#4 Petualangan Seorang Karyawan

Judulnya ngenes gitu ya. Habis aku bingung mau ngasi judul apa sih. Ini sudah memasuki hari ke-4 #20DaysBloggingChallenge. Ternyata untuk konsisten update postingan itu sangat sulit sekali sodara-sodara. Kebetulan aja ini hari Senin yang sendu dimana semua jalanan macet atau banjir dan aku beserta seluruh rakyat kantor diliburkan tiba-tiba (dengan catatan Sabtu masuk errrrr), coba kalau di kantor belum tentu juga aku bisa update ini postingan. Sementara itu kalau di rumah untuk buka leptop juga nggak akan bisa tanpa disela enrico yang langsung bilang gini “Ma, aku mau main game.” Jadi deh kalau dia udah puas main baru aku kebagian pegang leptop itu juga kalau masih kuat melek.

Ya udah nggak usah sok panjang-panjang jelasin susah updatenya. Hari ini aku mau posting sesuai ide dari Arman (makasih ya Man atas idenya). Gini kata Arman:

cerita tentang pekerjaan2 lu, dari mulai yang pertama sampe yang sekarang. suka dukanya, cerita2 lucunya, dan mana yang lu paling suka dan paling gak suka. :)

Belum pernah sih aku terpikir untuk bikin postingan tentang ini kecuali di CV (curriculum vitae) itu juga nggak semua pekerjaan yang pernah aku lakoni ditulis paling yang masa kerjanya lama aja.

Sebenarnya ya aku udah mulai kerja ecek-ecek itu tahun 1996 ketika aku berada di semester 5 masa kuliah. Ceritanya kepingin kaya teman-teman yang kuliah sambil kerja di apotek. Maka ketika ibu Misra (alm) dosen Farmakognosi mencari mahasiswa untuk jaga apoteknya mulai dari jam 6 sore sampai jam 9 malam dari Senin – Jum’at, temanku Poppy mengabari itu. Jadilah kami berdua menghadap ke rumah ibu Misra yang kebetulan dekat banget dari rumah kami berdua. Ternyata si ibu ini cuma mencari 1 orang mahasiswa aja dengan gaji 50,000 Rp sebulan (padahal masa itu mahasiswa farmasi yg kerja di apotek gajinya 100,000 sebulan). Sehingga kalau kami tetep mau kerja berdua (gantian) gajinya jadi masing-masing Rp 25,000 saja. Okelah buk kami setuju namanya juga cuma cari pengalaman.

Ibuku (alm) protes. Katanya daripada aku kerja digaji 25,000 sebulan bagus aku di rumah aja dikasinya 50,000 tambahan uang jajan sebab beliau kuatir dengan kesehatanku (aku kan emang penyakitan gitu dari lahir). Tapi karena aku memang orangnya agak keras dan pak Hardy setuju-setuju aja maka ibuku kalah voting (ini apa sih?).

Setiap hari dari jam 8 pagi sampai 12 siang aku kuliah teori, jam 1 siang sampai jam 5 sore aku praktikum di laboratorium kemudian jam 6 sore sampai jam 9 malam aku kerja. Ternyata si ibu ini rada curang juga karena kami kerja di 3 tempat, 1 di apotek beliau (sekarang udah tutup), 1 di praktek dr Aznan Lelo (ini dokternya galak banget lho tapi pinter), 1 lagi di praktek dokter di sebuah klinik di jalan ismailiyah. Setiap malam ayahku dengan setia jemput aku pulang, kalau dulu rasanya agak malu juga sih udah segede itu masih dijemput papah tapi kalau ingat-ingat sekarang aku jadi terharu :'(.

Pekerjaan kami ini nggak bertahan lama karena si ibu mulai mencampuradukkan masalah kerjaan dengan urusan rumah tangga. Adalah yang aku atau poppy disuruh nganterin anaknya lomba mewarnai, jaga anaknya dll. Aku mengundurkan diri disusul sama poppy. Kami kerja sekitar 6 bulan. Ibuku pun senang.

