Mengapa Harus Berbeda, Mengapa Harus Luar Biasa?

Berasa bikin tagline iklan layanan masyarakat gitu deh pas bikin judul kaya di atas. Iya. Tapi ini memang serius sih mau ngebahas kenapa harus anti mainstream?

Selain itu ya supaya si Siti kalok lagi maen ke sini gak bosen dengan postingan terakhir yang judulnya statis macam hubungan aku dengan kamu gitu. *dadah-dadah sama Siti* *Kapan kita minum-minum cindi lagi dek?*

Nggak bilangin siapa-siapa kok ini cuma bilangin orang-orang yang mau maju, mau sukses dan mau serius menjalankan apapun bentuk usahanya.

Kenapa harus berbeda? Kenapa harus luar biasa?

Sebab yang biasa saja tak akan meninggalkan kesan dan akan segera dilupakan lalu ditinggalkan.

Contoh kecil nih gosah yang susah-susahlah contohnya.

Misalnya gini, kita punya pacar atau pasangan (ga berani bilang suami atau istri nanti digampar aku). Mula-mula kan si pacar ini sungguh bikin penasaran, mulai dari kepingin tau dia hobinya apa aja, sukanya makan apa, kebiasaan-kebiasaan dia selama sehari penuh, kegiatannya selain sekolah/kerja apa aja, trus sampe suka aliran musik apa.

Ternyata setelah sekian waktu berlalu si pacar atau pasangan kita ini flat gitu aja mulai dari kebiasaannya, ciri-ciri khasnya dan lainnya tuh biasa banget deh. Akan ada perasaan bosan nggak sih? Boong deh kalo bilang pasangannya nggak bosenin walopun orangnya standar dan biasa. Apa yang buat dia nggak bosenin? Ya karena dia berbeda.

Tuh kaaaan.

Samalah dengan itu, suatu produk akan meninggalkan kesan mendalam ketika ia berbeda. Punya unique selling point yang tidak sama dengan produk sejenis.

Jadi kenapa aku tiba-tiba nulis tentang ini?

Iya karena sebagai pelaku usaha dan juga bekerja untuk dunia perdagangan aku merasa perlu membagi hal ini untuk mereka yang ingin menjual sesuatu. Apakah sebuah produk yang dimiliki oleh sebuah brand atau pun personal branding untuk orang itu sendiri.

Jadi jangan takut untuk berbeda ya selama itu memang luar biasa.

*dadah dadah sama Ariel

Menentukan Tema Blog

Tenaaang, ini bukan postingan yang seserius itu kok. Kalau mau yang serius mending mikirin hubungan kita deh -____-.

Entah kenapa aku lagi kepikiran dengan blog-blog bertema. Misalnya blog yang khusus membahas tentang resep-resep masakan slurpee, atau blog bertema fashion, travelling pun bisa dijadikan tema bahkan blog bertema fiksi. Banyak macam blog bertema yang bisa ditemukan di dunia.

Sebenarnya dulu kala sebelum negara api menyerang, blog ini aku buat dengan rencana bertema farmasi dan ditulis dalam bahasa Inggris. Tapi ya gitu lama-lama ngawur jadi nggak bertema, suka-suka aja bahkan dalam cara penulisannya pun makin lama makin suka ati yang punya aja.

Blog bertema itu bagus dan bahkan bagus banget ketika begitu banyak pelaku internet yang membutuhkan informasi komplit. Misalnya nih, aku kepingin masak semur ayam tapi aku nggak tau bumbunya semur itu apa aja. Walaupun sebenarnya bumbu semur ayam itu gampang:

1. Ayam 1 ekor

2. Bumbu semur instant

kesemuanya itu dibelilah di karfur atau hypermart atau sejenisnya.

Gampang kan?

Tapi ya gak gitu. Aku kan kepingin tau misalnya bawang putihnya berapa siung, pake jahe atau nggak, batang sereh dikeprek atau nggak, kecapnya berapa banyak, ayamnya dimasukin kapan?

Untuk mendapatkan informasi sedetail itu dibutuhkan blog dengan tema masakan tapi sebelum menuju blog tersebut sebaiknya makan dulu.

Beberapa blogger yang kukenal dengan tema itu ada mas Indriyanto, ibu desi fitri, kakakku sendiri trus keknya si Lies surya juga udah mulai rajin masak itu tapi entahlah dia nulis di blog apa gak?

Tapi buat orang yang semoody aku ini susah rasanya untuk konsisten menulis blog dalam satu tema. Paling nggak aku mendua di blog ini. Nanti aku pengen membuat blog ini dengan 2 tema. Yang satu bisa nulis konsisten satu tema dan lainnya bisa suka-suka kapan aja pengen gosipin orang, gosipin makanan, gosipin baju atau gosipin apapun bisa.

Yang jelas niat menulisnya dulu ajalah semoga dikembalikan lagi ke tempat yang benar.

