Petualangan Fans Pro 2

Mahasiswa edisi lama pasti tau dan pernah merasakan yang namanya KKN (Kuliah Kerja Nyata). KKN yang ini bukan Korupsi Kolusi dan Nepotisme ya, tetapi satu mata kuliah wajib sebanyak 1 SKS yang harus diambil oleh mahasiswa nggak negeri ataupun swasta untuk menyelesaikan studinya di perguruan tinggi. Setauku sih sekarang sudah tak berlaku lagi mata kuliah KKN ini tapi entah juga ya apa masih ada yang menerapkan. KKN di sini bertujuan untuk memberikan pengalaman nyata kepada mahasiswa yang nantinya akan terjun ke masyarakat bagaimana membangun masyarakat itu sendiri plus juga semacam training pendewasaan saat terjun ke masyarakat.

Sebagai salah satu mahasiswa di era Soeharto maka aku pun kebagian mata kuliah KKN ini. Jadi mahasiswa tahun 1994, akhirnya aku bisa ikutan KKN di tahun 1998. Pas banget di tahun ini prosedur KKN-nya asik banget. Kenapa asik? Karena kita mahasiswa boleh memilih sendiri lokasi KKN plus milih teman-teman KKN-nya siapa aja. Kurang enak apa coba?

Jadilah aku dan temanku Popi mendapatkan teman-teman KKN Ariev, Juned, Arsyad mahasiswa Fakultas Ekonomi yang merupakan teman-teman SMA-ku, Leli mahasiswa arsitektur teman kakakku, Maya, Roni dan Budi teman satu fakultasnya si Ariev. Lokasi KKN yang kami pilih adalah Binjai karena dari Medan hanya sekitar 30 menit itu pun jalannya santai. Oya, by the way kami itu mahasiswa USU Medan dan semuanya angkatan 94 kecuali Leli yang angkatan 93. Meski bisa milih lokasi kota untuk KKN, tapi untuk desa tempat kami mengabdi akan ditentukan oleh panitia KKN, nama desanya Suka Makmur (masih inget aja sih aku ya?).

Berhubung kami semua bertempat tinggal di Medan, maka pada hari pertama KKN kami berangkat bareng-bareng naik mobilnya Ariev dan Maya. Cuma dua orang ini yang punya mobil. Berdasarkan kesepakatan di lokasi akhirnya kami memutuskan menjadikan mobil si Ariev yang Espass itu sebagai kendaraan operasional selama KKN. Jadi beli bensin harus patungan.

Jadwal KKN yang 1,5 bulan itu agak membosankan dimana kami berada di desa yang sudah maju, bahkan kami tinggal pun di rumah penduduk yang sudah lengkap peralatan listrik dan fasilitas rumah tangga lainnya. Masak pun enggak karena udah langganan catering. Maka suatu hari ide untuk jalan-jalan ke Banda Aceh muncul ke permukaan. Kebetulan jarak dari Binjai ke Banda Aceh sebagai ibukota Daerah Istimewa Aceh ini cuma sekitar 800 km yang bisa ditempuh dalam waktu 8 jam jaman dulu ya gak tau deh sekarang berapa lama waktu tempuhnya. Berdasarkan kesepakatan kami akan berangkat seminggu sebelum KKN berakhir, naik Espass-nya Ariev dan patungan biaya perjalanan masing-masing Rp. 150,000. Tahun 1998 uang segitu udah banyak sih. Tapi Maya memutuskan nggak ikutan dengan alasan pribadi.

