[Book Review]: The Hunter

17154732

Title: THE HUNTER (Pemburu)

Author: Asa Nonami

Publisher: Gramedia Pustaka Utama

Pages: 536 pages

Started: April 7th, 2013

Finished: April 7th, 2013

Detektif Takako Otomichi adalah seorang opsir polisi perempuan yang sebelumnya berada di divisi polisi lalu lintas sebagai polisi patroli sepeda motor (dengan julukan kadal). Ketika ia meminta pindah ke departemen kriminal, bukan hanya tatapan aneh dari beberapa rekan polisi laki-laki saja yang ia hadapi namun juga dari keluarga dan suaminya yang akhirnya berselingkuh dan ia tinggalkan.

Detektif Otomichi menghadapi sebuah kasus pembunuhan berantai yang sangat rumit di daerah Tachikawa. Mulanya dari satu kasus kebakaran di sebuah restoran keluarga yang menewaskan Teruo Hara, lalu ditemukannya mayat seorang laki-laki dan seorang perempuan yang diduga telah diserang seekor anjing besar di dua lokasi berbeda.

Bila dilihat penyebab-penyebabnya kasus pertama dan kedua sepertinya tidak berkaitan namun ternyata tidak. Kenyataan bahwa tersangka pembunuhan ini kemungkinan adalah seekor anjing serigala membuat kasus yang dihadapi detektif Otomichi begitu menguras pikiran dan tenaganya. Belum lagi partner kerjanya seorang polisi laki-laki senior yang sangat anti dengan perempuan. Otomichi harus menghadapi sikap dingin dan tatapan melecehkan dari detektif Takizawa yang menganggap bahwa profesi itu tak pantas untuk perempuan.

Otomichi yang ditentang sejak awal oleh ibunya menjadi polisi juga harus menghadapi masalah keluarga. Adik perempuannya yang selama ini terlihat kekanakan ternyata mulai berpacaran dengan lelaki beristri. Masalah keluarga dan pribadi yang pelik itu pun harus ditambah dengan pengejarannya bersama team untuk mendapatkan Topan, sang anjing serigala.

***

Buku ini menceritakan dengan sangat detail pemecahan sebuah kasus yang dihadapi oleh seorang detektif. Paparan yang menarik dilataribelakangi emosi dan penggambaran karakter tokoh dengan sangat jelas. Meski pemecahannya sudah diketahui di tengah-tengah buku namun tetap menarik untuk dibaca sampai akhir.

Buku ini juga menggambarkan dengan jelas bahwa perempuan memiliki kekuatan di dalam dirinya untuk berjuang melawan pelecehan sikap dari kaum lelaki meski dalam bentuk terkecil sekalipun. Tokoh Otomichi digambarkan sebagai sosok perempuan yang meski terlihat feminin di luar namun tangguh dalam kenyataannya.

[Book Review]: KUBAH – Dosa Sejarah Tak Mampu Menghilangkan Kemanusiaan Seseorang

15990306

Judul Buku: KUBAH
Penulis: Ahmad Tohari

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

Tebal: 211 Halaman

Cetakan: Keempat, September 2012

ISBN: 978-979-22-8774-5

Harga: Rp. 38,000

Start: 27 Maret 2013, 20.00 wib

Finish: 28 Maret 2013, 02.00 wib

“Sebelum datang kematian, setiap orang akan mengalami satu di antara tiga cobaan: sulit mendapat rejeki, kesehatan yang buruk, dan hilangnya orang-orang terdekat. Namun apabila kamu percaya dan berserah diri kepada Tuhan maka jalan keluar selalu tersedia. Jadi, hanya kepercayaan terhadap kebesaran dan kasih sayangNya yang bisa membuat kamu tenang, tak merasa sia-sia.” (hal: 27)

Tentu tak mudah menjadi seorang mantan tahanan politik yang pernah terlibat sebuah partai komunis pemberontak di negara Republik ini. Selama dua belas tahun Karman terasing dalam tahanan di Pulau Buru meninggalkan istri dan ketiga orang anak di sebuah desa kecil bernama Pegaten. Karman merasa tak siap saat tiba hari kebebasannya.

Bukan hanya karena ia tak sanggup menerima sikap yang akan dihadapinya dari penduduk desa yang dulu ia khianati dengan pemberontakannya bersama partai komunis tersebut. Ia lebih takut menghadapi kenyataan tentang istrinya yang telah menikah lagi dan bagaimana sambutan dari anak-anaknya.

