Serumah

*terinspirasi saat makan sate padang di citraland*

Uda Akmal meraih bungkusan plastik merah yang disimpan dalam sebuah box besar berwarna biru. Ia membuka isinya, lalu menyusun tusukan-tusukan sate di sepanjang display gerobak kayunya.

Sembari menyeka butiran keringat sebesar biji jagung muda di pelipisnya, tumpukan sate itu disusun rapi setelah dengan cekatan tangannya menata. Dalam beberapa menit semua perlengkapan nyate telah siap untuk dijual. Panci besar berisi bumbu yang diletakkan di sebelah kanan, ketupat lontong matang bergelantungan di sebelah kiri gerobak.

Uda menyeka keringatnya lagi lalu duduk menanti pelanggan. Baru jam empat sore dan lalu lalang manusia mulai padat di jalanan depan gerobaknya.

“Uda, satenya 10 tusuk ya”.  Seorang wanita muda menghampiri gerobaknya tiba-tiba.

“Iya mbak, silakan duduk”, sahutnya dengan logat minang yang masih kentara.

Perempuan itu sepertinya mahasiswa dari salah satu universitas mahal di sekitaran daerah Tanjung Duren dan Citraland. Ia masih muda, dengan rambut lurus panjang yang dibiarkan tergerai di bahunya. Tubuhnya kurus ramping memakai celana jins model pensil yang memetakan jelas-jelas kakinya yang panjang dan kurus. Dengan kemeja ngepas badan berwarna pink cerah, perempuan itu terlihat cantik apalagi kulitnya bersih. Keringat bercucuran di dahinya, sore itu memang agak panas namun angin cukup keras bertiup di sekitar warung sate padang Uda Akmal.

Dari jauh seorang laki-laki berjalan tergesa-gesa menghampiri gerobak satenya. Wajahnya bersimbah keringat. Kaos bergaris-garis yang dikenakannya terlihat basah. Sebuah handuk kecil berwarna biru gelap melingkari lehernya. Ia menghampiri Uda Akmal yang sedang membakar sate.

“Da, sate sepuluh”, sahutnya menepuk pundak lelaki itu.
“Habis narik?” tanya Uda ramah.
“Iya, lagi aplusan sama si Regar”. Tangannya meraih segelas air mineral plastik dalam kotak pendingin yang terletak di belakang meja pelanggan.

Uda meletakkan piring plastik berisi 10 tusuk sate dengan potongan-potongan lontong dan bumbu sate padang berwarna jingga gelap, di atasnya ada taburan bawang goreng. Harumnya menggetarkan air liur setiap orang yang lewat di depan gerobak itu.

“Silakan, mbak. Mau minum apa?” tanya Uda Akmal pada pelanggannya.
“Saya air putih aja, Da”, jawabnya.

Uda bergegas menghampiri kotak pendingin di belakang meja, mengambil satu gelas air mineral dan sedotan lalu meletakkannya di meja tepat di samping piring sate perempuan muda itu. Ia melanjutkan membakar sate pesanan temannya, Agus.

“Da, semalam aku sama si Leny cari-cari rumah di Tanjung Gedong, ada satu rumah ketemu mau dikontrakin, tapi kamarnya tiga. Kalau buat kami berdua kebesaran sih. Jadi aku ngobrol sama si Leny, kira-kira Uda tertarik nggak kalau kita tinggal serumah berempat?” tiba-tiba Agus mengajukan pertanyaan.

Uda Akmal terhenti sebentar mengipas-ngipas satenya.
“Maksudnya yang di depan terminal itu, Gus?” tanyanya ingin tau.
“Iya, Da. Tapi agak masuk ke dalam sedikit. Gak jauh sih”, jelas Agus.
“Berapa sewanya?” tanya Uda lagi. Ia mulai tertarik.
“Sebulan cuma enam ratus, Da. Kamar mandi ada dua. Kamar ada tiga. Nanti kita bicarakan lagi berapa-berapanya, kalau uda sama kakak bisalah sekamar, aku sama Leny sendiri-sendiri kan?” sahut Agus menjelaskan.
“Murah itu, Gus. Coba nanti kutanya dulu sama kakak ya”, jawabnya.

Iya kembali sibuk mengipas-ngipas satenya. Tiga orang mahasiswa datang menghampiri gerobaknya. Baru selesai memesan, datang dua orang lainnya yang mengantri. Kelihatannya Uda AKmal sibuk kali ini.

Uda AKmal dan istrinya saat ini mengontrak rumah di daerah Tanjung Duren, sebuah rumah petak kecil yang hanya terdiri dari kamar, kamar mandi dan dapur kecil sekali namun mereka tak punya pilihan lain karena biaya hidup di Jakarta semakin mahal. Ia yang sehari-harinya hanya seorang penjual sate padang yang mangkal di sekitar mall kadang tak bisa diprediksi penghasilannya. Roza istrinya saat ini tidak bekerja namun belakangan sering diajak tantenya menjual beberapa barang dagangan ke ibu-ibu di sekitaran rumah mereka. Lingkungan sekitar rumah mereka pun terlihat kumuh dan padat sekali, Uda Akmal ingin mencari rumah yang lebih besar agar lebih nyaman mempersiapkan dagangannya namun rumah besar berarti biaya tinggi, dan ia belum sanggup. Tawaran Agus tadi sepertinya bisa dipikirkannya malam ini.

Agus juga bukan teman baru baginya, mereka kerap bertemu karena AGus adalah supir angkot KWK yang melintasi daerah tempat ia berdagang. Agus masih muda, cuma beda dua tahun di bawah usianya. Ia tinggal berdua dengan adiknya Leny sejak berusia lima belas tahun, ayah dan ibu mereka meninggal dalam sebuah kecelakaan kereta api. Sejak itu Agus bertanggung jawab sepenuhnya pada hidupnya dan adiknya Leny.

to be continued

46 thoughts on “Serumah

  1. kaka sekarang jadi reportase yah hihi.

    kayanya si uda kudu mau nih lumayan mudah 600 ribu kalo ramean kan jadi enteng …bilang ama uda gitu mba hehe

    *asik dikash pinjem nh kan dah komen😀

  2. lagi enak-enak baca lha….kok buntutnya to be continue,😦 | nanggung*

    salam kenal dari endipiran, ayo dukung persamaan hak bagi penyandang disabilitas di Indonesia, dan bagaimana tanggapan gerhanacoklat tentang penyandang disabilitas….?

    Ditunggu kunjungan baliknya…:) | ngarep……

  3. ..daerah Tanjung Duren, tempat saya menghabiskan masa kecil sampai menikah tuh, mbak Jul..jadi sedikit bernostalgi nih..sekarang sesudah berkeluarga hijrah ke Roxy, nggak jauh-jauh amat ya😛

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s