Nge-Blog ala Tukang Sampah

Sejujurnya aku termasuk salah satu blogger sekte Panas Dalem, kalo kepala udah panas baru keluar yang di dalem (dalem kepala yaaa jangan mikir daleman laen). Biasanya buat ngademin kepala yang panas ntah itu karena load kerjaan banyak atau lagi sok sibuk ngerusuhin ini itu, maka terciptalah sebuah tulisan entah itu tulisan ecek-ecek kaya sekarang atau tulisan sok serius.

Padahal dulu-dulu kala ketika negara api belumĀ  menyerang, aku bisa update blog tiap hari bahkan pernah sehari 2-3 postingan. Kalau mau jujur-jujuran buat nulis postingan itu kan sebenarnya bukan cuma butuh waktu tapi juga kemauan apalagi buat dolan-dolanan buat blogwalking. Kata kawan-kawan blogger itu sekarang udah mulai jarang deh blogwalking, kata sapa sih? itu di dunia blogger yang adem ayem tentrem masih pada saling kunjung-mengunjungi koq.

Trus ceritanya aku pernah mbaca di sebuah tuitan yang seliweran di timeline dari seorang blogger yang agak seleblog gitu, dia bersabda gini: “Tulisan blogger sekarang itu isinya sebagian product review, sebagian kontes, sisanya nyampah” tapi sumpah aku pun lupa siapa yang ngomong ini dan entah kenapa pula gak kepengen nyoba berkunjung ke blognya.

Kalau memang demikian, postinganku sih bisa dikatakan memang ada yang titipan sponsor, ada pulak yang sok-sok ikutan kontes tapi ya sisanya nyampah donk ya. Balik lagi ke diri yang nulis sih, ada kalanya kita memang harus nyampah, karena ibarat nyurhatin temen, blogging itu kan nulis apa yang terlintas di benak, pikiran, perasaan atau apapun itu. Trus balik lagi ke yang baca, apa iya kalo yang dianggap si seleblog itu sampah belum tentu kan ya buat orang lain juga sampah mungkin bisa didaur ulang gitu toh sekarang lagi jamannya Go Green.

Buat aku sih, membaca postingan blogger ecek-ecek (kaya aku) yang nulis keseharian dan perintilan peristiwa pribadinya lebih menarik daripada membaca postingan serius macam politik apalagi politiknya blogger, yang mana donk yang nyampah?

Udah Jul, ga usah nyampah.

 

[Book Review]: Misteri Anak Jagung

17675545

Judul buku: Misteri Anak Jagung

Penulis: Wylvera W.

Penerbit: PT Penerbit Pelangi Indonesia

Cetakan: Pertama, Januari 2013

Tebal: 197 halaman

Kebanyakan anak-anak pada usia sekolah terutama saat duduk di bangku Sekolah Dasar dan Sekolah Menengah Pertama, memiliki kecenderungan menyukai hal-hal berbau misteri. Mereka selalu ingin mengasah jiwa detektifnya untuk memecahkan berbagai persoalan dan kasus yang berada di sekitarnya.

Kehadiran buku remaja bertema misteri tentu akan diminati banyak remaja seperti serial Lima Sekawan atau Pasukan Mau Tahu yang terkenal itu. Ternyata di Indonesia pun banyak juga penulis lokal yang senang menulis cerita misteri seperti buku ini.

Gantari seorang siswi sekolah dasar di Star Elementary School Urbana, Amerika Serikat. Gantari berasal dari kota Medan Sumatera Utara, namun telah enam bulan menetap di Urbana bersama ayah, ibu dan seorang adik perempuan bernama Eka. Mereka harus mengikuti sang ayah yang tengah mengambil beasiswa pendidikan di sana.

Selama bersekolah di Star Elementary School, Gantari hanya memiliki teman dekat Delia seorang anak perempuan berkerudung yang juga berasal dari Indonesia. Gantari ingin sekali memiliki teman dekat lainnya terutama yang berasal dari Urbana. Sampai suatu hari mereka berdua berkenalan dengan Aldwin, seorang anak anak blasteran Jawa-Inggris. Aldwin tinggal di apartemen yang berdekatan dengan apartemen keluarga Gantari.

Gantari adalah seorang anak istimewa, selain pintar dalam pelajaran di sekolah ia pun memiliki kelebihan khusus yaitu mampu membaca dan melihat apa yang akan terjadi. Karena seringnya kata-kata Gantari benar terjadi, keluarga menjulukinya ‘anak dukun’. Gantari tidak merasa keberatan dengan julukan itu.