Karena udah tau namanya kerja, aku dan poppy jadi ketagihan. Kami pun nyoba-nyoba ikut tes jadi asisten dosen. Poppy ngelamar di Fakultas Kedokteran jadi teamnya dr Aznan Lelo, sementara aku malah jadi asisten dosen Komputer (gak nyambung gitu kan?). Gajinya kecil juga jaman dulu itu cuma sekitar 137.000 rp kalo gak salah. Aku dan temanku Azrian berdua jadi asisten pak Urip dan pak Rasmadin namanya. Jadi asisten dosen sampai tahun 2000 kami lulus kuliah. Setelah itu aku jadi asisten dosen di Fakultas Kesehatan Masyarakat (masih nyambunglaah). Selain nyambi jadi asisten dosen aku yang di kampus buka sanggar tari juga nyambi sekali-sekali ngajar menari yang dibayar gitu (ckckckck kalo inget ini berasa rempong ya). Sekali kasi latihan sampai manggung aku diupah 150,000 rp. Mayanlaah buat anak mahasiswa jaman dulu.

Pada saat kuliah apoteker kesibukanku magang membuat aku nggak bisa nyambi kerja. Paling-paling nerima orderan bikin skripsi atau jurnal farmasi karena jaman dulu jarang yang punya PC gitu di rumahnya jadi aku sering dapat orderan ngetik skripsi dari fakultas apa aja bebas. Satu kali orderan skripsi sampai selesai (plus perbaikan-perbaikan) aku dibayar 250,000 rp. Ayahku sih asik-asik aja dengan ini malah dia kadang-kadang nyariin customer hahhaha.

Nah, setelah tamat apoteker itulah pekerjaan yang sebenarnya harus aku lakoni.

Tamat apoteker tahun 2001, ketika semua teman-temanku udah dapat apotek atau rumah sakit atau tempat ngajar aku malah nggak mau pegang itu semua. Karena menurutku kalau jadi apoteker ya harus memegang etika profesi jadi harus datang dan bertanggung jawab di tempat kerja setiap hari dan digaji sesuai standar. Sementara teman-temanku mau-mau aja gitu digaji kecil. Maka ketika aku ditawari temanku untuk jaga warnet suaminya yang baru merintis usaha di Yuki Simpang Raya (ini mallnya dekat rumahku) aku mau aja. Gajinya 700,000 rp bahkan lebih besar dari gaji apoteker yang pegang apotek saat itu.

Tahun 1997 sebenarnya aku sudah kenal internet, makanya aku bisa jadi asisten dosen komputer pada waktu itu. Tapi ketika aku mulai pegang warnet otomatis aku bisa online gratis tiap hari. Kebetulan masa itu adalah masanya orang-orang lagi butuh banget koneksi internet. Nama warnetnya Hokkibear dan pengunjungnya bule semua plus guide-guidenya. AKu betah sih di situ tapi ternyata suatu hari aku dapat panggilan dari dosen yang Ketua Jurusan farmasi kampus. Si bapak ini menegor aku karena dia dengar aku jadi penjaga warnet sementara aku ini apoteker. Aku jawab aja bukan masalah selama halal dan lagi gajiku juga lebih gede dan beban moral nggak ada.

Tapi ketika abangku kirim sms bilang bahwa sia-sia ilmu apotekerku kalau aku kerja di situ, maka dengan patuh aku pun melamar kerja ke PT HERO untuk jadi store manager di Guardian. Entah kenapa langsung dipanggil pula, psikotes ampe 2 hari, lulus trus tes kesehatan dan ditemukan bahwa aku mengidap hyperthyroid tapi lulus. Maka itu menjadi pekerjaan resmi pertamaku sebagai Store Manager di Guardian Medan (sekarang udah tutup yang di Capital Building itu lho).

Memang udah takdir harus ke Jakarta tiba-tiba aja Hero dan Guardian harus tutup karena low omzet. Semua karyawan Hero dan Guardian diberi pilihan untuk pindah ke Giant di Jakarta tapi aku ga boleh. Harus tetep di Guardian. Akhirnya aku ditransfer ke Guardian Jakarta. Pindah-pindah dari outlet Gatot Subroto, Menteng dan akhirnya menetap di Megamall Pluit (sekarang Pluit Village). Di sanalah aku ketemu suamiku waktu itu (cinlok gitu ya kayanya).

