Pemilik Hati

Engga mengetuk-ngetukkan ketiga buku jari tangan kanannya pada novel DrachenReichter bersampul biru tua yang entah kapan akan selesai dibacanya. Seingatku sih ia telah memulai membaca buku itu sejak aku membeli sepatu coklat tua dengan hiasan bunga mawar merah di bagian kiri kanannya. Dan itu sudah sekitar enam bulan yang lalu. Sebegitu membosankannyakah isi buku itu sampai seorang Engga yang selalu haus dengan buku tak mampu menuntaskannya.

Namun mungkin juga keengganannya menyelesaikan buku itu adalah salah satu sebab dari kegelisahannya belakangan ini. Lihat saja ia bertampang putus asa sejak pagi ketika berangkat kerja dan dengan malas berpamitan padaku. Apa yang aku maksud dengan belakangan ini tidaklah sama dengan waktu ketika aku membeli sepatu bunga mawarku itu. Tidak. Ini lebih dari enam bulan yang lalu. Mungkin sudah lebih dari satu tahun. Sejak mengenal perempuan itu.

Aku tak bilang kalau aku tak mengenal perempuan itu, sebab akulah justru yang membawa Engga ke dalam kehidupannya. Atau mungkin aku yang membawa Lilian ke dalam kehidupan kami. Lilian sebenarnya bukan temanku secara langsung. Bukan teman sekolahku, teman kerjaku atau teman yang bertemu di gym tempat aku biasa latihan. Lilian itu temannya Edwin. Entah bagaimana caranya ketika di sebuah acara kantor Edwin mengenalkanku pada Lilian. Tentu saja saat itu aku hanya sekedar basa-basi beramah-tamah dengan beberapa orang yang harus disapa seperti biasa untuk urusan bisnis. Edwin pun pasti demikian. Sebagai atasanku tentu aku harus mampu beramah-tamah dengan teman-temannya.

Lalu pada suatu hari aku dan Engga menghadiri resepsi pernikahan anak Pak Bambang dari divisi lain. Dan di sanalah Lilian, dengan gaun putih sebetis dan beberapa asesoris perak yang melingkar di leher dan pergelangan tangannya. Ya, aku akui ia memang terlihat menarik dan entah kenapa aku harus bertemu dirinya saat bersama Engga. Aku telah membawa kehidupan rumah tanggaku ke dalam apa yang disebut drama pada tahap-tahap selanjutnya.

Aku tak menunjukkan reaksi apapun saat mengetahui bahwa Engga akhirnya berkomunikasi dengan Lilian melalui sms pada suatu hari sejak pertemuan kami dengannya telah lewat dua bulan. Dan Engga kemudian mengajakku nongkrong bareng dengan Lilian dan pacarnya. Laki-laki bernama Rama itu yang dengan tampang datar terus berada di sebelah Lilian, namun Enggalah yang sibuk mengobrol dengan mata berbinar-binar menatap Lilian.

Tatapan itu aku mengenalnya, bahkan binar yang terlihat lebih cemerlang daripada ketika Engga menunjukkan perhatiannya padaku saat pertama kami bertemu. Suamiku telah jatuh cinta lagi. Pada Lilian.

Ia pun menjadi sangat bersemangat saat bercerita tentang Lilian dan kegiatan-kegiatannya. Dan aku menanggapinya dengan suara dan ekspresi datar. Lalu Engga akan terlihat lebih bersemangat saat Lilian baru saja menelfon untuk alasan bisnis yang kebetulan telah menghubungkan mereka. Ia begitu penuh energi. Senyum yang begitu samar terpancar di wajahnya yang tampan.

Telepon genggamnya bergetar. Engga dengan sigap membuka notifikasi apapun itu yang ia terima. Aku melirik dengan ekor mataku dan menemukan ujung-ujung bibirnya tertarik ke atas.

Laki-laki ini begitu dekat denganku. Namun hatinya begitu jauh.

 

3 thoughts on “Pemilik Hati

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s