Saat di Medan, Gantari sering mendengar kisah tentang Anak Jagung yang diceritakan oleh neneknya. Di rumah mereka di Medan banyak terdapat ladang jagung milik penduduk yang menjadi sumber mata pencaharian keluarga. Gantari sangat penasaran dengan misteri anak jagung tersebut. Ia selalu berpikir bahwa cerita yang dikisahkan neneknya sungguh benar adanya.

Selama kedekatannya dengan Aldwin ia menemukan bahwa temannya itu menyimpan rahasia, terutama tentang Robin yang sering diceritakan Aldwin namun tak pernah dikenalkan wujudnya.

Dalam pencahariannya memecahkan misteri keberadaan anak jagung, Gantari menemukan kenyataan yang mengejutkan tentang kisah persahabatan Aldwin dan Robin bahkan usahanya itu hampir saja merenggut nyawa Gantari dan Aldwin.

Buku yang menarik ini mengangkat cerita setengah tradisional setengah modern dalam perpaduan dua lokasi yang berbeda. Penulis sempat memaparkan bahwa tokohnya heran dengan suasana kota kecil Urbana yang jauh dari bayangannya tentang Amerika Serikat dengan gedung-gedung tinggi. Kenyataannya kota ini sama dengan suasana di kota asalnya di Medan. Meski sempat bingung di daerah mana ya di Medan yang banyak ladang jagungnya?

Beberapa dialog dalam bahasa Inggris adalah kalimat-kalimat sederhana yang tidak sulit dipahami untuk anak usia remaja. Pemecahan misterinya pun cukup sederhana meski cukup mencekam di tengah cerita. Namun penulis dengan cerdik mengakhiri ceritanya pada ending menggantung yang merupakan favorit banyak orang, akankah ada lanjutan dari kisah anak jagung selanjutnya?

 

 

[Book Review]: Katarsis

17786536

Judul: Katarsis

Penulis: Anastasia Aemilia

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

Cetakan: pertama, April 2013

Tebal: 261 halaman

Harga: Rp. 45,000

Tara, seorang gadis dari keluarga Johandi yang menjadi salah satu korban selamat pada perampokan dan pembunuhan sadis di rumah pamannya, Arif Johandi. Ia ditemukan dalam keadaan syok berat tersekap di dalam sebuah kotak perkakas kayu.

Korban lainnya adalah Bara Johandi ayah Tara, Sasi Johandi istri dari Arif Johandi. Sementara itu Moses Johandi yang merupakan anak laki-laki dari Arif dan Sasi ditemukan potongan tubuhnya sebagai korban mutilasi. Saat kejadian ditemukan dua orang yang dicurigai melakukan perampokan dan pembunuhan tersebut Martin dan Andita yang akhirnya ditangkap dan dipenjara.

Tara sejak kecil mengidap sebuah kelainan. Ia membenci nama Tara Johandi yang diberikan oleh kedua orang tuanya Bara dan Tari. Ia pun tak mau memanggil kedua orang tuanya dengan sebutan ayah dan ibu. Tari meninggal saat Tara masih kecil. Ia jatuh dari tangga pada sebuah kecelakaan yang disebabkan leh Tara dan Bara yang tak tahan dengan tingkah Tara yang dianggapnya keterlaluan nakal bahkan agak aneh, akhirnya menitipkan Tara di rumah adiknya Arif Johandi.

Keanehan yang dimiliki Tara tak hanya itu, ia pun mengidap ketergantungan terhadap sebuah koin lima rupiah yang selalu digenggamnya bahkan meninggalkan bekas lingkaran di telapak tangan. Ia mendapatkan koin itu dari seorang anak laki-laki yang ditemuinya di taman bermain. Menurut anak laki-laki itu, kalau sedang merasakan sakit maka ia harus memegang koin itu agar hilang sakitnya.

Keanehan-keanehan Tara menyebabkan Arif dan Sasi membawanya ke seorang psikiater yang membuat Tara mengenal Alfons. Psikiater muda ini dengan telaten melakukan terapi pada Tara dan menganggap bahwa keanehan yang dimiliki Tara hanyalah karena ketergantungannya pada koin lima rupiah itu.

Alfons membawa Tara ke rumah sakit jiwa setelah ia ditemukan dalam kotak perkakas kayu. Ia merawat Tara dan akhirnya membawanya pulang. Saat dalam masa terapi itu muncullah Ello yang ternyata adalah anak laki-laki kecil yang pernah memberikan koin lima rupiah pada Tara di masa lalu.

