Meminta Maaf, Tugas Siapa?

Pernahkah kalian merasa begitu marah sampai sulit rasanya untuk memaafkan? Aku pernah dan sering. Tapi suatu hari dulu ketika masih kecil, almarhum pak hardy pernah mengajarkan bahwa memendam kemarahan dan dendam itu tidak baik, karena Tuhan pun selalu mengampuni ummatNya yang meminta maaf.

Tetapi perasaan marah itu tingkatannya berbeda-beda. Aku bahkan pernah merasa marah pada diri sendiri, pada Tuhan bahkan suatu kali ketika Dia mengambil kedua orang tuaku dalam waktu yang sangat dekat. Perasaan marah itu tak bisa dinegasikan dari pikiran dan hatiku. Bahkan aku tak mau berpura-pura tidak merasa marah. Dalam setiap doaku kepada Tuhan, aku bertanya kenapa beliau mengambil almarhum ayahku yang begitu aku butuhkan ketika aku tak punya ibu lagi. Setiap hari aku marah padaNya tapi aku pun selalu meminta ampun karena marah padaNya.

Lama-kelamaan perasaan marah itu berkurang, entah karena aku memang sudah bisa menerima keadaan dan memaafkannya atau karena aku terbiasa menerima ujian-ujian kehidupan yang begitu menakjubkan yang diberikan oleh Tuhan. Aku yang ketika awal kehilangan ayah dan ibu begitu sinis, pemarah, suka ngambek padahal dulunya dikenal ramah dan ceria berangsur-angsur mampu menghilangkan sifat pemarahku, kembali menikmati hidup.

Kemudian pada suatu hari aku mengalami perasaan itu kembali. Perasaan marah kepada seseorang yang sebenarnya sangat aku sayangi. Kemarahan ini mungkin karena kami tidak bisa bersama, tapi aku pun bingung aku marah pada siapa? Apakah pada dia atau pada orang lain atau pada keadaan? Atau jangan-jangan pada diriku sendiri?

Aku memutuskan untuk tidak menerima bentuk hubungan apapun dengan dia setelah komunikasi kami memang begitu terbatas. Aku merasa keputusanku ini sudah sangat benar dan terbaik untuk siapa saja seluruh rakyat indonesia (ini gw mau nyapres atau gimana sih?).

Tetapi perasaan lain muncul beberapa hari ini. Perasaan bersalah. Benarkah perbuatanku ini? Mengingat apa yang ia lakukan juga untuk kebaikan kami semua. AKu mulai dihantui mimpi-mimpi dengan tema yang sama. Wajahnya yang memohon maaf. Sebenarnya tak ada yang bersalah di antara kami. Tetapi aku merasa seperti itu. Dan masih merasa marah. Lalu siapa di antara kami berdua yang harus meminta maaf?

 

 

 

4 thoughts on “Meminta Maaf, Tugas Siapa?

  1. Aku juga marah sama Tuhan, ketika mengambil bapak dan mama dalam setahun😦
    Butuh waktu hampir setengah tahun untuk berdamai denganNya.
    Tapi kalau marah ke anak-anak, aku nggak sungkan meminta maaf duluan, aneh kan:D

  2. aih kakjuuul. curhatnya mbikin aku pengen ikutan curhat. hahahahaha.. sini sini siniiii aku aja yang minta maaf. minta maaf sama siapa? hehehehe
    minta maaf itu tugas mereka yang dewasa, tugas mereka yang lebih bijaksana🙂

  3. Kak Juuuul, saya gak paham sih sebenernya ini masalahnya apa, tapi menurut saya kalau memang bisa membawa kebaikan bersama, gak ada salahnya kita yang meminta maaf duluan meskipun kita merasa gak bersalah. Menunjukkan kebesaran hati dan kedewasaan dan kadang hasilnya malah jauh lebih bagus dari dugaan..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s