Saya Apoteker Lho

Judulnya memang agak sok gitu, kalo kira-kira pengen gampar aku ya gapapa gampar aja kan gak berasa ini :p.

Iya saya memang apoteker lho. Apoteker Indonesia tepatnya dan tergabung dalam Ikatan Apoteker Indonesia (IAI).

Sebenarnya aku sudah mendapatkan gelar apoteker ini sejak tahun 2001. Pada saat itu apoteker masih lumayan langka lho terutama untuk daerah sumatera bagian utara. Jadi ketika ujian komprehensif (ujian akhir) apoteker, beberapa pengusaha apotek turun ke kampus kami untuk coba-coba rebutan calon apoteker yang akan lulus. Saat itu kami ada sekitar 14 orang calon apoteker.

Saat break sidang, aku nggak ikutan interview dengan kawan-kawan yang lain. Salah seorang PSA (pemilik sarana apotek) sempat mendekatiku katanya dia dari Aceh dan akan buka apotek di banda aceh. Aku ditawari sebagai apoteker penanggung jawab dengan gaji sekian, aku tolak dengan alasan gajinya gak sesuai standar. Padahal menurut teman-temanku itu gaji lumayan tinggi dibandingkan dengan apoteker yg lain.

Bayangin aja, aku kuliah farmasi itu  lulus dengan usaha sendiri (gak pake nyogok), trus uang kuliah, biaya praktikum, beli buku-buku, biaya penelitian plus kuliah apoteker sebagai profesi itu juga bukan uang yang sedikit lho dari ibu dan bapakku, masaaa aku mau aja ditawari gaji di bawah standard. Nggak etis ah. AKhirnya aku memilih untuk bekerja di luar dunia farmasi. Meskipun sempat bekerja di retail farmasi besar tapi aku nggak memegang posisi apoteker penanggung jawab melainkan cuma jadi store manager aja. Beban moralnya nggak berat. Walaupun kesehariannya aku memberikan konseling pada pasien.

Kenyataan di lapangan yang kutemukan adalah banyak sekali apoteker penanggung jawab apotek itu datangnya cuma sebulan sekali ke apotek. Cuma tanda tangan surat pesanan narkotik dan psikotropik mungkin atau cuma buat ambil gaji. Ya wajarlah kalau gajinya di bawah standard. Coba kalau ditertibkan, misalnya para PSA itu mewajibkan untuk mempekerjakan apotekernya full time dengan sistem shift dan gaji sesuai dengan standar bukannya itu lebih baik?

Toh kalau nggak ada apoteker, apotek-apotek modern yang banyak banget di mall-mall itu nggak bakalan bisa berdiri. Herannya ada aja apoteker yang mau digaji 1juta atau 1,5 juta cuma buat dipakai namanya di apotek itu. Nggak mikir tanggung jawab dia seperti apa kali ya?

Ternyata nih, mulai tahun ini apoteker mulai akan ditertibkan. Dalam arti nggak asal-asalan comot lagi. Sekarang setiap apoteker harus meng-update kemampuannya dalam dunia farmasi dengan memiliki sertifikat kompetensi. Sejak tahun berapa aku nggak tau pasti dimulainya sertifikasi kompetensi ini. Apoteker harus mengikuti ujian untuk mendapatkan sertifikat. Tapi mulai tahun depan tidak ada lagi sistem ujian melainkan harus melaksanakan kerja kefarmasian sesuai dengan bidang yang dipilih untuk mendapatkan nilai yang dibutuhkan selama 5 tahun.

Jadi ketika kita memutuskan untuk menjadi apoteker udah nggak bisa ngelak lagi untuk gak mengabdikan diri dan ilmunya kepada masyarakat. Semoga aku bisa. Doain yaa …