Pada hari yang ditentukan (aku lupa hari apa), aku yang sebelumnya sempat pulang ke Medan buat ngirim cucian kotor ganti pakaian bersih dan ngambil duit jajan, udah siap berangkat dari lokasi KKN. Hari itu sebelum ke Binjai aku menemani Ariev buat tune-up mobil dan ganti oli plus ngisi bensin full tank. Yah namanya mau perjalanan jauh kan kudu persiapan mesin mobil harus fresh dan oke. Pas banget udah mau jalan, eh tiba-tiba Popi, Arsyad dan Leli mengundurkan diri nggak jadi ikutan, menurut Popi di Aceh itu sedang ada kondisi darurat militer. Aku pun tak paham pada saat itu. Karena para cewek nggak ada yang ikutan, aku sempat bimbang masa iya aku jadi wanita tunggal dalam perjalanan ini? Tapi karena penasaran belum pernah main ke Aceh, akhirnya aku berangkat juga bareng Ariev, Budi, Roni dan Juned. Perjalanan hampir saja dibatalkan karena pesertanya hanya 5 orang tentu budget kami berkurang tapi karena nekat akhirnya tetap jalan sesuai rencana.

Kami berangkat dari Binjai jam 10 malam, Ariev yang pertama nyetir. Kota pertama yang kami lalui setelah Binjai adalah Tanjung Pura. Kota ini terkenal dengan Lemang dan Duriannya. Kami sempat berhenti di salah satu masjid di sana buat sholat isya dan buang air kecil. Lalu lanjut dan aku nggak paham kota-kota apa saja yang dilewati sampai akhirnya kami mendarat di Lhokseumawe pukul 1 pagi. Sempat minum kopi di warkop tengku di sana bareng pak Polisi yang lagi tugas. Takut kelamaan, kami lanjut lagi jalan dan Ariev digantikan oleh Budi buat nyetir. Karena kelelahan akhirnya kami memutuskan untuk istirahat di pinggir jalanan kota Pidie. Herannya si Budi tuh nggak nyari lokasi istirahat di pos ronda kek atau apa, tapi bener-bener di pinggir jalan.

Sekitar jam 5 subuh tiba-tiba ada penduduk yang membangunkan kami. Mungkin karena waktu sholat subuh sudah tiba, mereka juga menganjurkan kami untuk ikutan sholat. Di antara kami semua nggak ada satu orang pun yang bisa dan paham dengan bahasa Aceh sementara warga Pidie yang kami temui tak bisa pula berbahasa Indonesia. Akhirnya dengan beberapa kode kami pun menyampaikan bahwa kami dalam perjalanan ke Banda Aceh. Sebenarnya agak menyeramkan juga suasananya karena penduduk memaksa kami ikutan sholat dan mandi di sungai. Untungnya ada Roni yang sok-sok paham bahasa Aceh, dengan agak sedikit berbelit-belit Roni mengatakan akan sholat di mesjid selanjutnya (pinter aja nih orang  ngeles).

Jam 7 pagi kami akhirnya tiba di Banda Aceh. Tempat pertama yang dituju apa? Pastilah warung makan! Laper banget yaaa dari Binjai jam 10 malam belum diisi apa-apa kecuali air mineral dan cemilan kacang rebus. Kami sarapan di salah satu warung lontong sayur, rasanya lumayan dan harganya pun standar. Lalu kami menyusun rencana hari itu. Selesai sarapan, kami harus mandi tentunya. Dari awal kami memang berniat untuk menumpang di rumah Irsan, temannya Ariev yang kuliah di FE Unsyiah. Tapi masalahnya adalah Ariev nggak tau rumahnya Irsan dimana. Maka kami segera menuju Fakultas Ekonomi Unsyiah, dengan kondisi belum ada yang mandi dan sikat gigi (pada ngeh nggak ya mahasiswa di sana?). Bayangin aja nyari satu mahasiswa di kampus besar kaya gitu, nanya-nanya sana sini tapi akhirnya ketemu juga sama Irsan. Tapiiii ternyata si Irsan ini cuek aja kaya nggak merasa perlu buat nolongin si Ariev dan teman-temannya yang butuh tumpangan.

Jadilah hari itu kami mandi di mesjid raya Banda Aceh. Dengan sedikit merayu petugas kebersihan mesjid aku bisa mandi di kamar mandi kecil penuh lubang angin, tapi pake acara salam tempel supaya dibolehin. Mandinya juga kudu diem-diem supaya nggak ada yang sadar kalau ada cewek sedang mandi di situ.

