kemana ingin pulang

aku hampir terlelap ketika pengeras suara di ruang tunggu soekarno hatta terminal tiga itu menggema. akhirnya setelah menanti waktuwaktu berdetik aku akan melangkahkan kaki terbang kembali ke rumahku di medan.

teringat belum setahun ketika terakhir aku kembali, saat ibu berpulang kepada Sang Pencipta, bukan hanya tak berjumpa senyumnya namun tubuh dinginnya pun tak bisa kupeluk karena aku baru bisa kembali pulang pada hari ketiga saat ibu berpulang, yang kujumpa hanya onggokan tanah merah basah dengan sebuah batu abuabu berukir namanya.

kali ini aku ingin bertemu ayahku, kerinduanku telah begitu menyesak dada. beliau memintaku pulang segera saja tak usah menunggu idul fitri tiba. melewati lautan luas dengan waktu dua jam itu begitu menyiksa, meski tubuh lelah mataku tak mampu memejam karena ingin segera menjejakkan kaki di rumah tempat orangorang tercinta berada.

ketika tiba di pelataran depan rumah dinihari pukul tiga, kursikursi plastik dan tenda terpasang, kulihat beberapa tetangga memandangku dengan tatapan cemas, lebih banyak kaum bapak yang duduk di sana, dengan kopiah dan wajah letih mungkin semalaman mereka menunggu di sini.

aku melangkah ke pintu depan, biasanya pintu ini yang dibuka ayah saat hari siang, tapi kali ini kedua sisi pintu depan dan samping terbuka lebar.

dan di sanalah ayahku berada, ia menungguku. tubuhnya terbaring di atas dipan. tertutup kain panjang batik sampai ke leher. wajahnya begitu pucat, matanya tertutup. di sebelahnya dua orang kakakku menatapku dengan linangan air mata. mereka memakai kerudung dan memegang kitab suci.

aku melangkah pelanpelan saja. ayah tak akan pergi sekarang. meski matanya tertutup aku tau ia pasti bahagia dengan kehadiranku. kuraih tangannya dan kukecup pipinya. tanpa kusadari mataku telah basah sejak tadi seperti saat aku menuliskan cerita ini.

diikutsertakan pada mudik blogor.