Keterlibatan Karman menjadi penggiat dalam partai komunis bukanlah sebuah proses sederhana dan singkat. Di masa kecilnya, Karman yang seorang anak mantri pasar dengan penghasilan lebih harus menerima kenyataan akibat perang yang terjadi pada masa pendudukan Jepang. Keadaan pangan yang sulit dan kemarau berkepanjangan menyebabkan Pak Mantri rela menukar satu setengah hektar sawahnya dengan padi milik Haji Bakir.

Saat berdirinya Republik, Pak Mantri yang pro pemerintah Belanda tak pernah terlihat lagi setelah dibawa ke hutan oleh penduduk setempat. Sejak itu Karman dan adiknya hanya memiliki ibu mereka yang tak punya apa-apa.

Kemiskinan Karman dan adiknya menggugah iba Haji Bakir seorang pedagang kaya di Pegaten. Ia memberi pekerjaan pada Karman kecil dengan imbalan sekolah dan makanan. Karman yang pintar cepat berkembang menjadi pribadi yang selalu taat kepada Tuhan, rajin dan tekun. Selain membantu kegiatan sehari-hari di rumah Haji Bakir, Karman pun dipercaya menjaga anak perempuan Haji Bakir yang bernama Rifah. Saat ia menamatkan sekolah rakyat, Pamannya memutuskan untuk membiayai karman melanjutkan sekolahnya ke SMP.

Saat ia menamatkan pendidikan SMP, Karman sangat ingin melanjutkan sekolahnya namun Pamannya tak punya cukup biaya. Sementara Karman pun tak berhasil mendapatkan pekerjaan dengan ijazah SMP-nya. Di tengah kemelut itu, muncul Margo, seorang terpelajar yang sangat terpengaruh oleh pikiran-pikiran Muso yang merupakan penggerak makar pada pemberontakan besar di Madiun tahun 1948. Margo seorang berpembawaan menarik dan merupakan kader pilihan dari partai komunis yang tengah berkembang ingin menjatuhkan negara Republik yang masih berusia tiga tahun itu.

Partai ini membutuhkan kader pilihan selanjutnya untuk membesarkan propagandanya. Saat Margo mendengar pemuda pintar bernama Karman yang terhambat cita-citanya untuk melanjutkan sekolah dan tak berhasil mendapatkan pekerjaan, ia melakukan pendekatan secara halus pada titik lemah keinginan dan cita-cita pemuda itu. Kedekatan Karman dengan Haji Bakir dan perasaan cintanya pada Rifah bahkan tak menjadi sebuah soalan besar untuk menarik Karman bergabung dalam partai itu.

Setelah bebas dan bertemu keluarga adiknya, Karman memberanikan diri untuk kembali ke lingkungan masyarakat di desa kecilnya, ia memang harus menerima kenyataan bahwa istri yang dicintainya telah menjadi milik lelaki lain bahkan anaknya yang paling kecil, Tono telah tiada. Namun ia tak melihat kebencian dari orang-orang yang dulu ia tinggalkan. Rudio anak pertamanya yang telah menjadi remaja, Marni istrinya yang cantik yang kini memiliki dua anak lagi hasil pernikahannya dengan Parta, Pak Haji Bakir dan keluarganya, Ibu yang ia cintai, Paman Hasyim yang dulu pernah menyebutnya anak durhaka, Rifah yang saat itu telah memiliki putra yang akan mempersunting anaknya. Masyarakat desa Pegaten menerimanya dengan tangan terbuka meski ia seorang mantan tahanan politik bahkan pernah melupakan keberadaan Tuhan di dalam dirinya dengan menjadi penganut atheis.

Penghargaan atas rasa kemanusiaan yang diterima Karman membuat ia ingin mempersembahkan sebuah kubah masjid pengganti dari kubah yang telah menua dari masjid milik Haji Bakir. Karman dipercaya oleh Haji Bakir untuk membangun kubah masjid itu. Ia pun membuatnya dengan penuh perasaan dan kesungguhan. Ia ingin memberikan sesuatu sebagai rasa terima kasihnya pada penghargaan dan penerimaan masyarakat desa terhadap dirinya.