 

Being A Mom

Oh so many years ga nulis di sini. Lebay.

Dan tiba-tiba saja tampilan dasbornya udah kaya gini. Kaya gini lhoooo *nunjuk-nunjuk layar*.

Jadi ceritanya nih aku lagi kepingin nulis tentang sesuatu (bukan syahrini) yang berhubungan dengan ibu. Entah kenapa beberapa hari ini lihat di fb ada yang share tentang ibu bekerja yang diceng-in sama temennya yang jadi ibu rumah tangga (istilahnya Full Time Mom). Sama-sama nyolot sih si temen yang kerja ini dengan soknya bilangin apa gak bosen di rumah aja ngurus anak padahal dia sarjana trus si temennya yang ibu rumah tangga bilang bahwa justru anaknya lebih beruntung karena diasuh sama sarjana daripada anaknya dia yg diasuh cuma sama tamatan SD.

Tulisan ini diciptakan bukan karena aku mau ngebelain ibu-ibu yang bekerja sebab ya udah pastilah aku ibu bekerja kalo gak mau makan apa anakku. Jadi aku bikin postingan ini lebih kepada kita harus saling memahami kenapa seorang ibu memilih untuk bekerja?

Ada banyak alasan seorang perempuan yang bersuami dan punya anak memilih untuk bekerja:

1. Harus ikut bekerja karena penghasilan suami dirasa tidak cukup

2. Harus bekerja karena suami tidak bekerja

3. Merasa harus bekerja karena memiliki kemampuan

4. Merasa harus bekerja karena ingin belajar bagaimana suasana bekerja dengan tujuan suatu hari akan menjadi pengusaha

5. Merasa harus bekerja karena ingin berkarir

 

Dan sudah pasti seorang perempuan yang tidak bersuami tapi memiliki anak memilih untuk bekerja:

1. Penghasilan satu-satunya adalah dari sang ibu

2. Meskipun mantan suami memberikan sebagian penghasilannya untuk anak mereka tetapi ada persiapan dari sang ibu untuk memiliki penghasilan just in case kalau si mantan suami ini tidak bertanggung jawab

 

Sebagai seorang ibu bekerja dan punya latar belakang pendidikan yang sangat mungkin untuk dikembangkan, aku terlahir dari seorang ibu bekerja dengan 7 orang anak yang suaminya pun bekerja. Kami semua dibekali pendidikan sampai tingkat universitas dengan tujuan supaya bisa menguasai bidang keahlian yang bisa digunakan untuk masa depan. Sejak kuliah aku terbiasa kerja freelance karena merasa kegiatan kuliah dan praktikum masih kurang untuk menghabiskan energi dan begitu lulus langsung deh kerja beneran. Ternyata setelah menikah pesan alm ibuku cuma satu, jangan pernah berhenti kerja selama kamu masih produktif. Aku tanya sih kenapa? Lalu jawaban ibuku simple aja, bahwa kita nggak akan tau umur kita sampai berapa demikian juga dengan pasangan kita. Jadi itu buat preparasi aja ketika satu hilang maka masih ada yang menopang. Bukan berarti mendoakan pasangan cepat mati. Enggaklah. Cuma ketika masih muda, kuat dan produktif, kenapa kita nggak bekerja mengumpulkan ilmu (dan uang) untuk modal di masa depan, right? Tapi buat yang suaminya kaya ya gak apa-apalah nggak kerja :D.

Jadi semua orang punya alasan masing-masing kenapa dia jadi IRT kenapa dia jadi ibu bekerja. Jadi gak usah saling menyalahkan dan merasa lebih benar. Jujur ajalah ibu-ibu rumah tangga yang di rumah seharian ngurus anak pasti dalam hatinya iri juga kan lihat ibu-ibu bekerja yang bisa keluar rumah dan jalan sana-sini. Tapi coba tanya aja ibu bekerja itu (termasuk aku) pasti dia juga iri lho sama ibu-ibu yang di rumah aja (ngabisin duit suami) bisa ngurusin anak dan rumah. Semua nggak ada yang sempurna.

Trus, gak semua pengasuh anak itu lulusan SD kok. Pengasuh anakku itu lulusan D1 ^^. Dan nggak setuju banget dengan istilah Full Time Mom karena gak ada ibu-ibu yang Half Time.

Ketika kita melahirkan seorang anak, exactly kita pun telah menjadi FULL TIME MOM bahkan in the rest of your life.

 

 

Aku Tak Bisa Menulis

aku tak bisa menulis

jadi cukup gambar-gambar saja

serpihan lara

sayatan luka

melebam di sekujur sayapku

tak mampu terbang pula

sebab retakannya begitu sulit merekat

 

aku tak mampu menulis cinta

jadi cukup gambar-gambar saja

hatiku mengkerut marah

pada sesiapa yang menulikan lembaran telinga

berdesakan memberat perihnya

 

lalu aku tak bisa menulis