Dua tahun di Guardian aku sakit-sakitan karena hawa AC dari mall yang terlalu dingin katanya. Tapi aku sakitnya sih gastritis seperti biasa. Ibuku memaksa aku pulang. Maka aku resign. Tapi diam-diam aku masukin lamaran ke kompetitornya Guardian, yaitu Century (hahahhaa). Jadi cuma 10 hari di Medan aku udah balik lagi ke Jakarta karena diterima di Century sebagai store manager juga sih. Mulai dari outlet Slipi Jaya, pindah ke Menteng Prada, sampai akhirnya terdampar di Puri. Sejak tahun 2005 sampai dengan sekarang aku masih tinggal di daerah ini. Tapi aku cuma 3 tahun aja di perusahaan ini karena ya gitu alasannya harus ikut suami ke Bangka. Dan aku nggak betah di sana (karena banyak hal), akhirnya aku nekat meninggalkan Bangka (dan suamiku) ke Jakarta, tanpa pekerjaan trus bawa anak umur 1 tahun pula.

Baru nyampe Jakarta 2 minggu, ibuku meninggal :(. Pada saat dikabari ibu meninggal itu aku lagi interview di sebuah perusahaan (masih inget gitu karena udah hampir nangis pas interview). Perusahaan itu menerima aku tapi karena kata abangku nggak usah jadi aku tolak. Entah memang udah jodoh akhirnya aku mencoba interview di perusahaan yang sekarang. Baru interview pertama langsung diterima gitu sampe rasanya nggak percaya. Kenapa nggak ada tes-tesnya gitu ya? Sejak itu aku bekerja di perusahaan yang sekarang mulai jadi product executive sampai dipercaya memegang departemen baby di sini. Udah 5 tahunanlah.

Sempat mencoba kirim aplikasi ke sebuah perusahaan klinik kecantikan paling terkenal di indonesia sebagai branch manager dan diterima. Tapi aku gak sreg sama atasannya jadi aku tolak. Nah sekarang ini aku sedang menunggu jadwal interview dengan sebuah perusahaan farmasi ceritanya mau kembali ke jalan yang benar mudah-mudahan jodoh.

Kalau ditanya pekerjaan mana yang paling aku suka dan mana yang paling aku nggak suka, terus terang semuanya ada plus minusnya. Ketika di Guardian memang aku kurang update ilmu farmasi tapi ilmu management dan bisnisnya bagus. Ketika di Century bosnya nyebelin tapi ilmu farmasinya update semua dan aku kagum banget dengan ibu Karimah Muhammad yang sampai saat ini masih menjadi Trainer Manager di sana. Ketika di perusahaan yang sekarang pun memang perusahaan kecil dengan brand-brand besar. Gaji kecil tapi kekeluargaan dan rasa nyamannya begitu terasa. Karena perusahaan kecil maka aku harus bisa semuanya. Ilmu bertambah mulai dari ga bisa photoshop sampe bisa. Mulai dari cupu pake Excel sampe bisa bikin tabel-tabel aneh, mulai dari nggak ngerti bisnis plan sampe aku bisa ngajarin orang. Mulai dari ga paham ilmu marketing sampe aku pun bisa ngajarin orang lain.

Semuanya pelajaran yang sangat menyenangkan. Pekerjaan itu bukan masalah gaji dan fasilitas yang besar, tetapi ilmu yang bisa kita dapatkan juga penting di dalamnya.

Gimana sih kabar si Poppy temenku itu? Dia sekarang sudah jadi dosen S2 di Fakultas Farmasi USU dan sedang dalam penantian sidang guru besar. Sementara itu temenku yang suaminya buka warnet dulu itu sekarang perusahaan providernya sudah buka cabang di 3 kota namanya Nusanet, bahkan kantorku pun pakai jasanya juga atas rekomendasi aku :D.

Setiap orang punya jalan hidup yang tak diduga ya. Yang penting kita selalu bersyukur dan menikmatinya.

