Berani Mencoba

Pada usiaku yang segini (34 tahun), aku adalah seorang ibu dengan satu anak (dan dua suami :p). Bila bertemu dengan teman-teman satu angkatan baik itu SMP, SMA dan teman kampus pun kebanyakan sudah berkeluarga dengan satu, dua, tiga, bahkan empat anak.

Karena usiaku lebih muda satu atau dua tahun dari teman-teman seangkatanku dulu, agak sedikit wajar jika mereka lebih dulu menikah daripadaku. Aku masuk SD pada usia 5 tahun (tanpa TK) dan rata-rata teman seangkatanku berusia 6 atau 7 tahun bahkan ada yang 8 tahun. Saat memasuki bangku lanjutan, aku hanya menemukan satu orang yang seumuran denganku yang seangkatan. Itu pun temanku Maya namanya sudah menikah selulus kuliah (usia 23 tahun) sementara aku menikah pada usia 28 tahun (dengan bolak balik mikir nikah gak ya? :D).

Tapi ternyata masih banyak teman-teman sekolahku yang masih membujang. Ada yang lelaki dan ada yang perempuan. Usia mereka saat ini dipastikan antara 35-37 tahun. Yang perempuan sudah sangat cemas sebab selain tak ada yang mengajak nikah, ia pun belum punya pacar serius, yang lelaki mulai sadar ketika reuni dan bertemu si anu anaknya 3, si anu sudah menikah lagi dll.

Saat aku tanya kenapa belum menikah, alasan mereka beragam. Ada yang bilang belum ada yang pas, belum mapan, masih ingin fokus pada karir, masih ingin menghidupi keluarga (ortu dan adik-adik) dan yang terakhir karena tak berani. Yang terakhir itu disebabkan banyaknya kasus pernikahan yang gagal. Sahabatku itu pun mencontohkan kasus kegagalan pernikahanku. Ia berbalik menanyakan apakah aku tak menyesal? Jawabanku hanya satu saja, aku sudah berusaha untuk berumahtangga dengan niat yang baik, bila ternyata gagal (dengan alasan keyakinan) itu sudah menjadi resiko bagiku. Yang penting aku berani mencoba bukan berarti berumah tangga itu buat dicoba-coba.

Sahabatku ini seorang lelaki, ia sudah lama jatuh cinta pada sahabat perempuanku yang saat ini dalam status bercerai tanpa anak. Berulang kali aku dan beberapa teman menyemangati dia untuk mengajak sang perempuan itu menikah, paling nggak yah menyatakan perasaanlah gitu.
Karena aku termasuk sahabat paling dekatnya, maka aku sangat serius menasehati dia, aku katakan di harus berani mencoba menyatakan perasaannya. Meskipun nanti ada tantangan baru semacam keluarga, jabatan, level hidup dll, itu urusan belakangan.

Dan akhirnya, ia menyatakan perasaannya pada teman perempuanku itu. Ternyata, sang perempuan menerima cintanya. Aku senang sekali mendengar kabar dari sahabatku tentang hubungan mereka. Dan apalagi mereka sedang berniat untuk berumah tangga.
Ternyata niat yang baik harus diiringi keberanian untuk mencoba juga kan?🙂

84 thoughts on “Berani Mencoba

  1. wah wah…. berbakat nih buat comblang yah mbak
    #mukaPengenLuarBiasa

    mau dunk mba… ada ndak yah kenalan buatku??
    #lirikLirikYangBakalKomentardiBawahIni..

    hihihihihi… makasih mba udah izinin mampir cemil2 blognya , hehehehe

  2. wah iya saya juga sering merasakan seperti itu mbak.. tapi ya pernikahan kan sebuah resiko..perlu tanggung jawab dan tingkat kesadaran yang tinggi agar pernikahan tetap berada di jalurnya..eleh junior ni ikut nimbrung hehe

  3. *ini kena spam ga sih mba??*

    wowwow mantap2 itu mba..😀
    btw, aku juga masuk SD 5 tahun, lulus kuliah 21 tahun, hehhe *gapenting bgt yaak mbaa..:mrgreen:

  4. saya tidak berani mencoba xixixixi
    entah karena saya perempuan entah karena orang itu bukan jodoh saya hahahaha
    sampai ada laki2 yang berani mencoba (melamar saya),
    kalau dia tidak berani juga, bisa2 saya yang nekat untuk memberanikan diri untuk mencoba (melamar orang itu) wkwkwkwk

  5. menurut saya orang nikah itu ibarat maaf (beol) mbak Jul, enggak usah dipakasain kalau masih belum waktune.. nah kalau dah waktunya mau kapan atau dimana pun pasti akan jadi juga..

    terlalu muda saat nikah juga kurang begitu bagus kok, karena bisa saja setelah berumah tangga kita nanti disibukkan dengan mencari makan dan lupa untuk berkarya bagi orang lain.

    mbak Julie ini kok omongin nikah sih, aku malah pingin iki loh.. ayo wis carikan diriku hahahah.. karena emang udah waktune rasane hehehehe

  6. Nah…. saya setuju niat baik harus diiringi dengan keberanian mencoba…
    Tapi kadang2…. keberanian itu yang sulit saya dapatkan….😦

  7. Jadi inget Kak, waktu aku kasih undangan, temenku (cowok) bilang gini “berani lo Rin nikah?”, padahal dia ini sering bgt ikut balapan off road yg kalo bukan pemberani mah pasti ga akan punya hobby begitu. Ternyata menikah (dan kemudian berumah tangga) terlihat menakutkan ya Kak hihihi

