#10 Tiga Perempuan dan Naik Taksi

Gak terasa udah sepuluh hari ya update postingan tiap hari *elapkeringet* dan sumpah hari ini aku males banget nulis hikz, jadilah jam segini baru buka leptop pengennya maen game aja seharian plus minum kopi dan baca buku yihaaaa.

Tapi baiklah demi suksesnya #20DaysBloggingChallenge maka aku akan posting tantangan dari adikku Phie:

hmm, aku pingin Kak Jul cerita soal buku Tiga Perempuan (behind the scene) juga cerita soal naik taksi, keknya seru tuh :lol:

Pas baca tantangan ini aku langsung ketawa, kenapa?

Pertama sumpah aku udah ga inget lagi itu behind the scene pas nulis buku Tiga Perempuan yang aku ingat cuma momen ketika aku sama arie dan kenan digigitin nyamuk di warung roti bakar CNI pas mereka berdua bantuin aku finishing cover bukunya :p.

Kedua, Phie perhatian banget deh sama aku yang sering naik taksi ini bukannya mau boros dek tapi karena aku ga punya kendaraan baik itu mobil atau sepeda motor, aku takut naik ojek untuk jarak jauh, takut naik transjakarta, takut naik kopaja daan yang kedua adalah karena aku kemana-mana memang dibayar ongkos taksinya hehehhe.

Oke sekarang ceritanya satu-satu deh. Mumpung Phie nanya tentang buku Tiga Perempuan aku sekalian ahh iklan lagi (tetep ye Jul). Nah ceritanya aku kan udah mempublish 3 buku (walaupun ecek-ecek) yang pertama buku kumpulan puisi berjudul Gerhana Coklat (sesuai nama blog ini) yang dipublish di nulisbuku.

Buku kedua judulnya Pada Suatu Ketika, merupakan cerita ringan tentang cinta dengan latar belakang kehidupan para mahasiswa gitu deh. Dan buku ini juga aku publish di nulisbuku. 

Pada dua edisi di atas aku sempat menerbitkan mug sesuai dengan judul bukunya lho:

mug Pada SUatu Ketika

mug Pada SUatu Ketika

Sementara itu, Phie menanyakan buku Tiga Perempuan yang merupakan buku terakhir yang pernah aku publish di Leutikaprio, nah ketiga buku ini aku terbitkan secara berturut-turut dalam waktu 3 tahun dan kemudian aku belum menerbitkan buku lagi insya Allah tahun ini doain yaa kakak-kakak sekalian karena naskahnya udah selesai tapi ya gitu belum diserahkan gitu ke penerbit.

Balik ke Tiga Perempuan, bagaimana ya behind the scene-nya? Sebenarnya buku ini aku tulis tanpa sengaja, mula-mula aku menulis puisi bunyinya begini

tiga orang perempuan

berjalan pelan-pelan

satu berpita, lainnya memakai terompah

membawa sekeranjang cinta

Trus tanpa sengaja terciptalah tokoh Elena (yang sebenarnya merupakan nama yang aku niatkan kalau punya anak perempuan entah kapan itu pada suatu hari nanti). Cerita pun mengalir begitu saja. Meski pada saat duduk di sekolah dasar dulu kalau mau bikin karangan kita kudu bikin kerangka karangan kaya tokohnya siapa, lokasi, dan lain-lain dalam buku ini aku nggak bikin itu duluan, cuma nulis aja dan nulisnya pun mood-moodan gitu. Alhamdulillah terjadilah 153 halaman cerita (dikit ya?) dan meskipun di leutikaprio menyediakan pembuatan cover tapi aku tetep pingin memilih design cover sendiri yang dibantu oleh fabian studio sebagai art finisher.

Demikianlah penampilan bukuku itu

Tiga Perempuan, Mei 2012

Tiga Perempuan, Mei 2012

Aku menulis buku itu tujuannya adalah memberikan hadiah ulang tahun kepada diriku sendiri walaupun gak pas-pas banget momennya tapi biasanya bukuku terbit sekitar maret – mei dimana aku ulang tahunnya bulan april.

Nah sekarang kita cerita tentang pengalamanku naik taksi ya, Phie. Duh kalo ditanya itu rasanya banyak banget yang bisa aku ceritakan kayanya tapi saking banyaknya bingung ini yang mana hihi.

Mungkin Phie tau kebiasaan aku naik taksi gara-gara aku sering twit nomor pintu taksi ya? Mulanya sih dulu aku merasa butuh untuk melakukan ini untuk keamanan karena kan waktu itu sedang banyak aksi perampokan taksi, pemerkosaan dan tindak kriminal lain. Meskipun biasanya aku cuma memilih dua brand taksi besar di Jakarta, tapi untuk waktu malam rasanya lebih aman kalau aku woro-woro nomor pintu taksinya.

