Nge-Blog ala Tukang Sampah

Sejujurnya aku termasuk salah satu blogger sekte Panas Dalem, kalo kepala udah panas baru keluar yang di dalem (dalem kepala yaaa jangan mikir daleman laen). Biasanya buat ngademin kepala yang panas ntah itu karena load kerjaan banyak atau lagi sok sibuk ngerusuhin ini itu, maka terciptalah sebuah tulisan entah itu tulisan ecek-ecek kaya sekarang atau tulisan sok serius.

Padahal dulu-dulu kala ketika negara api belumĀ  menyerang, aku bisa update blog tiap hari bahkan pernah sehari 2-3 postingan. Kalau mau jujur-jujuran buat nulis postingan itu kan sebenarnya bukan cuma butuh waktu tapi juga kemauan apalagi buat dolan-dolanan buat blogwalking. Kata kawan-kawan blogger itu sekarang udah mulai jarang deh blogwalking, kata sapa sih? itu di dunia blogger yang adem ayem tentrem masih pada saling kunjung-mengunjungi koq.

Trus ceritanya aku pernah mbaca di sebuah tuitan yang seliweran di timeline dari seorang blogger yang agak seleblog gitu, dia bersabda gini: “Tulisan blogger sekarang itu isinya sebagian product review, sebagian kontes, sisanya nyampah” tapi sumpah aku pun lupa siapa yang ngomong ini dan entah kenapa pula gak kepengen nyoba berkunjung ke blognya.

Kalau memang demikian, postinganku sih bisa dikatakan memang ada yang titipan sponsor, ada pulak yang sok-sok ikutan kontes tapi ya sisanya nyampah donk ya. Balik lagi ke diri yang nulis sih, ada kalanya kita memang harus nyampah, karena ibarat nyurhatin temen, blogging itu kan nulis apa yang terlintas di benak, pikiran, perasaan atau apapun itu. Trus balik lagi ke yang baca, apa iya kalo yang dianggap si seleblog itu sampah belum tentu kan ya buat orang lain juga sampah mungkin bisa didaur ulang gitu toh sekarang lagi jamannya Go Green.

Buat aku sih, membaca postingan blogger ecek-ecek (kaya aku) yang nulis keseharian dan perintilan peristiwa pribadinya lebih menarik daripada membaca postingan serius macam politik apalagi politiknya blogger, yang mana donk yang nyampah?

Udah Jul, ga usah nyampah.

 

Anak Magang

Gegara blogwalking ke tempat si Papah Nh, aku jadi terinspirasi buat bikin postingan tentang anak magang karena kalo dijawab di komennya nanti kepanjangan pulak.

Sebenarnya istilah magang ini hampir sama dengan PKL atau Praktek Kerja Lapangan karena tujuan dari pelaksanaannya adalah penerapan ilmu yang sudah kita terima dari sekolahan. Anak magang itu tak selamanya tamatan SMK tapi juga ada yang selesai kuliah biasanya mereka magang ke tempat-tempat yang memang membutuhkan profesi seperti background pendidikan mereka.

Jadi ceritanya aku pernah magang pada masa akhir kuliah profesi Apoteker. Dengan judul profesi kaya gitu tentu udah kebayanglah aku bakal magang dimana. Rumah sakit, industri farmasi, perusahaan obat, apotek.

Pada saat itu (tahun 2000) mahasiswa tingkat profesi Apoteker sangat sedikit. Angkatanku waktu itu hanya sekitar 21 orang (lupa) dan kami kuliah setiap hari pada jam kuliah normal. Selain beranggotakan teman-teman seangkatan pas kuliah S1 yang tamatnya barengan aku, di kelas kami ada beberapa orang mahasiswa senior yang baru mengambil mata kuliah profesi. Ada juga yang berasal dari universitas lain di luar kota karena pada saat itu program profesi Apoteker hanya ada satu-satunya di Sumatera Utara ya di kampusku itu.

Pada masa akhir perkuliahan itulah kami magang. Setiap mahasiswa mendapat 4 lokasi magang yang berbeda. Aku dapat di apotek tradisional, apotek Kimia Farma sebagai contoh apotek dari perusahaan besar, industri farmasi (waktu itu Kimia Farma juga) dan Rumah Sakit Umum Daerah Adam Malik (yang jauhnya ampun deh dari rumahku).

Pas magang di apotek tradisional ini merupakan masa-masa yang sungguh menekan urat syaraf. pasalnya kami biasa memilih apotek yang dimiliki oleh dosen-dosen di kampus. Meski cuma berlangsung 1 bulan lebih tapi berasa banget gitu jadi anak bawangnya meskipun aku punya pengalaman kerja di apotek sebelumnya.

