Anak Magang

Gegara blogwalking ke tempat si Papah Nh, aku jadi terinspirasi buat bikin postingan tentang anak magang karena kalo dijawab di komennya nanti kepanjangan pulak.

Sebenarnya istilah magang ini hampir sama dengan PKL atau Praktek Kerja Lapangan karena tujuan dari pelaksanaannya adalah penerapan ilmu yang sudah kita terima dari sekolahan. Anak magang itu tak selamanya tamatan SMK tapi juga ada yang selesai kuliah biasanya mereka magang ke tempat-tempat yang memang membutuhkan profesi seperti background pendidikan mereka.

Jadi ceritanya aku pernah magang pada masa akhir kuliah profesi Apoteker. Dengan judul profesi kaya gitu tentu udah kebayanglah aku bakal magang dimana. Rumah sakit, industri farmasi, perusahaan obat, apotek.

Pada saat itu (tahun 2000) mahasiswa tingkat profesi Apoteker sangat sedikit. Angkatanku waktu itu hanya sekitar 21 orang (lupa) dan kami kuliah setiap hari pada jam kuliah normal. Selain beranggotakan teman-teman seangkatan pas kuliah S1 yang tamatnya barengan aku, di kelas kami ada beberapa orang mahasiswa senior yang baru mengambil mata kuliah profesi. Ada juga yang berasal dari universitas lain di luar kota karena pada saat itu program profesi Apoteker hanya ada satu-satunya di Sumatera Utara ya di kampusku itu.

Pada masa akhir perkuliahan itulah kami magang. Setiap mahasiswa mendapat 4 lokasi magang yang berbeda. Aku dapat di apotek tradisional, apotek Kimia Farma sebagai contoh apotek dari perusahaan besar, industri farmasi (waktu itu Kimia Farma juga) dan Rumah Sakit Umum Daerah Adam Malik (yang jauhnya ampun deh dari rumahku).

Pas magang di apotek tradisional ini merupakan masa-masa yang sungguh menekan urat syaraf. pasalnya kami biasa memilih apotek yang dimiliki oleh dosen-dosen di kampus. Meski cuma berlangsung 1 bulan lebih tapi berasa banget gitu jadi anak bawangnya meskipun aku punya pengalaman kerja di apotek sebelumnya.

Di antara keempat lokasi magang yang paling heboh itu di rumah sakit. Di rumah sakit ini kami dibagi dalam 4 kelompok yang masing-masing beranggotakan 4-5 orang. Semua pembimbing baik dari rumah sakit maupun dari kampus sudah ditetapkan bahkan pembagian ruangan pun sudah ditentukan. Aku satu kelompok dengan Philip, Munawaroh dan Lusia. Dosen pembimbing kami adalah Prof Hakim Bangun dan ibu Azizah sementara yang di rumah sakit pembimbingnya lupa aku namanya yang jelas bapak ini juga alumni kampus kami.

Karena kami mendapat lokasi di bagian Saraf, otomatis kasus-kasus yang harus dihadapi adalah seputar itu. Setiap hari kami mengikuti visite (kunjungan) pagi oleh dokter senior yang selalu dibuntuti dokter co-ass masing-masing. Kami boleh ikut mendengarkan tetapi tidak boleh bertanya di tempat, jika ingin diskusi harus membuat jadwal tersendiri.

Herannya pasien yang aku tangani selalu pulang pada hari ke-2 atau ke-3 setelah aku pantau. Jadi harus ganti kasus baru untuk dibuat dalam laporan pribadi masing-masing mahasiswa magang. Kejadian-kejadian selama magang ini pun sungguh berkesan, mulai dari dokter-dokter co-ass yang selalu melarikan diri dari kami yang bawel nanya-nanya “kenapa sih harus kasi obat ini? ngikutin senior ya?” atau “pembengkakan pembuluh darah di otak kenapa dikasi Dexamethason” dan semacam itu. Lalu aku terlibat semacam curi-curi pandang dengan seorang dokter co-ass bernama Budi yang akhirnya ketemu lagi di lain waktu, kasus perempuan berambut panjang yang tiba-tiba hilang dari pandangan padahal pintu keluar ada di sebelah kami, belum lagi salah satu temanku yang harus bawain gorengan buat kepala perawat setiap hari selama kami magang.

Secara keseluruhan, kegiatan magang ini sangat berguna. Semacam uji coba untuk kita ketika menjadi anak sekolahan yang hanya berinteraksi dengan guru/dosen dan teman-teman dan hanya tau lingkungan akademis dan kegiatan-kegiatannya tiba-tiba harus menghadapi dunia kerja, berbagai macam manusia dengan karakter berbeda.

Meski demikian pun suasana magang itu ternyata hanya 10 persen kenyataan hidup. Ketika terjun ke dunia kerja, ternyata lebih buas dari sekedar guru di sekolah yang galak, dosen killer pelupa atau sekedar ujian sarjana.

Selamat menempuh hidup magang!

22 thoughts on “Anak Magang

  1. kasus perempuan berambut panjang yang tiba-tiba hilang dari pandangan …

    Hiiiiiii … serem kali ah …

    Yang jelas … inilah romantisme dunia kerja

    salam saya Jul

  2. pas kuliah aku magang disalah satu departemen di kabupaten sini. bukannya magang kerja yg bener malah ikutan jalan-jalan narik retribusi pariwisata😆

  3. Pingback: THE NINE FROM “ENCHANTING AMETHYST” | The Ordinary Trainer writes ...

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s