    Ah, panjang kali komenku ini hihihihi

  8. Salam Takzim
    Kalau saya berani nikah karena sudah kerja, jadi diusia yang memasuki kepala 5 mungkin saya sudah menimang cucu, hehehe. Kembali terucap terima kasih atas kehadirannya di blog saya
    Salam Takzim Batavusqu

  9. iya dong.. niat doang itu gak cukup. tapi harus ada keberanian untuk mencoba. kalo gagal, ya gak apa, yang penting udah dicoba kan…🙂

  10. pokonya berani mencoba bukan coba-coba.,,, hmm … mirip iklan di tv ya?
    julie kamu hebat – berani berbuat dan bertindak – dari post mu jelas tidak semua teman2mu ‘berani … salam kenal 😛

  11. segalanya itu dikembalikan lg dgn niat.
    dulu wkt saya ingin menikah, timbul byk keraguan dihati saya, saya sempet berpikir, apakah saya bs menafkahi istri saya nanti?
    sementara utk mengurus diri sendiri saja msh kewalahan.

    tp byk yg memberi masukan kpd saya.
    dan akhirnya saya niatkan di hati. selebihnya saya serahkan pada yg di atas.

    sampe skrg rejeki itu mengalir begitu saja seiring jalannya wkt. memang bnr nikah itu ibadah, soal rizki udh diatur olehNya.

    ayo, siapa yg brani mencoba??
    ^_^

    • masih mending 8 kali ditolak, ke 9 kali diterima Ata…. dari pada ditolak terus seumur-umur.. wkakakak
      yah, harus berani mencoba dan memulai kalo gak, bisa gak nikah selamanya😀

  12. Meski orang sering bilang bahwa jodoh dan rezeki itu urusan Tuhan, tapi ia tidak akan datang dengan sendirinya tanpa diusahakan. Maka, saya tidak pernah setuju orang yang hanya berdiam diri dengan kesendiriannya, padahal dia sangat butuh pasangan hidup, namun tidak berusaha untuk memperolehnya…

    Semoga temannya mb Julie itu berhasil dalam hubungan mereka ya..🙂

  13. kakakku sayang…??
    kemarin komenmu ada mbak..cuma ilang..hehe..tauk udah dicari di balik keyboard, balik pintu, balik lemari ga ketemu…ngumpet tp aku dah baca kok…^^

    ahaa…berani mencoba dan tak takut berikhtiar..saya suka itu kak…^^

  14. kalo yang lain udah nikah aku belum aku malah bangga sebab bisa jaga diri dari seks. aku ingin mampukan pondasi ekonomi aja dulu baru nikah. after second armageddon.

  15. bagi saya.
    berani mencoba berarti ingin berkembang. ntah apa hasilnya yang penting mencoba,tapi tidak asal mencoba, melainkan mencoba dengan niat iklhas dan sungguh-sungguh.

    salam sejahterah dan adem ayem

  16. niat tanpa aksi…sama aja omdo. Yang penting tuh kenekadan dalam membina rumah tangga. Yang pasti kalau mereka sampai married, mak comblangnya dapat kesenangan yang tak terhingga karena sudah dapat menyatukan dua orang yang berbeda jenis….bukan begitu mbak julie?

  17. kisah sukses mak comblang nih ceritanya kak? hehehe!
    syukurlaah, mudah2an jalannya semakin terbuka ya Kak, pasti seru kalo mereka bisa sampai ke pelaminan🙂

  18. di awal paragraf udh dibikin penasaran dng tulisan satu anak (dan dua suami :p).
    …………..
    jadi pingin terus membaca jadinya…bagus2 DUA JEMPOL untuk tulisannya

  19. Pingback: Kopdar yang membawa berkah « Batavusqu

  20. huahahhahahahahahahha..
    huahahahhahaa…
    *ngakak dulu sekencenng-kencengnya*

    kok jadi berasa ketampar yah mbaca tulisan kakjul yang ini. padahal tulisan ini udah dari tanggal 16, tapi kek berasa lagi ditanya, berasa disindir [idiih GR dah..]
    karena ‘takut’nya aku beberapa hari belakangan ini ada kaitannya dikit sama isi tulisannya kakJul kali ini

    hihihihi.. kangen aku kak…

  21. Intinya komunikasi yah Jul ?.

    Kalau nggak pernah ngomong…nggak pernah diungkapkan…mana kita tahu isi hati dan kepalanya, hehehe….

    Krn pernah sich Jul…doeloe…saya suka sama seseorang, saya nggak berani ngomong dong…secara kita jaim doang perempuan….E…dianya juga nggak pernah ngomong kalau ternyata suka ke saya…akhirnya kita nggak pernah jadian…

    E…pas sudah ketemu lagi…baru deh pada ngomong, e…dulu gue gini lho…lho kok sama sich ?…tapi TELAT….kita sekarang dah sama2 punya gandengan dan ekor, wahahaha…..hanya memori….Tapi sempat kebayang juga sich…kenapa dulu nggak pernah ngomong yach….coba kalau dulu ngomong….ala…..cerita lalu…..hahahaha….
    (Mungkin sdh di atur oleh NYA) 🙂 🙂 🙂

    But, it’s ok….everyone is happy now 🙂

    Tapi bagi yang belum…nggak ada salahnya dicoba seperti kata Julie 🙂

    Dah…sekian ceritanya Jul 🙂 See you 🙂

    Best regard,
    Bintang

  22. wah.. turut berbahagia untuk kedua pasangan yang akan membina rumah tangga baru..
    dan.. kapan bunda membina yang ketiga? *serius memperhatikan kalimat yang dicoret diawal2 paragraf*

    salvete,
    dioscurious
    v(^_____^)v

  23. dalam segala hal memang harus berani mencoba, kecuali yg dilarang mending gak coba-coba deh..😀

    gimana kabar mbak julie, lama daku ngilang hihi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s