Masjid Baiturrahman Banda Aceh

Habis mandi kami sempat foto bareng di depan mesjid raya. Jaman itu belum ada kamera digital, dan yang bikin geregetan adalah tak satu pun dari kami yang bawa kamera -______-. Jadi pasrah deh dengan tukang foto keliling yang janji mengirimkan foto kami setelah dibayar 5000 ke alamatnya Ariev. Karena belum masuk waktu sholat Zuhur kami pun segera cabut menuju pasar di belakang mesjid, tujuan utama kami ke Banda Aceh adalah nyari souvenir kenang-kenangan buat bapak kepala desa tempat kami KKN (so sweet banget nggak sih niatnya?).

Puas jalan-jalan di pasar, kami menuju lapangan merdeka di Banda, ternyata sedang ada pameran produk lokal. Sekalian juga sih ngeliat pesawat pertama yang dibeli RI. Menyedihkan kondisinya. Di bagian depan pesawat ada plastik berisi air tergantung. Pesawatnya sendiri kelihatan kotor nggak terurus.

Makan siang dan makan malam kami belum ada masalah karena budget masih tersedia. Yang menjadi masalah adalah ketika hari sudah malam. Kami mau tidur dimana ya? Berhubung aku satu-satunya perempuan maka harus menyewa 2 kamar kan ya? Tapi aku kan parno orangnya mana berani tidur sendirian? Sementara 4 orang lelaki itu nggak mau juga tidur rame-rame sama aku. Lagipula budget buat bayar kamar losmen pun rasanya sayang juga kalo yang satu kamar cuma buat aku sendirian. Teronggok-onggok nggak jelas di warung kopi, tiba-tiba si Ariev bilang “ayo kita jalan woi”.

Kami bingung tapi karena udah capek dan ngantuk plus sebel juga karena tak sesuai rencana, kami ikut aja masuk mobil. Seperti biasa aku selalu duduk paling belakang bersama Roni dan gitar. TIba-tiba Ariev membelokkan mobil ke gedung RRI di Banda Aceh. Disambutlah ia dengan pak satpam.

“Selamat malam pak, ada yang bisa dibantu?” kata Pak Satpam.

“Iya pak, maaf nih ganggu malam-malam. Kami ini fans Pro 2 FM dari Medan pingin berkunjung ke RRI Pro 2 Banda Aceh boleh nggak ya, Pak?”

Sebenarnya sebelum ini kami semua sudah kenal dengan Ariev yang rada ajaib. Namun demi mendengar kata-katanya itu rasanya pengen ketawa tapi terpaksa ditahan.

“Oooh gitu ya? Tapi sekarang kan udah jam 11 malam sudah nggak ada orang lagi di dalam,” kata pak Satpam. Kayanya kena juga nih orang.

“Wah kalo gitu kami boleh numpang nginap di sini nggak, Pak?” masuk rayuannya si Ariev.

“Oooh boleh-boleh, ini laki-laki semua kan ya?”

“Iya pak, saya Ariev. Ini Budi, Juned, Roni dan di belakang Joko”

Whatttt? Aku dibilang Joko?Okelah. Demi nginep gratis aku diam nggak pake protes.

“Pak, nanti teman saya Joko tetap jaga di mobil ya karena dia sedang kurang enak badan,” si Ariev mulai ngeles.

Dan Pak Satpam RRI yang baik hati itu pun dengan tulus percaya sama kami semua.

Pagi-pagi kami udah cabut lagi dari RRI, entah apa yang diulokkan si Ariev ke pak Satpam pokoknya kami dilepas dengan senyum ramah. Aku benar-benar terisolir dari kegiatan mereka di dalam RRI. Pas semuanya udah masuk mobil dan kami sudah jalan keluar, mereka nggak kuat lagi buat nahan ketawa. Tapi herannya si Ariev tenang-tenang aja. Yah nggak aneh juga sih karena selama di Binjai juga hampir setiap hari kami mengunjungi tetangga di desa sana dengan alasan untuk survey kegiatan rumah tangga padahal tujuan utama adalah makan siang gratiiiiis😀.

