Ibu, Tolong Buatkan Bekal Untukku

Aku memandang ujung sepatu ibuku di bawah meja makan. Hari ini ibu bersepatu coklat dengan ujung metal berwarna keemasan di bagian depan. Sebelum aku mengangkat kepala dan melihat tubuhnya, aku sudah tau pasti ibu sudah berdandan cantik seperti biasa. Tetapi aku selalu penasaran dengan baju kerja yang ibu pakai karena ibu cenderung memakai baju yang berbeda-beda setiap harinya.

Pelan-pelan kuangkat kepala, ibu tengah memegang telepon genggamnya yang lumayan besar itu, dan seperti dugaanku hari ini ibu pun cantik. Bajunya berwarna pink lembut dengan hiasan emas di bagian leher. Ibu memakai anting di kedua telinganya. Cantik sekali ibuku dan selalu terlihat profesional dalam busana kerja.

Aku menunggunya menatapku di seberang meja makan. Kami hanya berdua. Setiap hari begitu saat sarapan. Karena ayahku telah meninggalkan kami sejak usiaku satu tahun. Ibu bekerja keras menghidupi keluarga kecil kami. Setiap harinya ibu berangkat kerja pagi-pagi sekali dan pulangnya setelah magrib. Aku hanya ditemani Mbak Sumi yang menjagaku sekaligus membersihkan rumah dan menyediakan makanan.

Ibu belum juga memandang ke arahku padahal aku belum mau makan sejak tadi. Rasanya aku ingin seperti anak kecil di sinetron yang diambilkan nasinya saat di meja makan oleh ibu. Tapi memang selama ini aku terbiasa menyendok nasi sendiri atau Mbak Sumi yang menyendokkan. Tapi aku diam saja. Padahal sudah hampir jam 7 pagi.

“Fan, kenapa kamu belum makan? Ini sudah jam 7 kurang nanti kamu terlambat,” ibu melirikku dengan ekor matanya.

AKu memandangnya lama-lama tapi tak berani berkata apa-apa. Segera kusendok nasi goreng di dalam mangkok kaca di meja makan. Sedikit saja, lalu telur ceploknya kuletakkan dan mulai makan.

Ibu pun ikut menyendok, tapi sedikit sekali. Ibu memang makannya cuma sedikit-sedikit kalau kata Mbak Sumi sih ibu makan sedikit supaya tetap langsing padahal aku takut kalau ibu sakit. Tapi aku tak berani mengatakan apa-apa.

“Ayo Fan, ibu hari ini ada meeting jam 9 nanti kalau macet ibu bisa telat,” sahut ibu kemudian. Ia sudah selesai makan dan minum jeruk hangat yang setiap pagi memang diminumnya.

Aku segera menyendok suapan terakhir di piringku. Lalu cepat-cepat minum susu supaya ibu tak marah. Sebenarnya ibu tak pernah marah, hanya saja pandangan matanya yang begitu tegas membuat aku selalu tak berani bertingkah macam-macam.

“Mbak Sumiiii,” ibu berteriak memanggil.

Dari arah dapur Mbak Sumi menghampiri, “Ya, Bu.”

Mana bekal sekolah Alfan?

Aku tercekat.

Kemarin aku sempat bilang pada Mbak Sumi tak usah membuatkan bekal sekolahku hari ini karena aku ingin sekali ibu yang membuatkan bekal sekolahku seperti teman-temanku yang lain. Bekal sekolah yang mereka bawa bermacam-macam dan semuanya dibuatkan oleh ibu mereka. Bahkan Bunga pernah membawa bekal nasi yang berwarna-warni bentuk kepala orang yang semuanya dibuat dari sayur-sayuran.

Tapi aku sendiri pun belum bilang pada ibu bahwa aku ingin dibuatkan bekal sekolah hari ini.

“Bu, kata mas Alfan hari ini ibu yang buatkan bekal sekolahnya karena mas Alfan pingin seperti teman-temannya yang dibikinkan bekal sekolah sama ibunya,” Mbak Sumi menjawab lirih. Matanya memandang takut pada ibuku.

Ibuku memang galak pada mbak Sumi jika ia lalai dalam bekerja tapi itu semua biasanya demi kebaikan bersama.

Aku sedari tadi tak mampu bergerak, hanya menunduk dan menatap lantai rumahku. Tak terasa mataku memanas dan air mata jatuh satu-satu. AKu takut sekali. Takut kalau ibu marah karena aku begitu manja.

Suara ketukan sepatu ibu terdengar menuju tempatku berdiri, aku semakin takut apalagi ujung keemasan sepatunya telah begitu dekat di depanku. Aku bersiap dengan kemarahan ibu.

Namun tiba-tiba ia memelukku.

“Alfan, maafin ibu ya sayang,” Ibu menangis sambil memelukku.

AKu tak sanggup bicara apa-apa. Hanya terus menangis sambil membalas pelukan ibu.

 

 

About these ads

7 thoughts on “Ibu, Tolong Buatkan Bekal Untukku

  1. Ah, postingan ini membuat saya merinding mbak :(
    Bersyukur ibu saya ibu eumah tangga seutuhnya, jadi dulu saat sekolah biasa bawain bekal buat saya dari masakannya sendiri :D

  2. Ibu-ibu yang lain nggak kompak nih …
    seharusnya kan mereka juga memasrahkan membuat bekal kepada Mbak-mbak nya saja …
    kalau begini kan anak jadi mencontoh lingkungannnya …

    Itu juga sinertron …
    mestinya digambarkan doooonnggg … kalau yang menyiapkan bekal makanan itu adalah tugas Mbak … kalo digambarkan ibu yang menyiapkan … nanti anak-anak Indonesia menirunya …
    sinetron itu memang kadang-kadang begitu …

    (analogi logikanya dibalik sodara-sodara)(huahahahaha)
    :)

    Salam saya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s