Sementara polisi menduga bahwa pembunuh sadis yang sebelumnya menyerang keluarga Johandi telah mereka penjarakan, bersama dengan kemunculan Ello ditemukan pula kasus pembunuhan berantai dengan korban yang disekap dalam kotak perkakas kayu dan koin lima rupiah.

Lalu siapakah pembunuh keluarga Johandi yang sebenarnya? Apakah Tara ada hubungannya dengan pembunuhan berantai yang melibatkan kotak perkakas kayu?

***

Gembira rasanya ketika menemukan penulis lokal yang mengangkat tema misteri-thriller karena tak banyak yang bisa menulis dengan tema ini. Tokoh Tara yang unik dan memiliki kelainan jiwa menjadi karakter kuat dalam alur cerita.

Pemaparan cerita dengan alur sangat menarik sehingga kita tak sabar untuk mengetahui siapa dalang di balik pembunuhan yang terjadi.

Namun yang agak kurang dipahami adalah mengapa sang pembunuh memilih kotak perkakas kayu sebagai tempat akhir untuk menyimpan korban-korbannya? Tidak ada latar belakang untuk masalah ini yang dijelaskan di akhir cerita.

Anak Magang

Gegara blogwalking ke tempat si Papah Nh, aku jadi terinspirasi buat bikin postingan tentang anak magang karena kalo dijawab di komennya nanti kepanjangan pulak.

Sebenarnya istilah magang ini hampir sama dengan PKL atau Praktek Kerja Lapangan karena tujuan dari pelaksanaannya adalah penerapan ilmu yang sudah kita terima dari sekolahan. Anak magang itu tak selamanya tamatan SMK tapi juga ada yang selesai kuliah biasanya mereka magang ke tempat-tempat yang memang membutuhkan profesi seperti background pendidikan mereka.

Jadi ceritanya aku pernah magang pada masa akhir kuliah profesi Apoteker. Dengan judul profesi kaya gitu tentu udah kebayanglah aku bakal magang dimana. Rumah sakit, industri farmasi, perusahaan obat, apotek.

Pada saat itu (tahun 2000) mahasiswa tingkat profesi Apoteker sangat sedikit. Angkatanku waktu itu hanya sekitar 21 orang (lupa) dan kami kuliah setiap hari pada jam kuliah normal. Selain beranggotakan teman-teman seangkatan pas kuliah S1 yang tamatnya barengan aku, di kelas kami ada beberapa orang mahasiswa senior yang baru mengambil mata kuliah profesi. Ada juga yang berasal dari universitas lain di luar kota karena pada saat itu program profesi Apoteker hanya ada satu-satunya di Sumatera Utara ya di kampusku itu.

Pada masa akhir perkuliahan itulah kami magang. Setiap mahasiswa mendapat 4 lokasi magang yang berbeda. Aku dapat di apotek tradisional, apotek Kimia Farma sebagai contoh apotek dari perusahaan besar, industri farmasi (waktu itu Kimia Farma juga) dan Rumah Sakit Umum Daerah Adam Malik (yang jauhnya ampun deh dari rumahku).

Pas magang di apotek tradisional ini merupakan masa-masa yang sungguh menekan urat syaraf. pasalnya kami biasa memilih apotek yang dimiliki oleh dosen-dosen di kampus. Meski cuma berlangsung 1 bulan lebih tapi berasa banget gitu jadi anak bawangnya meskipun aku punya pengalaman kerja di apotek sebelumnya.

Di antara keempat lokasi magang yang paling heboh itu di rumah sakit. Di rumah sakit ini kami dibagi dalam 4 kelompok yang masing-masing beranggotakan 4-5 orang. Semua pembimbing baik dari rumah sakit maupun dari kampus sudah ditetapkan bahkan pembagian ruangan pun sudah ditentukan. Aku satu kelompok dengan Philip, Munawaroh dan Lusia. Dosen pembimbing kami adalah Prof Hakim Bangun dan ibu Azizah sementara yang di rumah sakit pembimbingnya lupa aku namanya yang jelas bapak ini juga alumni kampus kami.

Karena kami mendapat lokasi di bagian Saraf, otomatis kasus-kasus yang harus dihadapi adalah seputar itu. Setiap hari kami mengikuti visite (kunjungan) pagi oleh dokter senior yang selalu dibuntuti dokter co-ass masing-masing. Kami boleh ikut mendengarkan tetapi tidak boleh bertanya di tempat, jika ingin diskusi harus membuat jadwal tersendiri.

