Demo

Setiap dengar kata demo apa yang pertama kali kalian ingat atau pikirkan?

Kalo aku sih jujur aja langsung kepikiran demonstrasi atau unjuk rasa, di peringkat kedua mungkin bisa demo masak atau demo produk yang sering ada di supermarket atau department store gitu.

Pengalaman unjuk rasa yang paling top pernah aku alami itu tahun 1998 ketika bersama seluruh mahasiswa Indonesia mencoba menurunkan presiden Soeharto yang akhirnya memang berhasil. Demonya sih pada awal agak rusuh, tapi rusuhnya cuma gitu-gitu aja, bakar ban di dalam kampus trus disiram aer sama petugas keamanan. Dan korban jiwa rasanya nggak ada, anarkis juga enggak. Malah pada saat itu kami sebagai mahasiswa dianggap sebagai pahlawan. Semua penduduk di sepanjang jalan yang kami lewati mengelu-elukan kami bahkan mereka menyediakan minuman dan makanan ala kadarnya karena kebanyakan dari mahasiswa yang turun ke jalan pasti nggak bawa bekal.

Belakangan demo-demo semacam itu makin banyak tetapi sayangnya banyak yang tidak tertib. Lalu yang paling baru dan menjadi perbincangan saat ini adalah demonstrasi buruh menuntut kenaikan upah.

Tadi sore aku terbaca sebuah post dari seorang blogger yang kalo gak salah pernah baca juga namanya di twitter suka diretweet gitu sama yang lain. Nah si beliau ini menulis tentang kelas menengah ngehe yang bisa nutup jalan buat lari marathon trus gak jadi masalah sementara buruh nutup jalan buat unjuk rasa diributin seluruh rakyat indonesia.

Kalau baca komen-komennya sih dahsyat banget ya karena kebanyakan dari mereka terjebak di sana. Malah di grup pelari yang aku ikut gabung mereka ada yang nggak paham bahwa itu yang nulis bukan buruh beneran yang kerja di pabrik gitu.

Aku sih nggak ngebelain para pelari marathon tadi juga nggak ngebelain buruh yang ikut unjuk rasa terutama yang kemaren berangkat demo naek motor gede yang cicilannya 1,5 juta sebulan trus pas diwawancara kenapa mau minta upah 3,7 juta karena buat bisa nyicil motor itu dan nggak mau capek lembur.

Sebagai salah seorang yang masih buruh juga (masih kerja dan digaji oleh orang lain), aku cukup prihatin dengan buruh pabrik di depan kompleks perkantoran yang gajinya masih di bawah UMP jakarta tapi pernahkah para buruh itu berpikir bahwa nggak semua pengusaha itu rakus, jahat dan kongkalikong dengan pemerintah? Memang sih ada yang kaya gitu, tapi toh nggak semua. Dengan mereka menciptakan lapangan pekerjaan saja itu sudah sebuah kesempatan untuk buruh punya pekerjaan. Trus kalau sekarang menuntut kenaikan upah sebegitu besar emang nggak kepikiran apa biaya operasional sebuah perusahaan itu berapa?

Aku bukan pengusaha juga sih tapi kebetulan aku terlibat dalam beberapa hal yang menuntut dijaganya profit and loss sebuah perusahaan jadi lumayan banyak tau betapa pengusaha mengeluarkan banyak biaya untuk segala macam tetek bengek peraturan pemerintah yang ditetapkan.

Jadi masih mau demo apa nggak nih?

14 thoughts on “Demo

  1. Lha, kemarin di kompas kan dimuat, buruh bisa pilih jadi tenaga kontrak atau PHK. Sebenarnya, selama masih ditawar, saya rasa pabrik atau perusahaan akan menaikkan upah. Tapi kalau sudah mentok ya mau gimana, dituruti, malah rugi semua.

  2. karena buat bisa nyicil motor itu dan nggak mau capek lembur.

    Saya hanya tersenyum …
    dan berkata dalam hati … sama aaaajjjjaaaa …

    Lama-lama saya percaya juga apa kata orang … bahwa ini ada sponsornya nih …

    Salam saya

  3. Waduh mbak Jul ini bawa2 demo 1998 segala ah. Ngeri ah mba kalo inget masa-masa itu. Saat itu saya sudah kerja di Kalideres, di pabrik kabel. Tiap pagi lewat Trisakti dan Jln Daan Mogot. Demo yg makin hari makin membawa keadaan semakin chaos. Yg ngeri, melihat tumpukan mobil2 bangkai pembakaran semalam di satu pagi di jalur pemisah Daan Mogot. Ujung cerita 1998 itu bagi saya adalah di PHK nya saya di Oktober 1998. Padahal anak ke-3 saya baru lahir di bln Juli. Begitulah sekelumit 1998 buat saya pribadi…

    Salam,

  4. saya malah jadi kehilangan simpati liat cara para buruh itu demo, dari nendang2 gerbang pabrik tetangga buat nyiduk temen2 mereka, sampai mo ngerobohin semua pagar kantor dinas pemerintah sendiri. ya enggak salah pada akhirnya ada ormas/ warga yang jadi senep sama mereka, berlaku juga tuh buat mahasiswa yang dikit2 demo

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s