Di antara keempat lokasi magang yang paling heboh itu di rumah sakit. Di rumah sakit ini kami dibagi dalam 4 kelompok yang masing-masing beranggotakan 4-5 orang. Semua pembimbing baik dari rumah sakit maupun dari kampus sudah ditetapkan bahkan pembagian ruangan pun sudah ditentukan. Aku satu kelompok dengan Philip, Munawaroh dan Lusia. Dosen pembimbing kami adalah Prof Hakim Bangun dan ibu Azizah sementara yang di rumah sakit pembimbingnya lupa aku namanya yang jelas bapak ini juga alumni kampus kami.

Karena kami mendapat lokasi di bagian Saraf, otomatis kasus-kasus yang harus dihadapi adalah seputar itu. Setiap hari kami mengikuti visite (kunjungan) pagi oleh dokter senior yang selalu dibuntuti dokter co-ass masing-masing. Kami boleh ikut mendengarkan tetapi tidak boleh bertanya di tempat, jika ingin diskusi harus membuat jadwal tersendiri.

Herannya pasien yang aku tangani selalu pulang pada hari ke-2 atau ke-3 setelah aku pantau. Jadi harus ganti kasus baru untuk dibuat dalam laporan pribadi masing-masing mahasiswa magang. Kejadian-kejadian selama magang ini pun sungguh berkesan, mulai dari dokter-dokter co-ass yang selalu melarikan diri dari kami yang bawel nanya-nanya “kenapa sih harus kasi obat ini? ngikutin senior ya?” atau “pembengkakan pembuluh darah di otak kenapa dikasi Dexamethason” dan semacam itu. Lalu aku terlibat semacam curi-curi pandang dengan seorang dokter co-ass bernama Budi yang akhirnya ketemu lagi di lain waktu, kasus perempuan berambut panjang yang tiba-tiba hilang dari pandangan padahal pintu keluar ada di sebelah kami, belum lagi salah satu temanku yang harus bawain gorengan buat kepala perawat setiap hari selama kami magang.

Secara keseluruhan, kegiatan magang ini sangat berguna. Semacam uji coba untuk kita ketika menjadi anak sekolahan yang hanya berinteraksi dengan guru/dosen dan teman-teman dan hanya tau lingkungan akademis dan kegiatan-kegiatannya tiba-tiba harus menghadapi dunia kerja, berbagai macam manusia dengan karakter berbeda.

Meski demikian pun suasana magang itu ternyata hanya 10 persen kenyataan hidup. Ketika terjun ke dunia kerja, ternyata lebih buas dari sekedar guru di sekolah yang galak, dosen killer pelupa atau sekedar ujian sarjana.

Selamat menempuh hidup magang!

Cemburu

Padahal kemarin malam mention-mentionan sama Kurnia dan Ziipy ngobrolin tentang radio jaman dulu, trus karena inget-inget jaman masih suka request lagu terbit ide pengen bikin postingan tentang itu. Tapi koq aku malah tertarik ngebahas topik Cemburu ini ya?

Apa iya aku sedang mencemburui seseorang?

 

194314_10150114372746839_10440936838_6158031_5106178_o

 

Enggak juga sih. Karena sejak merasa (sok) dewasa, aku sangat jarang terbakar cemburu. Bukan karena nggak cinta atau cintanya nggak sebesar yang diinginkan. Tapi perasaan cemburu itu biasanya cuma hadir karena rasa kurang percaya diri.

Misalnya gini, ada sepasang suami istri yang pastinya udah menikah. Trus tiba-tiba sang suami berkenalan dengan seorang perempuan di lingkungan pekerjaannya yang akhirnya menjadi teman dekat karena punya banyak kesamaan visi dan pemikiran. Ketika istri mengetahui kedekatan si suami dengan perempuan ini adalah sangat wajar kalau tiba-tiba muncul perasaan cemburu.

“Koq suamiku jadi sering cerita tentang perempuan itu ya?”

“Enak banget sih perempuan itu sering-sering dekat dengan laki gw.”

“Jangan-jangan perempuan itu lebih cantik atau lebih muda dari aku,”

Dan hal-hal senada yang membuat kita merasa harus lebih was-was dari biasanya. Mulai meragukan kesetiaan suami, mulai mengurangi kepercayaan. Lalu banyak istri yang kemudian mulai sibuk memancing-mancing obrolan seputar kerjaan dan pergi kemana dan dengan siapa saja. Lalu mulai sibuk diam-diam mencari tau dari hp suaminya apakah ada pesan-pesan tak biasa dari seorang perempuan. Hal ini mungkin nggak berlaku ya buat perempuan yang dari awal sudah curiga terus sama suaminya :D .