 

[Book Review]: The Tokyo Zodiac Murders

Title: The Tokyo Zodiac Murders – Detective Mitarai’s Casebook

Started on: July, 3rd 2012

Finished on: July, 5th 2012

Author: Soji Shimada

Publisher: Gramedia Pustaka Utama

Pages: 354 pages

 

 

Buku ini dibuka oleh kata pengantar dari Kazumi Ishioka yang merupakan Dr Watson versi Detective Kiyoshi Mitarai, seorang astrolog, peramal nasib dan detektif eksentrik.

Mitarai dihadapkan oleh sebuah kasus pembunuhan berantai yang terjadi di Tokyo pada suatu hari di tahun 1936 masa Perang Dunia Kedua. Pembunuhan yang sangat rumit dan tak mampu dipecahkan banyak detektif dan pihak kepolisian sejak 40 tahun lamanya.

Heikichi Umezawa, seorang seniman pada suatu malam yang bersalju ditemukan tewas dengan kepala terpukul di balik pintu studionya yang terkunci di Tokyo. Polisi menemukan sebuah surat wasiat yang ditulisnya tentang sebuah rencana penciptaan Azoth (wanita sempurna) yang akan dibuatnya dari potongan-potongan tubuh 6 orang  wanita muda yang merupakan keluarganya. Perencanaanya dibuat berdasarkan zodiak dari masing-masing wanita tersebut.

Heikichi saat itu tinggal di rumahnya bersama istri keduanya, Masako dan kelima orang anaknya, Tokiko yang merupakan anak dari pernikahannya dengan Tae (istri pertama), Yukiko anaknya dengan Masako, Kazue, Tomoko dan Akiko (anak dari Masako dan suami pertamanya). Serta adiknya Yoshio Umezawa bersama istri dan anak-anaknya.

Tak lama setelah kematian Heikichi, putri tertuanya Kazue terbunuh di rumahnya di Kaminoge. Pembunuhannya seperti sebuah perampokan biasa karena ditemukan barang-barang dirumahnya diobrak-abrik dan uang di laci-lacinya dicuri. Sebuah vas yang meski sudah dibersihkan dari bekas darah dan sidik jari, ditemukan tergeletak di lantai ruangan.

Setelah pembunuhan Kazue, lalu putri-putri dan keponakan Heikichi pun dibunuh satu persatu dengan keadaan sesuai petunjuk dokumen Azoth yang ditemukan di studio milik Heikichi, tubuh mereka termutilasi sesuai rencana dan dikubur sesuai dengan prinsip astrologis yang diuraikan sang seniman.

Lalu setelah 40 tahun lamanya, sebuah dokumen yang merupakan bukti baru datang ke tempat tinggal detektif Mitarai yang diserahkan oleh seorang perempuan yang mengaku menemukan surat itu dari dokumen almarhum ayahnya yang merupakan seorang polisi pada masa pembunuhan itu terjadi.

Bersama Kazumi, Mitarai memulai pencariannya untuk menemukan sang pembunuh misterius yang mencipta Azoth serta mencari jejak dimana Azoth itu sendiri dimakamkan.

 

***

 

Buku ini dibagi dalam lima bab yang diuraikan dengan sedikit membingungkan pada awalnya. Meski surat wasiat tentang Azoth diuraikan di awal cerita namun bagi yang tidak jeli membacanya mungkin akan sulit menemukan pemecahan teka-teki yang merupakan trik sulap dari sang pembunuh.

Latar belakang Heikichi Umezawa yang begitu bermasalah, mulai dari menikah lagi dan menelantarkan istri pertamanya, lalu memiliki hubungan di masa lalu dengan seorang perempuan yang kemungkinan memilki seorang anak lelaki, kenyataan bahwa adiknya yang tinggal serumah dengannya dan berasal dari keluarga miskin menimbulkan banyak sekali kemungkinan untuk menemukan motif di balik pembunuhannya.

Tapi ternyata semua orang memiliki alibi dan meskipun akhirnya istri keduanya yang dipenjara seumur hidup sebagai satu-satunya kemungkinan tersangka, tetap saja polisi tak mampu menemukan bukti pembunuhan itu.

Penulis memberikan sebuah ‘clue’ saat detektif Mitarai dan temannya Kazumi berada di Kyoto untuk memecahkan kasus ini. Namun saat aku membaca penutupnya rasanya agak aneh mengapa pembunuhan dengan trik sesimple itu tak mampu terpecahkan selama 40 tahun.