Herannya pasien yang aku tangani selalu pulang pada hari ke-2 atau ke-3 setelah aku pantau. Jadi harus ganti kasus baru untuk dibuat dalam laporan pribadi masing-masing mahasiswa magang. Kejadian-kejadian selama magang ini pun sungguh berkesan, mulai dari dokter-dokter co-ass yang selalu melarikan diri dari kami yang bawel nanya-nanya “kenapa sih harus kasi obat ini? ngikutin senior ya?” atau “pembengkakan pembuluh darah di otak kenapa dikasi Dexamethason” dan semacam itu. Lalu aku terlibat semacam curi-curi pandang dengan seorang dokter co-ass bernama Budi yang akhirnya ketemu lagi di lain waktu, kasus perempuan berambut panjang yang tiba-tiba hilang dari pandangan padahal pintu keluar ada di sebelah kami, belum lagi salah satu temanku yang harus bawain gorengan buat kepala perawat setiap hari selama kami magang.

Secara keseluruhan, kegiatan magang ini sangat berguna. Semacam uji coba untuk kita ketika menjadi anak sekolahan yang hanya berinteraksi dengan guru/dosen dan teman-teman dan hanya tau lingkungan akademis dan kegiatan-kegiatannya tiba-tiba harus menghadapi dunia kerja, berbagai macam manusia dengan karakter berbeda.

Meski demikian pun suasana magang itu ternyata hanya 10 persen kenyataan hidup. Ketika terjun ke dunia kerja, ternyata lebih buas dari sekedar guru di sekolah yang galak, dosen killer pelupa atau sekedar ujian sarjana.

Selamat menempuh hidup magang!

[Book Review]: The Hunter

17154732

Title: THE HUNTER (Pemburu)

Author: Asa Nonami

Publisher: Gramedia Pustaka Utama

Pages: 536 pages

Started: April 7th, 2013

Finished: April 7th, 2013

Detektif Takako Otomichi adalah seorang opsir polisi perempuan yang sebelumnya berada di divisi polisi lalu lintas sebagai polisi patroli sepeda motor (dengan julukan kadal). Ketika ia meminta pindah ke departemen kriminal, bukan hanya tatapan aneh dari beberapa rekan polisi laki-laki saja yang ia hadapi namun juga dari keluarga dan suaminya yang akhirnya berselingkuh dan ia tinggalkan.

Detektif Otomichi menghadapi sebuah kasus pembunuhan berantai yang sangat rumit di daerah Tachikawa. Mulanya dari satu kasus kebakaran di sebuah restoran keluarga yang menewaskan Teruo Hara, lalu ditemukannya mayat seorang laki-laki dan seorang perempuan yang diduga telah diserang seekor anjing besar di dua lokasi berbeda.

Bila dilihat penyebab-penyebabnya kasus pertama dan kedua sepertinya tidak berkaitan namun ternyata tidak. Kenyataan bahwa tersangka pembunuhan ini kemungkinan adalah seekor anjing serigala membuat kasus yang dihadapi detektif Otomichi begitu menguras pikiran dan tenaganya. Belum lagi partner kerjanya seorang polisi laki-laki senior yang sangat anti dengan perempuan. Otomichi harus menghadapi sikap dingin dan tatapan melecehkan dari detektif Takizawa yang menganggap bahwa profesi itu tak pantas untuk perempuan.

Otomichi yang ditentang sejak awal oleh ibunya menjadi polisi juga harus menghadapi masalah keluarga. Adik perempuannya yang selama ini terlihat kekanakan ternyata mulai berpacaran dengan lelaki beristri. Masalah keluarga dan pribadi yang pelik itu pun harus ditambah dengan pengejarannya bersama team untuk mendapatkan Topan, sang anjing serigala.

***

Buku ini menceritakan dengan sangat detail pemecahan sebuah kasus yang dihadapi oleh seorang detektif. Paparan yang menarik dilataribelakangi emosi dan penggambaran karakter tokoh dengan sangat jelas. Meski pemecahannya sudah diketahui di tengah-tengah buku namun tetap menarik untuk dibaca sampai akhir.

Buku ini juga menggambarkan dengan jelas bahwa perempuan memiliki kekuatan di dalam dirinya untuk berjuang melawan pelecehan sikap dari kaum lelaki meski dalam bentuk terkecil sekalipun. Tokoh Otomichi digambarkan sebagai sosok perempuan yang meski terlihat feminin di luar namun tangguh dalam kenyataannya.