Duta Move On 2013

gambar-telapak-kaki-melangkah

 

Setiap akhir tahun kebanyakan orang membuat resolusi untuk rencana kehidupannya di tahun selanjutnya. Ada yang menerapkannya dengan serius namun ada pula yang hanya menulis tanpa disertai niat yang sebenar-benarnya.

Aku masuk dalam kedua kategori itu. Kenapa demikian? Untuk beberapa perencanaan hidup yang menyangkut kebutuhan finansial pribadi maupun anakku biasanya aku akan menerapkannya dengan sungguh-sungguh meski kesannya santai. Bagiku yang penting adalah melaksanakan kewajiban sebagai seorang ibu dengan membesarkan dan membimbing anak yang telah dititipkan Tuhan kepadaku. Kewajiban yang harus dipenuhi tentunya mencakup pemberian kasih sayang dan perhatian, pemenuhan kebutuhan jasmani seperti makanan yang bergizi, tempat tinggal yang layak dan lainnya juga kebutuhan sosial dan ilmu pengetahuan serta budi pekerti.

Meski bekerja penuh selama weekdays sebagai orang tua tunggal, aku tak pernah kehilangan waktu bersama anak. Biasanya waktu bekerja yang begitu banyak terbuang di luar rumah segera aku gantikan secepatnya saat sudah tiba di rumah dengan menemaninya belajar, bermain, menggambar, bercerita, menonton film kartun kesukaannya, makan bersama, dan kadang anakku yang baik hati begitu ringan tangan menolongku saat merapikan rumah. Lelah terbayar begitu saja dengan melihatnya gembira.

Tetapi keluhanku dari jaman pra sekolah sampai saat ini adalah kesehatan yang memang kurang baik. Karena sebagai ibu bekerja tentu pekerjaan menjadi double. Aku sering jatuh sakit mulai dari flu-flu biasa sampai sakit radang lambung, demam typhoid bahkan gejala arthritis (berasa tua banget yak). Begitu banyak nasihat dan saran dari teman-teman untuk selalu menjaga kebiasaan makan yang sehat, harus mengkonsumsi ini itu pada jam-jam yang tetap. Dan akhirnya aku cuma mengiyakan semacam masuk kuping kanan keluar kuping kiri.

Selain itu aku pun belum maksimal beribadah. Kalau sudah di luar rumah terutama saat ada di luar kantor, aku sangat sering meninggalkan kewajiban salat 5 waktu. Bangun kesianganlah, maghrib di jalanlah, dan semacamnya padahal sebagai umat berTuhan harusnya selalu ingat untuk bersyukur dan bersujud pada Pencipta.

Namun ada hal yang paling bermasalah dalam hidupku, yaitu kisah cintaku.

Aku jatuh cinta pada sahabatku sendiri. Kami saling kenal sejak tiga tahun yang lalu, berinteraksi secara alami sebagai teman dan rekan bisnis. Tiba-tiba saja entah karena merasa begitu secure dan cocok satu sama lain, setahun yang lalu aku sadar bahwa aku jatuh cinta padanya. Dan dia pun merasakan yang sama. Kami terlibat sebuah hubungan yang tidak semestinya. Aku berusaha menyikapi hubungan yang berubah level ini dengan biasa saja, tetapi pada akhirnya ternyata menyakitkan juga. Hubungan kami menjadi aneh. Ketika sebelumnya kami hanya mendebatkan hal-hal yang berhubungan dengan kedisiplinan, profesionalitas dalam bisnis sekarang kami sibuk membahas rasa cemburu, kecewa dan cinta yang tak bisa bersama.

Mencoba kembali dengan hubungan pertemanan kami yang sebelumnya, bisa ngobrol bareng di warung kopi sambil bercanda dan membincangkan bisnis masing-masing ke depan tanpa diberati perasaan cinta dan cemburu. Ternyata sulit pada kenyataannya.

Aku tak menyangka akan jatuh cinta sedemikian pada sahabatku.

Ketika menuliskan resolusi di awal tahun selain mengkhususkan pada kepedulian terhadap kesehatan dan pendekatan yang lebih intens kepada Tuhan, aku memutuskan untuk segera melupakan lelaki itu. Melupakan dalam arti aku siap untuk tak terlibat lagi dalam kehidupannya. Tapi niatku sepertinya tak serius, setelah dua minggu tak berkomunikasi dan ia mencoba menghubungi, aku kembali menyambutnya padahal perasaan bahagia itu hanya sementara.

Beberapa teman memberi masukan bahwa hubungan semacam kami itu tak akan pernah ada ujungnya. Maka yang harus dilakukan adalah bersikap tegas untuk mengakhirinya. Dengan dua orang teman di sosial media yang mengalami masalah hampir mirip, kami bahkan membuat hestek #DutaMoveOn2013 untuk lebih memotivasi diri melangkah pada hal-hal yang lebih baik.

Sejak dua bulan yang lalu aku pun telah memutuskan untuk lebih menghargai diriku dengan tidak terlibat pada hubungan tanpa status semacam itu karena sampai kapanpun tak akan ada yang merasa bahagia di antara kami berdua. Seperti quote yang pernah kutulis,

“Kebahagiaan itu tak perlu kau cari sebab ia telah lama tinggal di hatimu”.

Demikian pula aku. Tanpa dia tentu aku pun bisa bahagia karena akulah yang berhak menciptakan kebahagiaanku sendiri.

Let’s Move On for better me, for better world.

 

gambar diambil dari sini

 

 

 

 

9 thoughts on “Duta Move On 2013

  1. hehehe… ayoo move on …
    bener lho, cuma buang waktu dan energi …
    cuma kebahagian semu ketika bersama dia lagi *pengalaman yg udah jatuh bangun hahahaha*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s