Lalu benarkah perbuatan kita itu? Benarkah dengan kedekatan suami dengan perempuan lain akan menghasilkan sebuah hubungan lebih dari teman seperti yang kita takutkan?

Mungkin benar, mungkin juga tidak. Semuanya tergantung dari bagaimana sang istri menyikapinya. Terus aja mesti perempuan yang ngalah? Bukan begitu juga.

Sebagai istri, posisi kita kuat secara hukum. Lalu mengapa kita bisa bersuamikan dirinya tentu ada sebuah proses. Mungkin ada yang sudah 2 tahun saling mengenal (pacaran) atau baru beberapa bulan kenal sudah memutuskan menikah. Coba dipikirkan lagi, seorang laki-laki memutuskan untuk menikah dan berkomitmen itu tidak gampang. Tentu ia sebagai makhluk penuh logika telah mempertimbangkan dengan matang siapa yang akan dipilihnya untuk menemani hidupnya sampai nanti.

Jadi daripada terus menginterupsinya dengan sms dan telpon sejak pagi hingga ia kembali ke rumah dengan penuh kecurigaan, ada baiknya kita membenahi komunikasi kembali, memperhatikan detail yang mungkin terlupa setelah bertahun-tahun hidup bersama. Mungkin ada sesuatu yang ia rindukan yang telah lama tak kita perhatikan. Percaya diri bahwa ia memilih kita karena hal-hal positif yang kita miliki sehingga menimbulkan perasaan cinta dan kasih sayang.

Cemburu itu perlu, tapi dengan kadar secukupnya saja. Quantum satis.

 

Happy Birthday to Me

Hari Rabu tanggal 18 April kemarin adalah hari ulang tahunku yang ke-35. Zuko mengejutkan aku dengan sebuah postingan colongan di blog ini sebagai hadiah hehe thanks yaaa. Kemudian kakakku dan beberapa orang teman juga mengucapkan selamat.

Di kantor pagi itu aku memang sudah memesan cake dan cupcakes plus kue-kue tambahan untuk merayakan ulang tahunku kecil-kecilan bersama teman-teman kantor. Jam 10 pagi mba Novi sudah datang mengantarkan kuenya pas aku sedang meeting. Kelar meeting, Dina memanggilku dan mengabari bahwa kue-kuenya sudah datang.

Taraaaaa ini kue ulang tahunku buatan mba Novi dari Nayaracakes.

birthday cake from Nayaracakes

 

Tapi rencananya kue ini mau aku bawa pulang bukan buat potong kue di kantor hahaha curang kan? sebab buat orang-orang kantor aku udah nyediain cupcakes dan kue-kue basah. Cupcakes nya aku buat dengan tema botol susu NUK yang merupakan brand yang aku handle. Jadinya malah lucu-lucu banget deh.

miniatur botol susu Nuk plus empengnya ada di atas cupcake

 

yang ini plus Bath Duck nya

 

Setelah kue dibagiin ke bos dan semua karyawan, si bos ternyata malah ngajak birthday lunch yang disponsori oleh dirinya sendiri. Cihuuuy dimanaaa coba punya bos kaya bosku ini setiap tahun aku ditraktir makan siang pas ultah. Jadi, siang itu aku harus nentuin mau makan siang dimana dan entah kenapa seperti tahun sebelumnya aku tetep milih Old Town White Coffee yang di emporium Pluit. Mungkin karena kopinya manteb gitu cobain deh kapan-kapan ke sana (sumpah ini gak dibayar nulis kekgini :D ).

Pas nyampe di lokasi, bosku bisik-bisik tetangga ke dua orang temenku sambil ngeluarin beberapa lembar merahan dari dompetnya. Aaaah dah tau, pasti mau beliin aku kue kan? Ya ampuuun jadi gak enak deh padahal aku punya cake di kantor dan memang sengaja gak aku bawa buat lunch karena mau buat tiup lilin berdua enrico.

Ini dia kue ultah keduaku

kue yang sebenarnya es krim BR dengan rasa vanilla coklat di dalam dan topping strawberry di luar sedap kan

Tradisi di kantorku, siapa aja yang ulang tahun mau umur berapa aja tetep lilinnya atau tulisan di kue harus 17. Mungkin supaya tetep berjiwa muda kali ye.

ada tulisan Happy Sweet 17-nya

 

photo duluuu sebelom dimakan kuenyaa

 

Di rumah, setelah pulang aku juga bikin acara tiup lilin bersama enrico donk. Tapi walopun mamanya yang ulang tahun pasti yang tiup lilin tetep rico.

fotonya gelap banget dan cuma ini satu-satunya foto rico karena dia lagi ngambek gak mau difoto

Terima kasih ya buat semua teman-teman yang udah mengucapkan selamat dan mendoakan aku, semoga Tuhan mengabulkan semua doanya dan membalas kebaikan semua teman-teman.

