Tentang Rangga

Kamar
Rangga

Jam dua puluh satu.

Seorang laki-laki sedang duduk di depan meja belajarnya. Kepalanya menunduk pada sebuah buku yang terbuka. Di sebelah buku itu tergeletak kacamata berbingkai hitam tebal. Ia tak sedang membaca. Matanya terarah kosong pada huruf-huruf times new roman dari buku bersampul merah itu.

Beberapa kali ia meneguk air putih dari sebuah gelas di sebelah kanan tangannya. Lalu melap mulut dengan kaos biru dongker yang ia kenakan. Warna kaos itu sama muramnya dengan wajahnya.

Sepuluh menit yang lalu ia menelfon Layla, dan mendapati kabar menyenangkan sekaligus menyakitkan.
Besok Wulan pulang. Hal terbaik yang ingin didengarnya seharian ini setelah letih berdebat dengan Vera soal kapan ia bisa menemani Vera. Namun yang cukup mengejutkan adalah ketika tanpa sadar Layla mengatakan bahwa Wulan ditemani Donnie ke rumahnya. Siapa Donnie itu?
Mengapa ia begitu bodoh dan begitu tak tau apa-apa tentang kehidupan Wulan. Padahal ia sangat mengenal Wulan sejak lama. Bahkan ia begitu bangga dan yakin bahwa sejak pertama Wulan menyatakan cinta padanya di bangku SMA, ia masih bisa merasakan perasaan itu masih sama.
Kenyataannya saat ini ada seorang laki-laki lain dalam kehidupan Wulan.

Rangga meremas rambutnya yang sudah tak beraturan sejak tadi. Ia mengepalkan tinjunya.
Lalu melangkah ke lemari pakaiannya, membuka pintu dan berjongkok.
Pada bagian kiri lemari pakaiannya ia menyimpan sebuah kotak sepatu berwarna abu-abu polos. Ia mengeluarkan kotak itu dan membuka tutupnya.
Di dalamnya masih tersusun rapi 1 kaset nirvana unplugged, 1 kaset jon bon jovi destination anywhere, sebuah notes kecil berwarna biru pucat, pita biru panjang, pensil coklat polos yang sudah dipakai, penggaris 15cm bergambar kartun bart simpson, dua buah buku tulis.
Rangga mengambil salah satu buku. Sampulnya komik donal bebek. Ia membuka halaman belakangnya. Sebuah puisi tertulis di sana.

Kepada lelaki berkacamata

Angin mengabarkan seruan rindu
Yang mengendap di ujung jemariku
Maka kutumpahkan saja rasa
Lewat kata-kata tanpa suara
Padamu yang memandangku
Lewat dua bening bola mata berlensa

Bolehkah kutitipkan hati
Jika saja suatu hari rinduku terlalu penuh?

Untuk: rangga

Dan di bawahnya adalah tulisan tangan Rangga yang tintanya sudah buram. Kelihatan bolpoin siapa yang lebih berkualitas. Rangga masih ingat ia meminjam buku matematika Wulan dan menemukan puisi itu. Saat itu Rangga tak berpikir untuk membalas cinta Wulan dan dengan sebuah puisi ia menolak cinta Wulan. Namun seperti sebuah hukuman, sejak itu ia tak pernah henti memperhatikan gerak-gerik perempuan itu. Dan tak heran jika ia jatuh hati pada Wulan.

Kalau saja boleh mengulang, Rangga ingin sekali berada pada momen ketika ia membaca puisi ini. Dan tak ingin membalas dengan jawaban konyol yang ditulisnya tiga tahun yang lalu.

 

Bagaimanakah kelanjutan ceritanya? Nantikan di buku julie selanjutnya tapi entah kapan doain aja supaya Julie rajin ngelanjutin ceritanya itu jadi bulan depan udah terbit😀.

Postingan ini dipersembahkan atas permintaan Aish.

 

Oh yaa ada seorang teman yang sedang ikutan memulai ngeblog, isi tulisannya menarik lho coba lihat di sini.

54 thoughts on “Tentang Rangga

  1. ihh inni kan yang ada di notes nya kakjul di FB.
    udah aku baca nya.
    katanya udah ada lanjutan nya yang terakhir..

    huuuu…
    mari berdoa semoga KakJul semakin rajin menulis tentang rangga.
    dan aku jadi tokoh nya
    (hahahahhahaa..)

    • Hahah! Ais berharap dicerita itu jadi tokoh yang bikin mas rangga kepincut dan lupa sama wulan ya iiiss?😆

      Ngebayangin ais lewat depan mas rangga, *slowmotion pastinya*
      wajah tersirami cahaya mentari sore, kerudung biru muda diterpa angin semilir, senyum manis merona sembari bola mata beradu dengan mas rangga yang me-nganga terpesona oleh si Ais yang yahud!
      hahahah😆

      Kak Juuulll… segerelah bikin lanjutannyaa..🙂

  2. nggak sabar nunggunya mbak Julie nih. mbak julie bilang bayar dulu hehehe. duh pikun deh kalo ke ATM ga bawa no reknya.mbak smsin dong pleaseeee🙂

  3. benere aku kmaren kmaren uda pertamanya dimari.
    Taunya uda dibaca lama lama lupa mau komeng.
    *soalnya mas rangga lagi mandangin akuuuhh 😳

  4. Yaahh….
    Giliran udah sik asik bacanya… ternyata putus sampai disitu…
    Ayoo dong.. cepet cepet dilanjut ceritanya Julie…
    Bayangan Rangga jika kembali ketiga tahun yang lalu

  5. asyik nih bacanya, ngalir banget, penulisannya oke. ternyata kak Julie jago nulis ya hehe.. emang ada ya di notes FBnya? di tag donk kak pengen baca sekalian belajar cara penulisannya hehe..

  6. Lupus: Jelaga Cinta Aina Ruam merah di pipiku yang
    indah seperti kupu- kupu
    ternyata bukan reaksi kulitku
    yang putih ketika terkena
    sinar matahari. Fisikku yang
    jarang sekali mengeluh sakit, bahkan untuk sekadar flu,
    ternyata bukan berarti aku
    tidak sakit. Tanganku yang
    sering bengkak, ternyata
    bukan akibat dari hobiku
    berolahraga.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s