Hari itu kami nggak berani mandi ke mesjid raya lagi. Pertama aku takut diintip dan kedua ternyata hari sebelumnya si Budi disemprot sama petugas kebersihan. Jadi kami jalan aja menuju arah pulang ke Medan dan singgah sebentar di pantai Lhok Ngha. Pas perjalanan ke arah Lhokseumawe atau kota apa gitu aku lupa, kami bertemua dua orang perempuan yang berjalan kaki. Kelihatannya mereka capek dan memang nggak ada kendaraan umum di sana. Budi menanyakan apakah mereka mau ikutan naik mobil kami. Dan dengan senang hati mereka mau. DI mobil akhirnya mereka cerita bahwa mereka adalah mahasiswa KKN dari universitas Abulyatama. Wah senangnya ketemu mahasiswa KKN. Mereka pun mengajak kami ke lokasi KKN mereka.

Karena niatnya pengen cari tempat mandi, aku sempat nanya kami boleh numpang mandi nggak? Katanya boleh dan katanya juga kamar mandinya ada. Duh tambah senang rasanya. Nyampe di lokasi KKN, kami dikenalkan dengan ketua KKN mereka namanya Tomi kalo nggak salah. Trus aku dianterin ke rumah penduduk yang ada kamar mandinya. Tapiiii ternyata kamar mandinya kebuka separuh dinding😦. Mandi pun kudu pake kain basahan. Grogi pula aku karena dilihatin anak kecil rame-rame, berasa artis gitu mandi ditontonin.

Selesai mandi kami ngobrol rame-rame dengan mahasiswa Abulyatama. Seru banget mereka cerita tentang daerahnya plus kami nanya-nanya tentang ganja dan ladang yang banyak di daerah sana. Yang bikin surprise itu adalah ketika senior mereka muncul dan ngenalin aku sebagai “anak ibu Endang”. Duh ternyata ibuku sungguh populer sampe aku jauh-jauh ke Aceh pun masih ada yang ngenalin. Si abang ini salah satu murid ibuku jaman SD. Oke. Tomi menawarkan kami untuk menginap satu malam lagi di situ. Sebenarnya tawaran yang menarik sih tapii mengingat budget kami sudah menipis, maka dengan halus kami menolak. Curangnya si Tomi ternyata membubuhkan sesuatu di kopinya Ariev, mungkin dia berpikir kalo si Ariev teler maka kami nggak bisa pulang malam itu. Jieee kecele tuuuh pas Budi nyetir, Tomi kelihatan kaget.

Akhirnya kami benar-benar jalan pulang, sempat mampir di sebuah rumah makan yang muraaah banget makan berlima pake nambah cuma bayar 30 ribu. Uang di kantong udah habis tinggal sisa buat beli bensin pulang. Kena razia di jalan Iskandar Muda Medan karena mahasiswa KKN pulang tengah malam. Kami nggak langsung pulang ke rumah masing-masing karena besok paginya sudah janji kumpul di rumah Maya buat sarapan. Pas lagi kumpul itu tiba-tiba Budi mengabarkan bahwa hari itu juga pasukan DOM (Daerah Operasi Militer) di Aceh mulai ditarik. Rasanya nggak nyangka bisa sempat jalan-jalan di sana sebelum terjadinya pemberontakan GAM. Kalau ingat-ingat lagi kisah jalan-jalan ini selalu pengen ketawa sendiri.

Dan sampai hari ini foto di depan Masjid Raya Banda Aceh yang dijanjikan pak tukang foto itu pun nggak pernah sampai di alamat Ariev. Semoga aja si bapak masih sehat walafiat saat ini ya.

Postingan ini diikutsertakan dalam Nekad Blog Nekad Traveler. Mau lihat keseruannya bisa buka di sini lhooo

 

8 thoughts on “Petualangan Fans Pro 2

  1. ah, ini melelahkan. kalo sy sekarang gak kuat berpergian jauh2, mending di rumah aja, hehe. beda usia, beda kesukaan ya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s