Take A Look At Yourself

Pagi-pagi banget suasana hatiku agak terganggu dengan sebuah bbm. Sebenarnya bukan cuma isi bbm itu aja yang bikin aku kesal tapi hal yang terjadi yang membuat orang yang aku sayangi bermasalah. Ketika merasa nggak salah dan nggak melakukan hal yang dituduhkan aku selalu berusaha memberikan argumen sejauh kebenaran yang aku miliki. Perdebatan itu melelahkan dan biasanya aku menghindarinya. Apalagi harus melalui chat seperti itu. AKu lebih suka bertemu muka, duduk berhadapan dan bicara semua yang mengganjal di kepala dan hati.

Saat emosional seringnya kita melontarkan ucapan yang menyakiti orang lain. Tak terkecuali aku. Sebenarnya dia berusaha menenangkan aku dan bolak-balik minta maaf tapi emosi yang menguasai memang membuat aku membalas dengan malas-malasan. Kebetulan dalam jam kerja pula. Herannya Tuhan memang menciptakan manusia sabar itu sepanjang masa ya. Sepanjang hari ini dia pun tetap sabar meladeni aku yang ngambek bicara.

Setelah kerjaan masing-masing kelar, akhirnya kami bisa bicara langsung. Dan lagi-lagi meskipun dengan begitu jelas ia menunjukkan perasaan sayangnya padaku, aku tetap saja sempat mengeluarkan beberapa statement yang emosional. Ketika pembicaraan berakhir, aku berpikir betapa aku nggak sadar bahwa aku pun punya andil dalam terciptanya kesalahan itu.

Emosi yang memanaskan kepala menciptakan perdebatan panjang itu membuat aku melihat kembali ke diriku sendiri. Benarkah aku sudah bertindak lebih baik? Nyatanya aku pun memang nggak sempurna sebagai manusia.

Tapi nggak ada kata terlambat kan untuk minta maaf. See you in the next morning dear.

 

Advertisements

Meminta Maaf, Tugas Siapa?

Pernahkah kalian merasa begitu marah sampai sulit rasanya untuk memaafkan? Aku pernah dan sering. Tapi suatu hari dulu ketika masih kecil, almarhum pak hardy pernah mengajarkan bahwa memendam kemarahan dan dendam itu tidak baik, karena Tuhan pun selalu mengampuni ummatNya yang meminta maaf.

Tetapi perasaan marah itu tingkatannya berbeda-beda. Aku bahkan pernah merasa marah pada diri sendiri, pada Tuhan bahkan suatu kali ketika Dia mengambil kedua orang tuaku dalam waktu yang sangat dekat. Perasaan marah itu tak bisa dinegasikan dari pikiran dan hatiku. Bahkan aku tak mau berpura-pura tidak merasa marah. Dalam setiap doaku kepada Tuhan, aku bertanya kenapa beliau mengambil almarhum ayahku yang begitu aku butuhkan ketika aku tak punya ibu lagi. Setiap hari aku marah padaNya tapi aku pun selalu meminta ampun karena marah padaNya.

Lama-kelamaan perasaan marah itu berkurang, entah karena aku memang sudah bisa menerima keadaan dan memaafkannya atau karena aku terbiasa menerima ujian-ujian kehidupan yang begitu menakjubkan yang diberikan oleh Tuhan. Aku yang ketika awal kehilangan ayah dan ibu begitu sinis, pemarah, suka ngambek padahal dulunya dikenal ramah dan ceria berangsur-angsur mampu menghilangkan sifat pemarahku, kembali menikmati hidup.

Kemudian pada suatu hari aku mengalami perasaan itu kembali. Perasaan marah kepada seseorang yang sebenarnya sangat aku sayangi. Kemarahan ini mungkin karena kami tidak bisa bersama, tapi aku pun bingung aku marah pada siapa? Apakah pada dia atau pada orang lain atau pada keadaan? Atau jangan-jangan pada diriku sendiri?

Aku memutuskan untuk tidak menerima bentuk hubungan apapun dengan dia setelah komunikasi kami memang begitu terbatas. Aku merasa keputusanku ini sudah sangat benar dan terbaik untuk siapa saja seluruh rakyat indonesia (ini gw mau nyapres atau gimana sih?).

Tetapi perasaan lain muncul beberapa hari ini. Perasaan bersalah. Benarkah perbuatanku ini? Mengingat apa yang ia lakukan juga untuk kebaikan kami semua. AKu mulai dihantui mimpi-mimpi dengan tema yang sama. Wajahnya yang memohon maaf. Sebenarnya tak ada yang bersalah di antara kami. Tetapi aku merasa seperti itu. Dan masih merasa marah. Lalu siapa di antara kami berdua yang harus meminta maaf?