Senangnya menerima begitu banyak doa dan hadiah berikut ini jugaaaaa.

Thanks to BodyShop for the Lemon Citron Shower Gel kalo yang dua itu yaah awak beli sendirilah :D

 

 

 

Dongeng Sebelum Tidur

Sejak kecil, aku dan kakak-kakak serta adikku terbiasa mendengarkan dongeng dari ibu dan ayah kami. Ibu menceritakannya saat menjelang tidur bahkan sampai aku dewasa. Dongeng yang diceritakan ibuku lebih banyak bertema nusantara semisal Bawang Merah dan Bawang Putih, Sangkuriang, Malin Kundang, Batu Bertuah dan masih banyak lagi. Saat aku beranjak remaja dan dewasa dan seiring itu ibuku pun lebih banyak menceritakan cerita bertema religi dari kitab suci yang bukan merupakan dongeng belaka.

Beda dengan ayahku, beliau lebih senang membelikan buku-buku bacaan, mulai dari dongeng HC Andersen yg bentuknya komik, cerita rakyat dalam bentuk komik dan buku, maupun buku-buku ilmu pengetahuan dasar dan biografi untuk anak-anak. Beliau membiasakan kami semua untuk senang membaca dan ibu membiasakan kami semua untuk senang membuat cerita (menulis) karena seringnya mendengar beliau bercerita.

Dari seluruh anak-anaknya yang berjumlah 7 orang tak ada satu pun dari kami yang tak senang membaca dan menulis. Terutama membaca. Rajinnya ayahku membelikan buku cerita, novel, dongeng, majalah anak-anak, koran dan buku-buku ilmu pengetahuan lainnya membuat aku terbiasa dengan bacaan. Tak heran kebiasaan itu terbawa terus sampai kami semua menjadi dewasa. Sampai usiaku 25 tahun, ayahku masih saja berlangganan majalah Bobo di rumah meski usia yg paling muda di rumahku adalah adikku (22 tahun). Kami menyenangi cerita anak-anak, cerita ringan bahkan ilmu pengetahuan yang terlihat sepele di majalah itu menjadi hal yang mengasyikkan untuk dibaca. Ayahku juga tak pernah berhenti untuk membelikan buku-buku cerita termasuk buku dongeng.

Kumpulan Dongeng Hans Christian Andersen yang sangat populer ini adalah buku dongeng terakhir yang dibelikan ayahku saat aku terakhir tinggal di Medan (sekitar tahun 2004). Cerita-ceritanya sangat populer dan sering dicetak ulang baik dalam bentuk kumpulan ataupun dalam bentuk cerita tunggal.
Kemarin, karena toko buku gramedia sedang ultah dan kasi diskon 25% untuk semua buku terbitan mereka yang sangat jarang terjadi, aku pun membeli kumpulan dongeng HC ANdersen dengan sampul yang berbeda

TErnyata setelah dibuka, isinya sama persis seperti buku dongeng yang dibelikan alm ayahku dulu, ada 7 cerita HC Andersen yang sangat populer di dalamnya, termasuk cerita Gadis Korek Api.

Sebelumnya sih aku sengaja membelikan enrico buku dongeng yang dibuat perkisah, dan macam-macam pengarangnya. Ada HC Andersen, Grimm, Perrault dan lainnya, tapi memang aku belum pernah membelikan dia DOngeng Klasik dari negeri sendiri. Entah kenapa dari dulu rasanya dongeng-dongeng nusantara itu kurang bagus cetakannya walaupun ada juga kumpulan dongeng nusantara yang bagus penampilannya. Tapi dibandingkan buku-buku dongeng dari luar, cerita rakyat nusantara seperti kurang menarik dari segi gambar dan penampilannya. Padahal aku ingin sekali memperkenalkan anakku pada kekayaan cerita rakyat yang juga beragam seperti Malin Kundang dan lain-lain itu. Atau aku aja kali ya yang belum nemu bukunya?

Oh iya, mungkin belakangan postinganku banyak yang seperti promosi ya bahkan postingan ini agak mempromosikan event di toko buku pula, tapi beneran koq baik postingan ini, yang sebelum ini bahkan yg sebelumnya lagi itu sama sekali gak dibayar lhooo :D .