NEGERI AWANGGA (2)

Bagian dua

Zurich, November 2006

and the sun it shines as it did yesterday

Meski tak keluar dari kamarku yang sempit, hari ini terasa panas. Hari pertama musim semi memang sedikit membakar kulitku. Karena saat ini kulitku tak sebagus dulu. Lebih tipis dan rentan.

Aku tak berniat tinggal lama di kota ini. Zurich dengan jalanan yang padat akan toko berlabel mewah. Prada, Gucci, sumpah mati aku ingin saja mencobanya sesekali. Mencoba membeli? Tentu saja tak perlu. Cukup mengambilnya diam-diam karena mereka tak bisa melihatku.

Tapi untuk apa? Aku toh tak bisa memakainya. Okelah bisa. Tapi tetap sajakan tak ada yang bisa melihat betapa keren aku ketika memakai setelan coat warna coklat selutut plus sepatu booth berwarna sama dengan bahan suede. Tunggu dulu, mungkin topi koboi itu pun bisa kupadukan sekalian.

Tapi kau tentu tak tau apa yang akan kubeli.
Aku tak akan mengambil diam-diam, kali ini aku akan meninggalkan sejumlah euro di meja kasir, karena aku ingin membeli kemeja kotak-kotak biru yang begitu menawan hatiku. Tentu saja sangat pas melekat di tubuh tinggi kurus berkaca mata.

***

Jakarta, November 2006

Aku menatapnya dekat sekali. Mengagumi lekuk-lekuk wajahnya yang ramping, dengan tautan alis yang begitu tebal, mata hitam itu menatapku tajam tanpa kacamata. Ia merasakan kehadiranku. Lalu meraih kacamatanya di meja belajar. Membetulkan letaknya dan sia-sia mencari tau siapa yang ada bersamanya di dalam kamar ini. Aku selalu suka caranya membetulkan letak kacamata.

Tak lama terkaget-kaget melihat sebuah bungkusan kotak biru bersampul kembang dengan pita coklat. ia meraihnya perlahan, membolak-balik, melihat berkeliling dengan cepat. Menutup jendela, dan kembali ke kursinya.

Ketika membuka bungkusan itu, hatiku ingin bersorak melihat pancaran di matanya. Ia begitu kagum dan senang. Okelah aku lupa melepas label harga dan segalanya, lantas ia pun tau bahwa baju pemberianku asli tak beli di mangga dua.

Namun ia memasukkan lagi baju itu ke kotak biru yang kubeli dengan susah payah di gramedia tadi. Lantas meraih hape dan kau tau pasti siapa yang akan dia hubungi.
Aku pergi.

note: cuma bisa bertepuk tangan melihat orang2 yang memenuhi hatinya dengan prasangka buruk itu kini berkolaborasi ck ck ck

66 thoughts on “NEGERI AWANGGA (2)

  1. aw..aw..aw.. ku tak dapat berkata-kata, hanya mampu bergumam dalam hati… “ehm.. andai saja ku dapat menulis secantik tulisan ini,,,,” makin terpesona aku mbak jul… uapikkkk…!!!

  2. tentang dua orang ya kak julie ? kado yg sepertinya dikirim dr zurich tapi dibeli di mangga dua..

    awak baca2 lagi la kak..🙂

  3. hm,,, aku baca tulisan ini
    kesan yg kuperoleh adalah sebuah ajakan sederhana untuk meninggalkan merek2;
    Maksudnya, berusaha untuk menjauhkan diri dari hedonisme yg hny menjual merk2 atau barang2 yg dianggap WAH..

    pdhal, kualitasnya sama…dg merek2 tanpa merek buatan Indonesia yg lebih murah dan membantu ekonomi rakyat Indonesia..

    bener ga??
    jangan2 malah 180 derajat salah ya???😦

  4. tapi ini belum akhir kan mbak???
    masih ada lagi…
    lanjutkan mbak…
    hehe… apa ini si narayana yang cerita…
    sungguh menyedihkan…dasar o’on si kacamatanya kkekekke😛

    tapi tunggu dulu… baca part selanjutnya dulu…ditunggu ya mbak😉

    HIDUP!!! ^_^

  5. Selamat pagi sahabatku

    Saya datang lagi untuk mengokoh-kuatkan tali silaturahmi sambil menyerap ilmu yang bermanfaat. Teriring doa semoga kesehatan,kesejahteraan,kesuksesan dan kebahagiaan senantiasa tercurahkan kepada anda .Semoga pula hari ini lebih baik dari kemarin.Amin

    Saya juga menyampaikan kabar gembira bahwa sahabat mendapatkan tali asih dari manajamen BlogCamp. Silahkan cek di http://abdulcholik.com/2010/05/11/tali-asih-untuk-para-jagoan-menyanyi

    Terima kasih.
    Salam hangat dari Surabaya

  6. Sebelumnya saya ucapkan makasih banyak karena Mbak Julie telah berkunjung ke blog saya.

    Ini saya baru baca2 dari posting satu ke posting lainnya.
    Sukses buat gerhana coklatnya…
    Salam

  7. waduuhhhh, mbak julie saya udah baca berulang2 ceritanya yang pertama sama yang ini kok masih gak ngudeng-ngudeng yah??? ada yang salah nih ama otak gw, heheh

    jadi crita versi bahasa sehari2nya kaya gmn mbak julie?hehehheh😀

  8. Hehehehe… saya suka yang teknik menulis yang ini. Seperti alurnya paralel dan bersambung di ujung… Tapi ternyata… tidak ya? *ah, nebak mulu ni saya…*
    Tapi sekali lagi, saya bilang saya suka gaya menulis yang ini🙂

  9. malam semakin dalam. para penghuni pikiran tak pernah benar-benar istirah, suara-suaranya berloncatan sebagai detak jarum yang menuding waktu menuju usia senja. tapi, kita tak pernah benar-beanr menua, kita anak-anak yang tak pernah bisa tidur sebelum menatap mata ibu dalam-dalam. ketika malam semakin kelam.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s