 

39262_1168841918284_1745067899_308104_3643112_n - Copyaku, nomor 2 dari kanan. poppy nomor 2 dari kiri selepas menari Gending Sriwijaya pada acara pelantikan apoteker

25157_1376641891545_5928511_nmunawaroh, aku, poppy

wisuda sarjana Farmasi USU

9632_1212446946774_3266142_nTegar, aku, erlyn. apotek century

Saya Apoteker Lho

Judulnya memang agak sok gitu, kalo kira-kira pengen gampar aku ya gapapa gampar aja kan gak berasa ini :p.

Iya saya memang apoteker lho. Apoteker Indonesia tepatnya dan tergabung dalam Ikatan Apoteker Indonesia (IAI).

Sebenarnya aku sudah mendapatkan gelar apoteker ini sejak tahun 2001. Pada saat itu apoteker masih lumayan langka lho terutama untuk daerah sumatera bagian utara. Jadi ketika ujian komprehensif (ujian akhir) apoteker, beberapa pengusaha apotek turun ke kampus kami untuk coba-coba rebutan calon apoteker yang akan lulus. Saat itu kami ada sekitar 14 orang calon apoteker.

Saat break sidang, aku nggak ikutan interview dengan kawan-kawan yang lain. Salah seorang PSA (pemilik sarana apotek) sempat mendekatiku katanya dia dari Aceh dan akan buka apotek di banda aceh. Aku ditawari sebagai apoteker penanggung jawab dengan gaji sekian, aku tolak dengan alasan gajinya gak sesuai standar. Padahal menurut teman-temanku itu gaji lumayan tinggi dibandingkan dengan apoteker yg lain.

Bayangin aja, aku kuliah farmasi itu  lulus dengan usaha sendiri (gak pake nyogok), trus uang kuliah, biaya praktikum, beli buku-buku, biaya penelitian plus kuliah apoteker sebagai profesi itu juga bukan uang yang sedikit lho dari ibu dan bapakku, masaaa aku mau aja ditawari gaji di bawah standard. Nggak etis ah. AKhirnya aku memilih untuk bekerja di luar dunia farmasi. Meskipun sempat bekerja di retail farmasi besar tapi aku nggak memegang posisi apoteker penanggung jawab melainkan cuma jadi store manager aja. Beban moralnya nggak berat. Walaupun kesehariannya aku memberikan konseling pada pasien.

Kenyataan di lapangan yang kutemukan adalah banyak sekali apoteker penanggung jawab apotek itu datangnya cuma sebulan sekali ke apotek. Cuma tanda tangan surat pesanan narkotik dan psikotropik mungkin atau cuma buat ambil gaji. Ya wajarlah kalau gajinya di bawah standard. Coba kalau ditertibkan, misalnya para PSA itu mewajibkan untuk mempekerjakan apotekernya full time dengan sistem shift dan gaji sesuai dengan standar bukannya itu lebih baik?

Toh kalau nggak ada apoteker, apotek-apotek modern yang banyak banget di mall-mall itu nggak bakalan bisa berdiri. Herannya ada aja apoteker yang mau digaji 1juta atau 1,5 juta cuma buat dipakai namanya di apotek itu. Nggak mikir tanggung jawab dia seperti apa kali ya?

Ternyata nih, mulai tahun ini apoteker mulai akan ditertibkan. Dalam arti nggak asal-asalan comot lagi. Sekarang setiap apoteker harus meng-update kemampuannya dalam dunia farmasi dengan memiliki sertifikat kompetensi. Sejak tahun berapa aku nggak tau pasti dimulainya sertifikasi kompetensi ini. Apoteker harus mengikuti ujian untuk mendapatkan sertifikat. Tapi mulai tahun depan tidak ada lagi sistem ujian melainkan harus melaksanakan kerja kefarmasian sesuai dengan bidang yang dipilih untuk mendapatkan nilai yang dibutuhkan selama 5 tahun.

Jadi ketika kita memutuskan untuk menjadi apoteker udah nggak bisa ngelak lagi untuk gak mengabdikan diri dan ilmunya kepada masyarakat. Semoga aku bisa. Doain yaa …