Selama naik taksi, ada banyak pengalaman yang lumayan senang, deg-degan bahkan cukup membahayakan. Kalau pengemudinya asik aku pun bisa ngobrol panjang sama mereka dan nggak berasa lewatin macet. Biasanya yang kami obrolkan adalah situasi politik, macet dan isu yang sedang ramai di media. Kadang-kadang mereka suka curhat tentang kehidupan pribadi, pekerjaan dan anak-anaknya. Tapi kalau udah ketemu pengemudi yang nyebelin suka gak sabaran dengan situasi jakarta yang macet trus jalannya ngerem-ngerem bikin pusing aku bisa mabok juga. Malah suatu hari aku pernah pingsan di taksi, alhamdulillah bapaknya baik banget karena aku sempat muntah-muntah hebat akibat terjebak macet beberapa jam di toll dan belum juga buka puasa. Dan ini juga dari taksi dengan brand terbesar itu lho.

Saking seringnya aku pesan taksi biru ini, suatu hari aku diundang acara buka puasa blogger ke sana dan boleh melihat isi ruang bagian pengendalian orderan taksi dan jalur armada mereka, dan pas ngecek namaku dengan nomor telpon yang biasa aku gunakan untuk pesanan, ditemukan history bahwa aku sudah menggunakan armada mereka 240 kali by phone. Hahahha, itu belum sama yang nyegat di jalan yaaa :p.

Sebenarnya sih aku kepingin juga kaya temanku yang tough gitu nggak naik taksi misalnya naik transjakarta kemana-mana atau berani naik mobil PPD, tapi ternyata usia dan kesehatan jugalah yang menentukan (usia nggak sih karena emang dari dulu ga berani kemana-mana). Pernah juga nyoba mau naik transjakarta nih ceritanya, udah masuk ke halte, bayar 3500 trus nanya kalau mau ke harmoni nunggu di pintu sebelah mana. Trus aku ngantri nih ceritanya, setengah jam berlalu tanpa kehadiran sang transJ, tiba-tiba pas datang isinya penuh bangeeet sementara itu kami yang ngantri aja ada dua puluhan gitu. Ya udah deh, langsung balik kanan, keluar lagi dari halte, turun jembatan, nyetop taksi eaaaa😀. Dan memang dari kantor aku dianjurkan naik taksi sih untuk urusan kesana-kemarinya.

Pernah sih disuruh bos untuk naik mobil dan mau dikreditin dari kantor, tapi coba deh dipikir-pikir lagi beli mobil udah berapa, trus Jakarta tau sendiri kan kaya apa macetnya sementara itu aku orangnya kaya gini, yang ada nih capek nyetir, capek nyari parkiran trus sakit deh, belum bayar pajak, biaya operasional mobil dan lainnya, bukankah lebih hemat dan asik dengan cara pesan taksi, duduk manis, bayar. Gak apa-apa dibilang boros, insya Allah sampai hari ini masih diberikan rejeki untuk bisa naik taksi meskipun itu bukan urusan kantor hehehe.

IMG-20130512-WA000foto narsis di taksi yang dapat hadiah voucher itu

 

4 thoughts on “#10 Tiga Perempuan dan Naik Taksi

  1. Kalau aku lagi di Jakarta, lebih sering memanfaatkan jasa ojek ketimbang taksi. Agak sedikit menegangkan memang kalau pakai ojek, tapi karena tuntutan waktu, terpaksa dilakoni juga..🙂

    Powered by Telkomsel BlackBerry®

  2. Woooow. Karena saya sudah tidur lama banget di twitter jadi ga pernah tahu twit nomor taksinya Kak. Hihihi. Ish kalo antri di TransJ emang kadang suka niat balik badan aja cegat taksi. parah soalnya.
    Trustrustrus pernah itung-itungan nih Kak, kalo naik taksi lebih dari 30 kali sebulan better beli/nyicil mobil ajah. Hehehe. Dan akhirnya itu yang saya lakukan. Btw kapan-kapan mau nyari bukunya Kak Jul.😀 Bisa minta tanda tangan kan ya Kak kalo dapet?

    • asiiik dapat customer :p aku ga mungkin donk dan tiap hari naik taksi, kan itu kalo aku pas mau meeting kemana, mengunjungi toko mana gitu. kalau sehariannya aku mending naik ojek atau angkot ke kantor

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s