Aku yang Paling Benar

Pernah nggak sih kita ngerasanin teman kantor yang cara berpakaiannya aneh, atau tindak-tanduknya aneh?

“eh si Dwi itu kalo pake dress pendek banget ya trus nggak pake stocking lagi padahal kan mau meeting sama buyer, nanti buyernya mikir dia jualan produk atau jualan yang laen” trus disambut dengan ketawa-ketiwi.

atau gini,

“dih si Endro itu cowo atau cewe sih masa pake celana warnanya ijo gitu samaan dengan sepatu trus celananya ngepas lagi model pensil mana dia selalu pake scarf leher tiap hari nggak jelas gitu kan gayanya.”

atau,

“Gue sebel deh sama meja belakang, kerjaannya pakai telpon kantor buat urusan pribadi mulu. mana suaranya berapa desibel kemana-mana. gue lagi nelfon customer sampe keganggu sama suara dia ketawa-tiwi.”

Setiap orang memang tidak ada yang sempurna baik penampilan maupun sikap dan tingkah laku. Kita sering banget memberikan komen kepada orang lain yang menurut kita aneh atau salah karena tidak sesuai dengan kriteria benar atau baik menurut kita.

Mungkin saja bagi Dwi penampilan dengan dress pendek banget itu biasa saja untuk ketemu klien. Memang sih akan lebih baik jika pakaiannya lebih tertutup jadi kesan formil lebih terlihat tapi kalau dia merasa nyaman dengan pakaian seperti itu selama masih wajar didukung dengan sikap di depan klien kelihatannya ya sah aja. Nggak ada yang salah dari penampilannya selama kita melihat dari sisi positif terutama jika orang itu tak bermaksud negatif.

Belum lagi si Endro yang terlihat banci dengan celana warna-warni. Hari ini hijau, besok jangan-jangan celananya pink. Ada aja sih cowo-cowo dengan gaya berpakaian genjreng gitu tapi bukan berarti dia langsung bisa dicap transgender kan? Mungkin dia memang hobi aja pakai celana dan sepatu warna centil karena generasi jaman gini sih lebih berani warna emang aku yang bajunya hitem putih abu-abu coklat mulu?

Tapi kalau menggunakan fasilitas kantor untuk urusan pribadi secara berlebihan apalagi mengganggu karyawan lainnya yah tak bisa diterimalah itu dan memang harus ditegur. Kalau ngeblog pas jam kerja kaya gini gimana?

Melihat kembali kepada diri sendiri yang ternyata banyak kekurangan dan kesalahan sebelum menilai orang lain salah dan kita lebih benar.

 

9 thoughts on “Aku yang Paling Benar

  1. intinya saling menghargai / menilai positif apa yang orang lain lakukan, kecuali yang benar2 tidak beretika dan bermoral alias bertolak belakang dengan hukum/aturan di sekitar

  2. Kalo kata Bapak alm. Kak, jangan pernah menghakimi orang kalo ga mau dihakimi Tuhan berlipat ganda karena kebanyakan menghakimi ^^

    oops… saya juga curi waktu neh baca blognya Kak Jul ^^

  3. Memang harus dibedakan mana yang urusan personal …
    mana yang urusan profesional …

    urusan profesional … jika ada yang melanggar … seyogyanya ada yang memberi tau
    ada yang membicarakannya

    Salam saya Kajol

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s