasang, kulihat beberapa tetangga memandangku dengan tatapan cemas, lebih banyak kaum bapak yang duduk di sana, dengan kopiah dan wajah letih mungkin semalaman mereka menunggu di sini.

aku melangkah ke pintu depan, biasanya pintu ini yang dibuka ayah saat hari siang, tapi kali ini kedua sisi pintu depan dan samping terbuka lebar.

dan di sanalah ayahku berada, ia menungguku. tubuhnya terbaring di atas dipan. tertutup kain panjang batik sampai ke leher. wajahnya begitu pucat, matanya tertutup. di sebelahnya dua orang kakakku menatapku dengan linangan air mata. mereka memakai kerudung dan memegang kitab suci.

aku melangkah pelanpelan saja. ayah tak akan pergi sekarang. meski matanya tertutup aku tau ia pasti bahagia dengan kehadiranku. kuraih tangannya dan kukecup pipinya. tanpa kusadari mataku telah basah sejak tadi seperti saat aku menuliskan cerita ini.

diikutsertakan pada mudik blogor.

menutup luka

sepenggalan percakapan yang masih berlanjut

dr B: apa yang paling membuatmu merasa sangat terluka?
aku: aku tak suka membicarakan ini dok
dr B: *senyum memaksa*
aku: oke barangkali karena kehilangan yang terakhir
dr B: ayah?
aku: *mengangguk*
dr B: kamu tak ingin dia tenang?
aku: sangat ingin
dr B: barangkali kamu masih menyimpan dendam pada erica?
aku: tidak sama sekali baik erica ataupun marthin
dr B: yakin?
aku: pada mulanya pastilah aku sangat marah dan kecewa merasa dikhianati tapi makin lama aku justru kasihan pada mereka berdua
dr B: kasihan? *tertawa*
aku: ya, karena mereka saling mencintai begitulah menurut mereka pada saat itu dan mereka tak bisa bersama pasti mereka sangat menderita
dr B: tak mengerti jalan pikiranmu, mana boleh seorang suami mencintai perempuan lain selain istrinya dibenarkan
aku: kenapa tak boleh? perasaan cinta itu tidak diadaadakan dok, bagaimana dengan kamu sendiri?
dr B: *terdiam, memasukkan stetoskop ke dalam tas*
aku: *menarik selimut ke atas leher*
dr B: aku ingin mengobati lukamu
aku: silakan saja aku tak melarang
dr B: detensi jam 5 selasa depan
aku: hmm *membalikkan badan menghadap tembok*

Dok, maaf ya belum mau menceritakan hal itu
dan sepertinya kau benar juga dengan menulis seperti ini sangat membantuku
😀