Repost from Julie
Tak hentinya aku memohon dalam hati agar kali ini ia tak mengajakku. Rasanya belum hilang penat seharian kemarin wanita ini membawaku berkelana dari pagi hingga malam.
Bukan tak suka aku menemani tubuhnya. Lekukan kaki dan harum tubuhnya senantiasa merupakan hiburan di sela-sela kelelahanku menapaki jalan-jalan kering beraspal ataupun sisa-sisa air becek selepas hujan.
Biasanya ia memulai kepagian harinya dengan melangkah riang keluar dari pintu rumah kecil ini, melewati jalan setapak sempit di depan teras, melangkah menuju jalanan berpasir dan berkerikil lalu menyeberang ke arah jalan besar beraspal yang tak pernah sepi dengan nyaringnya klakson mobil dan motor.
Yang paling kubenci saat-saat ia membawaku melewati jalan ke arah angkutan umum. Jalanan yang tak bersih sama sekali. Di pojok jalan ada sebongkah tumpukan es bertutup terpal biru yang tentunya membuat jalanan sekitarnya becek, aku selalu melangkahi tempat itu dengan jijik.
Dan bila ia telah mendapat kursi yang nyaman di dalam angkot, aku pun bisa beristirahat sejenak tak perlu melangkah. Kantukku biasanya datang sampai ketika ia mulai membangunkanku untuk melangkah lagi.
Kali ini jalanan yang harus kulalui adalah jalan yang penuh gerobak pedagang makanan, angkot-angkot ngetem dan tukang ojek, membosankan.
Cukup jauh untuk sampai ke perhentian angkot selanjutnya yang harus kami naiki. Tapi biasanya tak lama, karena ia kemudian membawaku menyeberangi jalanan yang lebih ramai dan penuh, masuk ke dalam kompleks perkantoran dengan aspal yang selalu kering, dan kadang-kadang langkahnya lebih cepat karena ia lebih sering terlambat.
Tempat yang ia tuju adalah tempat yang paling kusukai karena tempat ini selalu tenang, dingin dan kering. Meski tak jarang ia membawaku berlari-lari ekcil naik turun tangga. Dan di tempat ini kami biasa berlama-lama hingga hari petang.
Tubuhku telah pulih kembali menemani langkahnya, namun ia tak hirau dengan keadaanku belakangan ini. Aku telah cukup tua menemaninya sejak lima tahun yang lalu.
Dan kemaren selepas magrib, ia membawaku ke tempat banyak teman-temanku yang lain. Ia memilih satu yang tak henti dicobanya kesana kemari lalu membayar dan membawanya pulang.
Pagi ini ia menyentuhku sedikit dengan perasaan sayang, lalu beralih ke kotak biru yang di dalamnya ada sepasang sepatu hitam berhak rendah. Aku sedikit iri ketika melihat ia mengenakannya. Namun mungkin sudah waktunya bagiku untuk beristirahat.
Karena baginya saat ini aku hanyalah sepasang sepatu coklat tua.
Aku mendiami kotak biru itu pada akhirnya.
Dan memejamkan mata.
Untuk sepatu coklat betty barclay-ku
I love u so much
Like this:
From → curhat



HAHAHAHAHAAHHA
apaan siy Jul
kirain apaan tadi
g taunya sepatu tua ya:P
mana gambarnya?
gambarnya dah gak ada nique udah kubuang itu setelah dipikirkan 20 kali hehehhee
Muter-muter jatuhnya ternyata sepatu ,,,hehehehehe
Yahhh…kok dibuang Kak… ^^
kirain “jiwanya” Julie, tapi pas lima tahun menemani, udah mulai curiga,
ternyata sepatu coklat tercinta, bersejarah itu Jul
bahkan sepatu tua juga bisa jadi ‘kotak kenangan’ terindah ya~
kak julieee…miss u so much
sprtinya itu postingan di blogdetik dlu
sepatu coklat yang macam gimana?
coba kalau ada gambarnya…aku kan paling susah klo cari sepatu cewek ;(
nice story
Sepatu coklat itu, masih kuingat
hemm mba jul.. memang demen coklat yoh
..
haha..ternyata tentang sepatu…salam kenal
sudah dapat pengganti yang baru, yang lama bisa jadi koleksi kenangan ya mbak… 8)
Yang lama juga dapat disimpan Mba, dan menjadi koleksi pribadi.
Sukses selalu
Salam
Ejawantah’s Blog
mana fotonyaaaaaaaaaa….
kak Jul, kemaren ngilang kemana? ckckck…
hahahaha….lebay ah…

si sepatu bisa curhat, hihihi….
salam
semoga kamu tenang disana ya sepatu .. hehhe
malam mbak julie,, semoga senang dg sepatu barunya .. heheh
Cara Mbak julie menceritakan, kirain tadi tokohnya cowok, ternyata oh ternyata.. hehe.. Bagus banget pilihan kata katanya.
hehehe lucu ceritanya.. ternayta sepatu ya..
di paragraf keempat baru ngeh kalo ini pasti tentang sepatu hehe.. aku juga suka menjadikan benda2 kesayangan menjadi tokoh dalam cerita hehe..
*kak julie, bukunya gimana?
Oh sepatu coklat, kini boleh beristirahat, setelah menemanimu dalam suka dan duka …
hebat nih mbak, baru ngerti setelah baca sampai akhir. hehe.
Wanita dan sepatu hubungannya memang erat, seperti sahabat yang ga bisa dipisahkan.
hahaha….
sepatu ternyata, tapi mana gambarnya mbak? nanggung postingannya..
Saleum
ternyata kisah sepatu tua, hehee….
saleum dmilano
ALur ceritanya unik dan tak terduga
Ah …
dia lupa menyemprotkan pewangi ke tubuhku …
pewangi yang bisa membuatku semerbak
walau disimpan didalam kotak
salam saya
teman sepanjang masa,,, mengarungi bahtera kehidupan
kirain kisah tentang seorang anak perempuan yang ikutan ibu nya ke pasar, eh ngak tau nya kisah tentang sepatu. salah kira saya
ikut ngeramein aja deh…salam kenal
jalan-jalan di siang hari…..
met siang mbak…
hohoho sepatu.
ga seru kajol, ga ada fotonya
Weeeew. . Bisa aj Mbak buat ceritanya
bagus-bagus cerita nya…….
hehe.., bagus bgt..,
boleh tukar link??
Kakkkkk….dapat sepatu baru ya???
Lagi pingin sepatu baru juga ni…yang warna putih….buat ngantor n jalan2 gitu…hehhehehe
seperti kata kak julie cari donatur dunk
saya selalu suka klo baca cerita-cerita mbak julie.. keren
Waduwh.. Hebat nih, ternyata yg bercerita si sepatu coklat..
hihihihi…..selamat beristirahat sepatu tua..
terimakasih atas pengabdianmu selama ini…
Kak Jul… ini tulisan pas ikutan acaranya Mas Arman itu kan…
berapa kira2 harga sepatunya yach … eman kalau dibuang?
yang dibuang sepatunya apa fotonya heeee ….
ceritanya unik juga ??? endingnya harus lebih mantab
Cerpen yang menarik sekali, Julie
Di awal-awal cerita, kirain tentang sepasang kekasih. Eh … jebul tentang sepatu toh
mantap kak jul kirain apa, ternyata sepatu coklat
yah sayang bgt di buang mbak jul
jgn lupa dicuci dulu jul sebelum disimpan,
Nanti bau jempol lho…
minta satu dong sepatunya
ternyata sepatu yang dibahas ya
sekali kali ditengoklah si cokelat itu